banner 728x90
Berita  

Idulfitri di Depan Mata, Masyarakat Penuh Ujian Selama Ramadan

Anggota DPR RI Fraksi PKB, Drs. H. Andi Muawiyah Ramly, M.Si. atau yang karib disapa Puang Amure menyambut delegasi ekonomi pemerintah China di BKSAP Jakarta. (ist)
banner 325x300

MAKASSAR, NALARMEDIA — Hari raya Idulfitri tinggal menghitung hari. Setiap orang sudah punya tempat merayakan hari kemenangan.

Demikian pula Anggota DPR RI Fraksi PKB, Drs. H. Andi Muawiyah Ramly, M.Si. atau yang karib disapa Puang Amure.

banner 728x90

Dalam perjalanan dari Kota Parepare menuju Kota Makassar, Amure mengatakan, dia berencana melaksanakan Shalat Idulfitri di Kota Makassar, nantinya.

Lelaki yang merupakan Tim 9 pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan mantan asisten Presiden KH. Abdurrahman Wahid mengemukakan, umat Islam secara global dan internal Bangsa Indonesia yang diamati menyambut Lebaran dengan penuh keprihatinan. Penyebabnya, berbagai hal.

Pada Ramadan kali ini, ujian bertubi-tubi dirasakan masyarakat. Bukan hanya Indonesia, tetapi juga saudara muslim di luar negeri.

Pertama, kekerasan politik lewat penjajahan dan kezaliman Israel terhadap Palestina, terutama di jalur Gaza masih terus berlangsung.

Kekuatan besar di balik Israel, dalam hal ini Amerika Serikat dan sekutunya menyebabkan saudara kita di Palestina menjalani puasa dengan sangat berat dan menderita.

“Bangsa Indonesia sebagai pendukung kemerdekaan Palestina ikut merasakan penderitaan itu di tengah momentum hadirnya Idulfitri, sebagai hari pembebasan dari nestapa kehidupan umat Islam,” tuturnya.

Kedua, secara internal, geo politik dan ekonomi, bangsa Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Tekanan ekonomi yang tidak stabil dan inflasi yang tidak diumumkan membuat masyarakat menyambut Idulfitri dengan penuh bahagia seperti Idulfitri 10 tahun lalu.

Saat ini, terjadi pemutusan kerja di mana-mana, ribuan karyawan dirumahkan, PPPK ditunda honornya, dan harga kebutuhan pokok melonjak. Harga cabai sudah di atas Rp100.000 per kilogram.

Utang luar negeri yang super jumbo Rp3.700 triliun jatuh tempo, sementara penerimaan pajak sangat menurun sebagai imbas dari ekspor kita yang tidak sesuai target.

Akibatnya, pemerintah lakukan efisiensi yang memotong seluruh Anggaran di kementerian/lembaga.

Anggaran yang terpotong derivasinya giat ekonomi di daerah menjadi lesu. Nah, di tengah ekonomi pemerintah dan masyarakat yang suram itu, kita bangsa Indonesia pekan depan menyambut Idulfitri.

Dengan kondisi demikian, Idulfitri kali ini menyiratkan pesan mendalam bagi masing-masing pribadi. Hal ini menjadi momentum penting dalam memaknai hakiki arti hari kemenangan. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *