Mendikdasmen RI Prof. Abdul Mu’ti Hadiri Syawalan Muhammadiyah Sulsel, Tekankan Pentingnya Persatuan

banner 325x300

MAKASSAR, NALARMEDIA  Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed., menghadiri acara Silaturahim Syawalan 1447 Hijriah yang digelar oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan pada Sabtu pagi (28/03/2026).

Acara yang berlangsung di Halaman Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan ini menjadi momentum penting bagi warga Persyarikatan Muhammadiyah di Sulawesi Selatan.

Dalam penyampaiannya, Prof. Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa kegiatan halalbihalal ini merupakan tradisi rutin yang dilakukan Muhammadiyah secara berjenjang di seluruh Indonesia.

“Silaturahim halalbihalal ini merupakan kegiatan yang rutin diselenggarakan oleh Persyarikatan Muhammadiyah di semua tingkatan. Dua hari yang lalu diselenggarakan di PP Muhammadiyah Jogja, kemudian nanti hari Selasa tanggal 31 Maret di PP Muhammadiyah Jakarta dan juga di berbagai wilayah di seluruh Indonesia,” ujar Mendikdasmen tersebut.

Menurutnya, esensi dari pertemuan ini adalah untuk memperkuat jalinan kerukunan dan persatuan bangsa setelah menunaikan ibadah di bulan suci Ramadan.

“Tujuannya adalah untuk kita membangun semangat kerukunan, semangat persatuan, dan juga usaha untuk kita bisa lebih baik lagi setelah selama satu bulan menunaikan ibadah Ramadan,” tambah Prof. Abdul Mu’ti.

Sebagai tokoh nasional sekaligus menteri, beliau juga menggarisbawahi bahwa kekuatan Indonesia dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa terletak pada kolaborasi antar berbagai pihak, baik internal maupun eksternal organisasi.

“Silaturahim ini juga menjadi sarana untuk kita membangun kekuatan dengan berbagai pihak, tidak hanya internal Muhammadiyah, tapi juga dengan berbagai pihak karena kita akan semakin bisa bertahan dan bisa mengatasi berbagai persoalan kalau kita memperkuat persatuan,” tegasnya.

Hadirnya Mendikdasmen dalam acara ini memberikan motivasi tersendiri bagi para pengurus dan kader di daerah untuk terus berkontribusi dalam membangun generasi bangsa yang lebih baik melalui jalur pendidikan dan dakwah

Sementara Ketua PWM Sulsel Prof Ambo Asse sejak awal menegaskan bahwa Syawalan bukan rutinitas tahunan belaka. Baginya, forum itu adalah silaturahmi yang dimaksudkan untuk saling memberi semangat dalam menggerakkan persyarikatan dan amal usaha.

Pernyataan itu memberi konteks penting: kebersamaan yang dirawat dalam Syawal diharapkan berlanjut menjadi energi untuk membangun sekolah, rumah sakit, pesantren, pusat dakwah, hingga infrastruktur organisasi yang sedang dikembangkan Muhammadiyah Sulsel.

Di situlah letak kedalaman Syawalan tahun ini. Ia tidak hadir sebagai forum yang sepenuhnya ringan, tetapi juga tidak jatuh menjadi mimbar yang kaku.

Melalui gaya tutur yang cair, jenaka, dan akrab, Abdul Mu’ti menyampaikan satu tesis yang sesungguhnya serius: umat Islam tidak mungkin menghapus perbedaan, tetapi dapat memilih untuk memuliakan persaudaraan di atas perbedaan itu.

Bila dibaca dari sudut itu, Syawalan Muhammadiyah Sulsel tahun ini bukan semata perayaan setelah Ramadhan.

Ia adalah panggung moderasi yang memperlihatkan bahwa kedewasaan beragama bukan ditentukan oleh hilangnya perbedaan, melainkan oleh kemampuan untuk menjaganya tetap berada dalam batas adab, akal sehat, dan komitmen terhadap persaudaraan. (rls/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *