MAKASSAR , NALARMEDIA — Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali menunjukkan langkah progresif dalam pembinaan kewirausahaan mahasiswa dengan memulai persiapan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026 sejak awal tahun. Melalui sosialisasi strategis di Aula Hidjaz Fakultas Hukum UMI, Kamis (12/02/2026), kampus ini menargetkan proposal usaha mahasiswa yang tidak hanya lolos seleksi nasional, tetapi benar-benar siap didanai dan berdampak.
Rektor UMI Prof. Dr. H. Hambali Thalib, SH., MH., menegaskan bahwa orientasi UMI bukan sekadar partisipasi.
“Kami tidak ingin mahasiswa hanya lolos proposal. Kami ingin mereka lahir sebagai entrepreneur berdampak yang membangun ekosistem ekonomi baru,” tegas Hambali.
Pernyataan tersebut memperlihatkan arah tegas UMI dalam membangun generasi mahasiswa yang mandiri dan visioner—sejalan dengan transformasi kampus menuju Catur Dharma Perguruan Tinggi dan penguatan ekosistem kewirausahaan berbasis dampak.
Hadirkan Juri Nasional, Buka ‘Kacamata Penilai’
UMI menghadirkan dua juri nasional P2MW Kemendikbudristek sekaligus penulis Panduan SIMKATMAWA 2025, Munawir Nasir, SE., MM. dan Lilis Nur Hayati, S.Kom., M.Eng.
Pendekatan ini memberi mahasiswa akses langsung terhadap perspektif penilai nasional—mulai dari validasi model bisnis, potensi pasar, keberlanjutan usaha, hingga proyeksi dampak ekonomi dan sosial.
UMI secara sadar membangun strategi berbasis kualitas substansi, bukan sekadar kelengkapan administrasi.
Target: Proposal Siap Didanai, Usaha Siap Tumbuh
Wakil Rektor III UMI, Hj. Nurfadillah Mappaselleng, SH., MH., Ph.D., menegaskan bahwa P2MW merupakan jalur strategis prestasi mahasiswa yang harus dipersiapkan lebih awal.
“Tahun lalu kita meraih capaian membanggakan. Tahun ini kita mulai lebih awal agar kualitas proposal naik kelas dan dampaknya lebih luas,” ujarnya.
Langkah ini mencerminkan manajemen kemahasiswaan UMI yang terstruktur, terukur, dan terintegrasi dengan RAT berbasis IKU serta roadmap peningkatan prestasi nasional.
UMI Bangun Ekosistem, Bukan Sekadar Kompetisi
UMI menegaskan bahwa kewirausahaan mahasiswa bukan agenda musiman, tetapi bagian dari gerakan institusional membangun kampus berdampak.
Sebagai kampus terakreditasi Unggul dua periode dan PTS dengan Guru Besar terbanyak di Indonesia, UMI menempatkan kewirausahaan sebagai bagian dari strategi pembentukan karakter dan kemandirian mahasiswa.
Rektor UMI menambahkan:
“Mahasiswa tidak boleh hanya bercita-cita menjadi pegawai. Mereka harus berani menjadi pencipta nilai dan pembuka lapangan kerja.”
Pendampingan dilakukan lintas fakultas, melibatkan dosen pembimbing, alumni P2MW, dan tim Biro Administrasi Kemahasiswaan dan Alumni (BAKA) untuk memastikan kesinambungan dari tahap proposal hingga implementasi usaha.
Kampus Ilmu, Ibadah, dan Dampak Ekonomi
Langkah agresif UMI mempersiapkan P2MW 2026 memperlihatkan pola gerak kampus yang konsisten dan visioner. Transformasi menuju kampus digital dan Catur Dharma bukan hanya retorika, tetapi diterjemahkan dalam program konkret yang menyentuh masa depan mahasiswa.
Di tengah kompetisi nasional, UMI menegaskan posisinya sebagai kampus perjuangan dan pengabdian yang tidak hanya melahirkan sarjana, tetapi membangun generasi entrepreneur berkarakter.
Bagi UMI, keberhasilan proposal hanyalah awal.
Dampak ekonomi dan keberlanjutan usaha adalah tujuan. (rls/red).















