banner 728x90

Semangat Pupuk Indonesia: Mengawal Kemandirian Pertanian dan Masa Depan Petani

Petani asal Kabupaten Bone, Muhadir melakukan penyemprotan di persawahan yang dikelola, di Desa Sijelling, Kecamatan Tellu Siattinge.
banner 325x300

Indonesia menuju kedaulatan pangan. Komitmen Pupuk Indonesia mengawal kemandirian pertanian dan ketahanan pangan di garda terdepan.

WAKTU masih menunjukkan pukul 07.57 Wita, Muhadir, petani asal Kabupaten Bone, tengah sibuk melakukan penyemprotan di lahan sawah yang tengah digarapnya di Desa Sijelling, Kecamatan Tellu Siattinge, Sabtu (8 Februari 2025).

banner 728x90

Semangat Muhadir dalam mengolah sawah turut berkontribusi positif mengantarkan Bone sebagai daerah produksi gabah terbanyak di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Tercatat, produksi gabah Bone pada 2024 mencapai 1.050.045 ton. Mengalami kenaikan signifikan dibandingkan pada 2023 yang hanya 987.677 ton.

Aktivitas penyemprotan hama ini, Muhadir lakukan setelah tiga hari sebelumnya melakukan pemupukan. Harapannya, padi tumbuh subur tanpa gangguan. Sehingga hasilnya bisa melimpah.

Langkah demi langkah dilakukan lelaki bertinggi 161 sentimeter itu. Sembari memeriksa kondisi pertumbuhan padi yang digarapnya sepenuh cinta.

Muhadir yang merupakan jebolan Pesantren As’adiyah Sengkang ini sangat memperhatikan sawahnya.

“Bukan hanya manusia yang ingin diperhatikan, tanaman pun juga perlu perhatian. Kalau mau bagus hasilnya, tentu kita harus merawatnya sepenuh hati,” ucap Muhadir sembari tersenyum.

Lelaki penikmat kopi ini bercerita, kondisi pupuk saat ini, sudah bagus. Tidak langka. Juga mudah cara menebusnya.

“Alhamdulillah. Bersyukur sekali karena sudah banyak pupuk. Tidak sulit lagi,” ungkapnya.

Senada hal itu, juga dirasakan petani jagung asal Desa Tadang Palie, Kecamatan Ulaweng, Kabupaten Bone, Adry. Menurutnya, pupuk saat ini sangat mudah dijumpai.

Orang tua Adry merupakan salah satu anggota dari 6.761 kelompok tani yang di Kabupaten Bone.

“Orang tua yang terdaftar di kelompok tani. Karena kondisi rumah yang sulit jaringan maka pengecer yang datang ke rumah menyampaikan kalau pupuk sudah tersedia. Alhamdulillah penebusannya lancar dan mudah,” tutur Adry.

Ayah satu anak ini melanjutkan, pola penyaluran pupuk subsidi oleh Pupuk Indonesia saat ini sudah terbilang rapih. Hal ini berimbas membantu petani untuk menjaga ketahanan pangan.

Apalagi penebusan pupuk subsidi di era digital saat ini berbasis KTP elektronik dan memanfaatkan aplikasi. Namanya, iPubers. Tidak rumit.

Kondisi pupuk subsidi yang tersedia saat ini membawa angin segar dalam menjaga asa produktivitas pertanian masyarakat.

Tercatat, produksi jagung di Kabupaten Bone dari tahun ke tahun mengalami kenaikan. Hal ini tidak lepas dari kontribusi ketersediaan pupuk saat dibutuhkan petani.

Pada 2023, produksi jagung di Bone sebanyak 433.699 ton. Kemudian pada 2024 meningkat menjadi 709.767 ton.

“Kalau bagus pemupukan dan ketersediaan air maka bagus hasil panen nantinya,” sebut lelaki berusia 31 tahun ini.

iPubers Bentuk Transparansi

Pada 2025, Kabupaten Bone mendapat alokasi kuota pupuk subsidi yang sangat besar.

Kuota pupuk subsidi tersebut meliputi Urea 78.785 ton, NPK Phonska 64.372 ton, NPK Formula Khusus 1.540 ton, dan Organik 7.945 ton.

Besarnya alokasi pupuk subsidi tersebut akan didistribusikan oleh enam distributor yang beroperasi di wilayah Kabupaten Bone.

Rapat Koordinasi dan Sosialisasi pupuk bersubsidi tahun 2025, di Kabupaten Bone, Rabu (12 Februari 2025). (ist)

Dari distributor tersebut akan terdistribusi ke 141 pengecer atau kios yang tersebar di 27 kecamatan di daerah berjuluk Bumi Arung Palakka.

Account Executive Perwakilan Pupuk Indonesia, Syarifuddin menjelaskan, penebusan pupuk subsidi oleh petani ke pengecer melalui platform iPubers.

“Aplikasi yang terintegrasi antara Pupuk Indonesia dengan Kementerian Pertanian RI. Ini menjadi landasan bukti penyaluran pupuk bersubsidi kepada petani yang terdaftar di E RDKK (elektronik rencana definitif kegiatan kelompok),” papar ayah tiga anak ini.

