Oleh : Dr. Amir Tjoneng
GOWA, NALARMEDIA — Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Gowa, disebut memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya cabai rawit. Hasil penelitian tim Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muslim Indonesia (UMI) menunjukkan, sebagian besar lahan di wilayah ini sebenarnya sangat cocok untuk cabai rawit, asalkan dilakukan perbaikan pengelolaan tanah pada faktor-faktor pembatas utamanya.
Dalam kajian evaluasi kesesuaian lahan, peneliti menilai tingkat kesesuaian lahan aktual (kondisi saat ini) dan kesesuaian lahan potensial (setelah dilakukan perbaikan). Temuan utamanya: seluruh satuan lahan yang diamati berada pada kategori “sesuai marginal” (S3n) pada kondisi aktual. Artinya, cabai rawit masih bisa ditanam, namun produktivitasnya belum optimal karena terkendala kondisi lahan tertentu.
Kendala terbesar yang ditemukan adalah ketersediaan unsur hara—terutama N-total, P₂O₅, dan K₂O—yang berperan penting dalam pertumbuhan vegetatif, pembungaan, hingga pembentukan buah cabai. Penelitian juga menekankan perlunya perhatian pada aspek kimia tanah seperti pH, karena dapat memengaruhi serapan hara.
Kabar baiknya, setelah dilakukan “skenario perbaikan” melalui rekomendasi pemupukan (misalnya penambahan unsur N, P, dan K), kesesuaian lahan potensial di Tompobulu dapat meningkat menjadi “sangat sesuai” (S1). Ini berarti, dengan intervensi budidaya yang tepat, lahan-lahan tersebut berpeluang menghasilkan cabai rawit dengan produktivitas yang lebih tinggi dan berkelanjutan.
Studi ini dilakukan melalui metode survei lapangan, analisis laboratorium tanah, serta pencocokan karakteristik lahan menggunakan pendekatan evaluasi kesesuaian lahan berbasis metode FAO yang telah dimodifikasi. Hasilnya diharapkan bisa menjadi rujukan bagi petani, penyuluh, dan pemangku kebijakan untuk menyusun strategi peningkatan produksi cabai rawit di Gowa, termasuk penguatan program pemupukan berimbang dan pengelolaan lahan berbasis data. (rls/red).















