MAKASSAR, NALAREMDIA — Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali menegaskan perannya sebagai kampus rujukan di kawasan timur Indonesia dengan menerima kunjungan silaturahmi pimpinan perguruan tinggi lingkup LLDIKTI Wilayah XIV di Smart Classroom Lantai 6 Menara UMI, Rabu (11/02/2026).
Pertemuan berlangsung hangat dan produktif, menjadi ruang dialog strategis untuk memperkuat jejaring kerja sama perguruan tinggi di Indonesia Timur, khususnya dalam peningkatan mutu, riset, dan pengembangan sumber daya dosen.
Rombongan dipimpin perwakilan Kepala LLDIKTI Wilayah XIV, yang juga Rektor Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong, Dr. Rustamadji, M.Si., dan disambut langsung oleh Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI Prof. Dr. H. Mansyur Ramly, S.E., M.Si., Ketua Pengurus YW-UMI Prof. Dr. Hj. Masrurah Mokhtar, M.A., serta Rektor UMI Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., didampingi jajaran Senat Akademik UMI.
Rektor UMI: Perguruan Tinggi Diukur dari Dampaknya, Bukan Gedungnya
Dalam sambutannya, Rektor UMI Prof. Hambali Thalib menegaskan komitmen UMI untuk berdiri sejajar dan berjalan bersama perguruan tinggi di Indonesia Timur.
“Perguruan tinggi tidak diukur dari besarnya gedung, melainkan dari besarnya dampak bagi manusia dan wilayahnya,” tegasnya.
Rektor menyampaikan bahwa UMI, yang berdiri sejak 23 Juni 1954 dan kini memasuki usia 72 tahun, tumbuh dengan nilai-nilai Islam yang memuliakan manusia, merangkul perbedaan, serta mendorong kolaborasi lintas wilayah.
Menurutnya, Indonesia Timur—termasuk Papua—bukanlah pinggiran pembangunan pendidikan, melainkan ruang strategis tumbuhnya masa depan Indonesia.
“UMI tidak hadir untuk merasa lebih tinggi, tetapi siap berdiri sejajar dan berjalan bersama. Kami ingin menjadi kampus rujukan untuk menguatkan ekosistem PTS Indonesia Timur secara kolektif,” ujarnya.
UMI: Kampus Akreditasi Unggul dengan Profesor Terbanyak di PTS Indonesia
Dalam forum tersebut, Rektor juga memaparkan capaian akademik UMI. Saat ini, UMI telah meraih Akreditasi Unggul selama dua periode berturut-turut, dan menjadi salah satu kampus di luar Pulau Jawa—baik PTN maupun PTS—yang berhasil mencapai status tersebut.
UMI memiliki:
• 13 Fakultas dan Pascasarjana
• 67 Program Studi (Sarjana, Profesi, Magister, Spesialis Kedokteran, hingga Doktor)
• Sekitar 23.000 mahasiswa aktif
• Lebih dari 150.000 alumni
• 1.084 dosen, dengan 118 Guru Besar/Profesor
(tercatat sebagai PTS dengan jumlah profesor terbanyak di Indonesia)
Khusus Pascasarjana, UMI mengelola 19 program studi, terdiri dari:
• 6 Program Doktor (S3): Ilmu Manajemen, Ilmu Hukum, Ilmu Perikanan, Kesehatan Masyarakat, Manajemen Pendidikan Islam, dan Ilmu Akuntansi
• 13 Program Magister (S2)
Dalam waktu dekat, UMI juga akan membuka S3 Teknik Sipil, S3 Teknik Kimia, S2 Kenotariatan, S2 Biomedik, serta menyiapkan tiga program spesialis kedokteran: Bedah, Mata, dan Anestesi.
Tiga Pilar Kolaborasi Strategis untuk PTS Indonesia Timur
Dalam forum tersebut, UMI menawarkan tiga skema kerja sama utama yang dirancang berbasis kebutuhan wilayah dan penguatan kelembagaan:
1. Pendampingan Akademik & Tata Kelola
Meliputi penguatan akreditasi, sistem penjaminan mutu, tata kelola keuangan, pengembangan SDM, serta digitalisasi kampus.
2. Kolaborasi Riset Berbasis Wilayah
Menempatkan Papua dan Indonesia Timur sebagai mitra setara dalam pengembangan riset terapan yang berdampak langsung pada masyarakat.
3. Skema Studi Lanjut Dosen PTS Indonesia Timur
UMI membuka skema khusus Pascasarjana yang fleksibel, humanis, dan terstruktur bagi dosen dan calon dosen PTS, khususnya dari Papua.
Skema ini dirancang untuk memastikan para dosen tidak hanya memperoleh gelar akademik, tetapi kembali sebagai pemimpin akademik dan agen perubahan di kampus masing-masing.
Pendekatan tersebut sejalan dengan visi UMI sebagai kampus berbasis riset dan pengembangan doktoral yang berorientasi pada keberlanjutan mutu.
LLDIKTI XIV: Dorong Akreditasi Unggul & Sinergi Tridharma
Dr. Rustamadji menyampaikan bahwa kunjungan ini bertujuan memperkuat sinergi pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi dan mendorong peningkatan akreditasi kelembagaan.
“Kami membawa teman-teman agar dapat juga terakreditasi Unggul sebagaimana UMI dan Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong. Kami berharap dapat bersinergi dalam pelaksanaan Tridharma,” ujarnya.
YW-UMI: Pendidikan Karakter & Caturdharma
Ketua Pengurus YW-UMI Prof. Masrurah Mokhtar menegaskan bahwa tata kelola UMI ditopang struktur yayasan yang kuat dan sistem kepemimpinan kolektif dengan lima wakil rektor.
Ia menekankan bahwa UMI mengusung konsep Caturdharma Perguruan Tinggi, dengan penekanan pada pendidikan karakter (akhlakul karimah) sebagai fondasi ekosistem akademik.
Sementara itu, Ketua Pembina YW-UMI Prof. Mansyur Ramly mengingatkan pentingnya kolaborasi lintas wilayah.
“UMI berprinsip saling membantu antarperguruan tinggi. Kita ditakdirkan untuk saling menguatkan,” tuturnya.
UMI: Rumah Inklusif bagi Indonesia Timur
Pertemuan ini tidak hanya memperkuat silaturahmi antarperguruan tinggi, tetapi juga menegaskan komitmen UMI sebagai kampus berciri Islam yang inklusif dan terbuka bagi seluruh masyarakat Indonesia Timur.
Bagi calon mahasiswa dan orang tua, kolaborasi ini menunjukkan bahwa UMI bukan hanya kampus berakreditasi unggul, tetapi juga pusat pengembangan riset, doktoral, dan jaringan akademik nasional yang kuat.
Dengan semangat kolaborasi, UMI menegaskan posisinya sebagai salah satu poros pendidikan tinggi swasta unggul di Indonesia Timur yang siap mengawal mutu, riset, dan pengembangan SDM masa depan. (rls/red).