Pria kelahiran Lamongan menuturkan, melalui aplikasi iPubers, pengecer bisa mengetahui jumlah alokasi pupuk yang tersedia dan berapa batasan pupuk subsidi yang bisa ditebus petani.

“Ini menjadi bentuk transparansi Pupuk Indonesia dalam penyaluran pupuk bersubsidi,” akunya.

Pupuk Indonesia dalam menyalurkan pupuk bersubsidi menerapkan prinsip 6 Tepat. Ada banyak manfaatnya.

Syarifuddin menyebutkan, prinsip 6 tepat tersebut meliputi Tepat Mutu, Tepat Jenis, Tepat Harga, Tepat Tempat, Tepat Waktu, dan Tepat Jumlah.

“Dengan penerapan 6 tepat tersebut diharapkan meningkatkan produktivitas, produksi pangan, dan komoditas pangan. Lalu, melindungi petani dari gejolak harga,” jelas Syarifuddin.

Bukan hanya itu, Pupuk Indonesia dengan penerapan prinsip 6 Tepat, kata Syarifuddin, mendorong penerapan pemupukan berimbang, serta memberikan jaminan ketersediaan pupuk, dan menghasilkan produk yang aman untuk dikonsumsi.

Sementara itu, Pengecer Pupuk Subsidi di Desa Massenrengpulu, Kecamatan Sibulue, Andi Basri menyampaikan, kiosnya melayani 12 kelompok tani di Desa Massenrengpulu.

Hadirnya aplikasi iPubers, kata Andi Basri memberikan kemudahan dalam penyaluran dan penebusan pupuk bersubsidi.

“Jadi tinggal difoto KTP elektronik petani yang sudah terdaftar di E RDKK untuk melakukan penebusan pupuk bersubsidi. Tidak susah,” imbuhnya.

Sebelum hadirnya iPubers, kata Andi Basri, kerja sebagai pengecer pupuk bersubsidi, tidak mudah. Harus siapkan nota dan harus lebih jeli mengamati identitas petani.

“Sekarang makin canggih. Apalagi kuota pupuk subsidi juga melimpah,” ungkap Andi Basri yang sudah menjadi pengecer pupuk subsidi kurang lebih 10 tahun ini.

Mengenai harga, Andi Basri, sebagai pengecer melakukan transaksi sesuai HET. Urea Rp112.500 per 50 Kg dan NPK Phonska Rp115.000 per 50 Kg.

Kehadiran Pupuk Indonesia bagi pengecer, diakui Andi Basri, begitu terasa membantu. Apalagi ada pelatihan di awal-awal penerapan aplikasi iPubers.

“Cepat dipahami cara penggunaannya. Dimana 1 nomor, 1 HP, dan 1 aplikasi saja bisa dipakai,” tandasnya.

Teknologi dan Kesejahteraan

Penyaluran pupuk bersubsidi berbasis aplikasi saat ini menjadi bukti, Pupuk Indonesia melek teknologi.

Kepala Dinas (Kadis) Ketahanan Pangan (Ketapang) Kabupaten Bone, Muh. Angkasa menjelaskan, penerapan aplikasi dalam penyaluran pupuk bersubsidi adalah perubahan ke arah positif.

Melalui pemanfaatan teknologi, stakeholder terkait dalam penyaluran pupuk bersubsidi bisa mengetahui secara riil perkembangan terbaru realisasi di lapangan.

Kadis Angkasa mendorong petani agar memanfaatkan pupuk subsidi dengan sebaik-baiknya. Hal ini dilakukan agar hasil panen yang diharapkan bisa tercapai dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan.

Direktur Keuangan dan Umum Pupuk Kaltim, Qomaruzzaman memantau stok pupuk di Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, beberapa waktu lalu. (Nalarmedia.id)

“Idealnya dalam 1 hektare lahan maka penggunaannya sekitar 200 Kg Urea, 300 Kg NPK, 500 Kg organik, tujuannya untuk memperbaiki struktur tanah,” ucap Kadis Angkasa.

Angkasa melanjutkan, melalui perbenihan bagus, pemupukan yang tepat dan memanfaatkan teknologi maka menghasilkan hasil pertanian yang baik.

“Kalau sistem bagus, produksi meningkat. Hasilnya ini berdampak meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan bagi petani,” tutur pria yang juga mantan Sekretaris Dinas Pertanian Bone selama 7 tahun ini.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, Perkebunan (TPHP) Kabupaten Bone, Nurdin menilai, upaya Pupuk Indonesia terus mendorong kemudahan dalam penyaluran pupuk subsidi.

Langkah Pupuk Indonesia tersebut sejalan dengan misi meningkatkan produktivitas hasil pertanian dalam mewujudkan ketahanan pangan.

“Dengan alokasi pupuk subsidi saat ini, Kami (Bone, red) menargetkan hasil produksi pertanian bisa tembus empat besar nasional 2025 ini,” kata Nurdin.

Bukan tanpa alasan, Kabupaten Bone memiliki lahan pertanian terluas di Sulsel. Tercatat, luas lahan Bone pada 2024 untuk sawah tadah hujan 69.010,4 hektare, sawah irigasi 43.178,4 hektare, rawa lebak 1193,6 hektare, rawa pasang surut 5914 hektare, dan kebun/tegal 70.593,6 hektare. (Muhammad Ashri Samad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *