MAKASSAR, NALARMEDIA— Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI), Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., mengingatkan pentingnya menjaga kemampuan berpikir kritis, kesantunan berbahasa, dan identitas budaya di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Pesan tersebut disampaikan dalam sambutannya pada Peringatan Bulan Bahasa 2026 yang diselenggarakan Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) UMI, Senin (19/10/2026), di Aula teleconference, FK lt5 Kampus UMI Makassar.
Kegiatan yang mengangkat tema “Menggali Esensi Bahasa, Sastra, dan Budaya di Tengah Arus Percepatan Digital dan Krisis Refleksi” ini menghadirkan akademisi, praktisi kebahasaan, sastrawan, serta mitra dari dalam dan luar negeri.
Dalam sambutannya, Rektor UMI menegaskan bahwa kemajuan teknologi telah memberikan kemudahan bagi manusia untuk menulis, berbicara, dan menyebarkan informasi. Namun, kemudahan tersebut harus diimbangi dengan kematangan berpikir dan tanggung jawab dalam berkomunikasi.
“Jangan sampai kita menjadi generasi yang cepat berbicara, tetapi kurang mendengarkan. Cepat bereaksi, tetapi kurang berpikir. Cepat menyebarkan informasi, tetapi tidak cukup memeriksa kebenarannya,” tegas Rektor UMI.
Menurutnya, kemampuan berbahasa tidak cukup hanya diukur dari kefasihan berbicara atau banyaknya kosakata yang dikuasai seseorang, tetapi juga dari kesantunan, ketepatan, dan tanggung jawab dalam menggunakan bahasa.
Rektor menekankan bahwa bahasa merupakan bagian penting dari cara manusia berpikir, sedangkan budaya menjadi identitas yang harus terus dijaga di tengah perubahan zaman.
“Bahasa adalah cara kita berpikir. Budaya adalah identitas yang kita jaga. Dan refleksi adalah kemampuan kita untuk memahami makna dari setiap kemajuan,” ungkapnya.
Rektor: AI Harus Memperluas Literasi, Bukan Menggantikan Proses Berpikir
Lebih lanjut, Prof. Hambali mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan teknologi digital dan kecerdasan buatan sebagai sarana pengembangan literasi, kreativitas, dan pelestarian budaya.
Menurutnya, mahasiswa harus mampu menggunakan teknologi untuk mendokumentasikan bahasa daerah, mengembangkan karya sastra, memperkenalkan kebudayaan lokal, serta menyebarluaskan pengetahuan kepada masyarakat.
Namun, pemanfaatan teknologi harus tetap memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan dan etika komunikasi.
“Manfaatkan kecerdasan buatan untuk memperluas literasi, tetapi jangan menyerahkan seluruh proses berpikir kita kepada mesin. Teknologi dapat membantu kita menyusun kata, tetapi manusialah yang harus menentukan makna dan tanggung jawabnya,” pesannya.
Ia juga mengingatkan bahwa kebebasan berekspresi di ruang digital harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral.
Mahasiswa, lanjutnya, tidak boleh menggunakan bahasa untuk merendahkan orang lain maupun menjadikan media sosial sebagai sarana penyebaran kebencian.
“Ilmu harus berjalan bersama akhlak. Kecerdasan harus disertai kebijaksanaan. Dan teknologi harus tetap berada dalam kendali nilai-nilai kemanusiaan,” tegasnya.
UMI Buka Akses Fasilitas Kampus untuk Guru dan Siswa
Dalam kesempatan tersebut, Rektor UMI juga menyampaikan komitmen universitas untuk memperluas pemanfaatan fasilitas kampus bagi masyarakat, khususnya guru dan siswa di Sulawesi Selatan.
Ia menceritakan kunjungan sejumlah guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia Sulawesi Selatan yang ingin membangun kerja sama dengan UMI.
Para guru tersebut menyampaikan kebutuhan fasilitas untuk menyelenggarakan pelatihan, seminar, dan berbagai kegiatan pengembangan kompetensi.
Menanggapi hal itu, Rektor menyatakan bahwa UMI terbuka memberikan dukungan melalui pemanfaatan fasilitas yang dimiliki universitas.
UMI memiliki 13 fakultas dengan berbagai aula, laboratorium, serta Gelanggang Olahraga yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pendidikan dan pengembangan potensi guru maupun siswa.
“Insya Allah, fasilitas itu dapat digunakan tanpa biaya untuk kegiatan pendidikan dan pengembangan potensi guru maupun siswa,” ungkapnya.
Menurut Rektor, fasilitas yang dimiliki UMI merupakan bagian dari amanah wakaf yang harus dikelola untuk memberikan manfaat seluas-luasnya kepada masyarakat.
“Jangan sampai fasilitas kita tersedia, tetapi masyarakat tidak memperoleh akses. Jangan sampai aset wakaf kita banyak, tetapi manfaatnya belum dirasakan oleh mereka yang membutuhkan,” tegasnya.
Rektor juga menyampaikan rencana formalisasi kerja sama dengan SMA Negeri 7 Makassar melalui penandatanganan nota kesepahaman dalam rangkaian kegiatan Bulan Bahasa 2026.
Ia berharap kehadiran UMI tidak hanya dikenal sebagai lembaga pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai universitas yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dekan FSIKP UMI: Bulan Bahasa Menjadi Ruang Refleksi dan Kolaborasi
Dekan FSIKP UMI, Dr. Hj. Nurjannah Abna, S.S., M.Pd., menekankan bahwa Peringatan Bulan Bahasa 2026 merupakan momentum strategis untuk memperkuat kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya bahasa, sastra, dan budaya dalam kehidupan masyarakat yang semakin terdigitalisasi.
Menurutnya, tema yang diangkat tahun ini sangat relevan dengan tantangan generasi muda yang hidup dalam arus informasi cepat, perkembangan media sosial, serta semakin luasnya pemanfaatan kecerdasan buatan.
“Peringatan Bulan Bahasa tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Kami ingin menjadikannya sebagai ruang refleksi akademik dan budaya, tempat mahasiswa belajar bahwa kemampuan berbahasa bukan hanya persoalan keterampilan menyampaikan pesan, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, memahami makna, menghargai perbedaan, dan menjaga identitas budaya,” ungkapnya.
Dekan menjelaskan bahwa FSIKP UMI berupaya menghadirkan kegiatan yang memadukan penguatan keilmuan, kreativitas mahasiswa, pengembangan keterampilan berbahasa, dan kerja sama dengan berbagai mitra.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara kreatif dan bertanggung jawab untuk menghasilkan karya, mengembangkan literasi, memperkenalkan kekayaan budaya lokal, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat,” tambahnya.
Ia berharap kegiatan ini semakin memperkuat posisi FSIKP UMI sebagai fakultas yang berkontribusi dalam pengembangan bahasa, sastra, komunikasi, pendidikan, serta kerja sama akademik internasional.
Hadir pada kegiatan ini, Ketua Yayasan Wakaf UMI, Prof. Dr. Hj. Masrurah Mokhtar, MA. Wakil rektor IV, KH. Dr. Ishaq Shamad, Wakil rector V, Ir. Hj. Setyawati Yani, S.T., M.T., Ph.D., IPM., ASEAN Eng.Assoc. Prof. Dr. Mohd Azmir bin Mohd Nizah, Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Malaysia. Toha Machsum, M.Ag., Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan (2025-2026), Faisal Oddang, Sastrawan, Nur Rahmat Hidayat, S.Pd., M.Pd. Direktur Alekawa LCC. Guru Besar, Dosen, tenaga kependidikan, Mahasiswa FSIKP UMI. Turut hadir meramaikan Mahasiswa Asing UMI beserta buddies dari KUI UMI.(rls/red).















