Munafri dan Aliyah Hadiri Prosesi Penurunan Bendera di Karebosi

TIM GASTA tampil dengan formasi Stupa Candi Borobudur dalam prosesi khidmat HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Makassar.

banner 325x300

NalarMedia.id, MAKASSAR – Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin bersama Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham menghadiri prosesi penurunan bendera Merah Putih di Lapangan Karebosi, Makassar, dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Prosesi penurunan bendera Merah Putih menjadi salah satu rangkaian sakral dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Momen ini menandai berakhirnya upacara peringatan pada sore hari sekaligus menjadi simbol penghormatan terhadap bendera negara dan perjuangan para pahlawan. Kehadiran Munafri dan Aliyah bersama-sama juga mencerminkan kekompakan Pemerintah Kota Makassar dalam mengikuti rangkaian peringatan tersebut.

Pada prosesi sore itu, tugas menurunkan Sang Merah Putih dipercayakan kepada tim pasukan yang berbeda dari petugas pengibaran bendera pada pagi hari, yakni TIM GASTA.

Tim ini tampil dengan mengusung konsep formasi Stupa Candi Borobudur. Formasi tersebut tidak hanya mengedepankan ketepatan gerak dan kedisiplinan barisan, tetapi juga mengandung pesan filosofis tentang ketenangan, kewibawaan, keheningan, fokus, dan keanggunan dalam menjalankan tugas.

Filosofi Stupa Candi Borobudur menjadi pesan tersendiri dalam prosesi penurunan Sang Merah Putih. Kekuatan sejati tidak selalu ditunjukkan melalui gerakan keras atau penuh tekanan. Kekuatan juga dapat terpancar melalui ketenangan, keteguhan, kewibawaan, fokus, dan ketepatan dalam setiap langkah.

Nilai-nilai tersebut tercermin dalam penampilan TIM GASTA yang menjalankan setiap tahapan prosesi secara terukur dan penuh konsentrasi. Setiap anggota pasukan menjalankan tugas dan menempati posisi masing-masing untuk memastikan bendera Merah Putih diturunkan dengan sempurna.

Dalam prosesi tersebut, posisi Komandan Kelompok 17 dipercayakan kepada Sufi Andara Paradifa Rahman, siswi SMA Negeri 10 Makassar. Sementara itu, posisi Pembawa Baki dipercayakan kepada Stefany dari SMA Negeri 18 Makassar.

Untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan selama pelaksanaan tugas, posisi Cadangan Pembawa Baki dipercayakan kepada Cindy Claudia Putri Sarungu dari SMA Negeri 7 Makassar.

Pada posisi Komandan Kelompok 8, tugas tersebut dipercayakan kepada Sintong Rezky Pratama Yusman dari SMA Negeri 1 Makassar. Adapun tugas sebagai Pelipat Bendera dijalankan oleh Alviano Fitra Suliano dari SMAS Hang Tuah Makassar.

Sementara itu, posisi Penggerek Bendera dipercayakan kepada Muhammad Fadhil Kamaru dari MAS IMMIM Putra Makassar.

Melengkapi formasi Kelompok 8, tiga anggota bertugas sebagai Serpihan Kelompok 8, yaitu Weryn Heveny Kombong dari SMA Katolik Rajawali Makassar, Firyal Luthfiyah dari SMAIT Darul Fikri Makassar, serta Selfi Nawawi N. dari Sekolah Rakyat Menengah Atas 39 Makassar.

Kehadiran para pelajar dari berbagai sekolah di Kota Makassar menjadi bagian penting dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Mereka tidak hanya menjalankan tugas seremonial, tetapi juga menjadi representasi generasi muda yang dipercaya mengemban amanah dalam momentum kenegaraan.

Di hadapan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin dan Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham, seluruh anggota TIM GASTA menjalankan tugas dengan penuh disiplin dan tanggung jawab.

Prosesi berlangsung khidmat. Ketika Sang Merah Putih perlahan diturunkan dari tiang bendera, suasana Lapangan Karebosi semakin hening. Seluruh peserta upacara memberikan penghormatan sebagai bentuk penghargaan terhadap simbol negara dan perjuangan para pahlawan yang telah mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan.

Bagi Pemerintah Kota Makassar, rangkaian peringatan HUT ke-81 RI tidak sekadar menjadi agenda tahunan. Momentum ini juga menjadi kesempatan untuk menanamkan kembali nilai patriotisme, persatuan, kedisiplinan, serta semangat kebangsaan kepada generasi muda.

Penampilan TIM GASTA melalui formasi Stupa Candi Borobudur menjadi bagian dari pesan tersebut. Bentuk stupa yang identik dengan warisan peradaban Indonesia dipadukan dengan ketepatan gerak para anggota pasukan, menciptakan simbol kekuatan bangsa yang dibangun melalui ketenangan, kebersamaan, keteguhan, dan keseimbangan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *