Hadir di FSIKP UMI, Akademisi Malaysia Ingatkan Mahasiswa: AI Bisa Menghasilkan Bahasa, tetapi Belum Tentu Kebijaksanaan

banner 325x300

MAKASSAR,NALARMEDIA — Akademisi Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Assoc. Prof. Dr. Mohd Azmir bin Mohd Nizah, mengajak mahasiswa Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) Universitas Muslim Indonesia (UMI) untuk lebih kritis dan bijaksana dalam menggunakan teknologi digital dan kecerdasan buatan. Pesan tersebut disampaikan dalam Seminar Internasional yang menjadi rangkaian Peringatan Bulan Bahasa 2026 FSIKP UMI, Senin (19/10/2026), di Kampus UMI Makassar.

Mengangkat tema “Menggali Esensi Bahasa, Sastra, dan Budaya di Tengah Arus Percepatan Digital dan Krisis Refleksi”, Mohd Azmir menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah mempercepat penyebaran informasi, tetapi belum tentu meningkatkan kemampuan manusia dalam memahami makna dengan moderator wakil dekan 3 FSIKP UMI, Muhammad Idris, M.I.Kom.

“Kita tidak kekurangan maklumat. Kita mungkin kekurangan ruang untuk berfikir,” demikian pesan yang ditampilkan dalam materinya.

Di hadapan mahasiswa FSIKP UMI, ia menguraikan bagaimana media sosial, khususnya TikTok, telah mengubah cara generasi muda menggunakan bahasa, mengekspresikan emosi, dan membangun identitas sosial.

Menurut pemaparannya, perubahan bahasa di ruang digital tidak cukup dipandang sebagai persoalan benar atau salah dalam berbahasa, tetapi juga perlu dipahami sebagai cerminan perubahan perilaku dan budaya masyarakat.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak kehilangan kemampuan berpikir kritis di tengah kemudahan teknologi AI dalam menghasilkan tulisan, menerjemahkan bahasa, dan menyajikan informasi.

“AI boleh menghasilkan bahasa, tetapi belum tentu menghasilkan kebijaksanaan,” demikian salah satu pesan utama dalam presentasinya.

Melalui materi tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa kecanggihan teknologi tetap membutuhkan pertimbangan manusia, terutama dalam aspek empati, etika, konteks, dan tanggung jawab komunikasi.

Selain itu, Mohd Azmir menekankan pentingnya sastra sebagai ruang untuk mengembangkan empati dan kemampuan refleksi. Menurutnya, membaca karya sastra dapat membantu mahasiswa memahami pengalaman dan sudut pandang orang lain sebelum memberikan penilaian.

Ia juga mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana melestarikan bahasa daerah, memperkenalkan budaya lokal, dan mengembangkan kreativitas melalui berbagai platform digital. (rls/red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *