Produksi Cabai Rawit Menurun, Penelitian di Gowa Ungkap “Masalahnya Bukan di Petani, Tapi di Lahan”

banner 325x300

Oleh Dr. Amir Tjoneng

GOWA, NALAREMDIA —  Cabai rawit adalah komoditas yang sangat dekat dengan dapur masyarakat, namun produksi di Sulawesi Selatan sempat menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun. Menjawab tantangan itu, sebuah penelitian dari Fakultas Pertanian Universitas Muslim Indonesia (UMI) menyoroti satu hal penting: penurunan produktivitas bisa terjadi bukan semata karena teknis budidaya, melainkan karena lahan yang belum dikelola sesuai kebutuhannya.

Dalam penelitian yang berfokus di Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Gowa, tim peneliti mengevaluasi kesesuaian lahan untuk pengembangan cabai rawit. Hasilnya, pada kondisi aktual, lahan di berbagai unit yang diamati masuk kategori sesuai marginal (S3n). Kondisi ini menggambarkan bahwa lahan masih memungkinkan untuk budidaya cabai rawit, tetapi terdapat pembatas yang membuat hasil panen tidak maksimal jika dibiarkan tanpa perbaikan.

Faktor pembatas utama yang ditemukan berkaitan dengan unsur hara tersedia, khususnya nitrogen (N-total), fosfor (P₂O₅), dan kalium (K₂O). Ketiga unsur ini sangat menentukan pertumbuhan cabai—mulai dari kekuatan tanaman, pembentukan bunga, hingga kualitas dan kuantitas buah. Ketika unsur hara ini rendah, tanaman berpotensi tumbuh lambat, kurang subur, dan hasil panen menurun.

Penelitian ini juga menyampaikan solusi yang terukur: jika lahan diberikan perlakuan perbaikan melalui pemupukan berimbang (penambahan N, P, dan K) serta penanganan kondisi kimia tanah seperti pH (misalnya melalui pengapuran atau penyesuaian tertentu), maka kesesuaian lahan potensial dapat meningkat menjadi sangat sesuai (S1). Dengan kata lain, Tompobulu punya “modal alam”, tinggal diperkuat dengan pengelolaan berbasis hasil uji tanah.

Secara metodologis, studi ini memadukan data iklim beberapa tahun, peta penggunaan lahan/lereng/jenis tanah, observasi lapangan, hingga analisis laboratorium. Temuannya memberi pesan kuat: kebijakan peningkatan produksi cabai rawit sebaiknya tidak hanya fokus pada benih dan pola tanam, tetapi juga pada intervensi kesuburan tanah yang spesifik lokasi (site-specific).(rls/red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *