Bulan Bahasa 2026, FSIKP UMI Perkuat Pengajaran BIPA: Bahasa Indonesia Jadi Jembatan Komunikasi Dunia

banner 325x300

MAKASSAR, NALARMEDIA — Mengajarkan bahasa Indonesia kepada warga asing bukan sekadar memperkenalkan kosakata dan tata bahasa. Tantangan sesungguhnya adalah membuat mereka berani berbicara, memahami percakapan sehari-hari, dan mengenal budaya Indonesia melalui pengalaman langsung.

Semangat inilah yang mendorong Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) Universitas Muslim Indonesia (UMI) menggelar Pelatihan Strategi dan Metode Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), Senin (19/10/2026), di Ruang 501 Fakultas Kedokteran UMI, Makassar.

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Peringatan Bulan Bahasa 2026 tersebut dirancang untuk meningkatkan kompetensi dosen pengajar BIPA sekaligus mempersiapkan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) sebagai pendamping dan mitra tutur bagi pemelajar asing.

Melalui pelatihan ini, FSIKP UMI ingin menghadirkan pembelajaran bahasa Indonesia yang lebih komunikatif, menyenangkan, dan dekat dengan kebutuhan pemelajar internasional.

Belajar Bahasa Indonesia Harus Berani Berbicara

Pelatihan menghadirkan Direktur Alekawa Language and Culture Center (LCC), Nur Rahmat Hidayat, S.Pd., M.Pd., sebagai narasumber.

Dalam materi bertajuk “Panduan Aktivitas dan Dinamika Kelas BIPA”, ia memperkenalkan pendekatan pembelajaran yang menempatkan pemelajar sebagai peserta aktif, bukan sekadar pendengar penjelasan pengajar.

Salah satu strategi yang dibahas adalah metode 3P: Presentation, Practice, dan Production.

Pada tahap Presentation, pengajar memperkenalkan kosakata, ungkapan, atau pola kalimat sesuai kebutuhan pemelajar.

Tahap Practice memberikan kesempatan untuk berlatih melalui kegiatan terbimbing, seperti percakapan sederhana atau latihan berpasangan.

Selanjutnya, pada tahap Production, pemelajar didorong menggunakan bahasa Indonesia secara lebih mandiri dalam situasi komunikasi yang menyerupai kehidupan sehari-hari.

Pendekatan ini membantu menghubungkan materi yang dipelajari dengan kemampuan berkomunikasi.

Sebab, seseorang mungkin telah menghafal banyak kosakata, tetapi masih membutuhkan latihan dan kepercayaan diri untuk menggunakannya ketika berbicara.

Dari Permainan Peran hingga Percakapan Sehari-hari

Selain memahami metode 3P, peserta diperkenalkan pada berbagai aktivitas untuk menciptakan suasana kelas yang lebih hidup.

Teknik tersebut meliputi ice breaking, permainan peran, percakapan alami, latihan berpasangan, serta refleksi dan pemberian umpan balik.

Melalui permainan peran, misalnya, pemelajar dapat berlatih menggunakan bahasa Indonesia dalam situasi sederhana, seperti memperkenalkan diri, memesan makanan, bertanya arah, atau berbelanja.

Aktivitas tersebut membantu pemelajar memahami penggunaan bahasa dalam konteks nyata.

Narasumber juga menekankan pentingnya menyesuaikan pembelajaran dengan tingkat kemampuan, kebutuhan komunikasi, dan latar belakang budaya pemelajar.

Cara pengajar memberikan koreksi menjadi perhatian tersendiri.

Kesalahan berbahasa perlu diperbaiki secara tepat, tetapi proses koreksi juga harus menjaga keberanian pemelajar untuk terus mencoba.

Dalam pembelajaran bahasa asing, keberanian berbicara sering kali menjadi langkah awal sebelum seseorang mampu berkomunikasi dengan lancar.

Karena itu, kelas BIPA perlu dibangun sebagai ruang belajar yang memberi kesempatan untuk mencoba, melakukan kesalahan, memperoleh umpan balik, dan memperbaiki kemampuan secara bertahap. Mahasiswa PBSI UMI Disiapkan Menjadi Mitra Tutur

Pelatihan ini tidak hanya ditujukan kepada dosen.

Mahasiswa PBSI FSIKP UMI yang terlibat sebagai pendamping juga memperoleh pembekalan mengenai cara membantu pemelajar asing berlatih menggunakan bahasa Indonesia.

Sebagai mitra tutur, mahasiswa berperan menciptakan kesempatan percakapan yang lebih alami di luar penjelasan formal pengajar.

Interaksi tersebut dapat membantu pemelajar mengenal ungkapan sehari-hari, kebiasaan berkomunikasi, dan konteks budaya masyarakat Indonesia.

Bagi mahasiswa UMI, pengalaman menjadi mitra tutur juga memberikan kesempatan mengembangkan keterampilan komunikasi, pendampingan pembelajaran, dan interaksi lintas budaya.

Dengan demikian, pembelajaran BIPA membuka manfaat bagi kedua pihak.

Pemelajar asing memperoleh ruang untuk mempraktikkan bahasa Indonesia, sementara mahasiswa pendamping mendapat pengalaman menerapkan pengetahuan kebahasaan dan kependidikan secara langsung.

Dekan FSIKP: Dosen dan Mahasiswa Harus Siap Mengajar Penutur Asing

Dekan FSIKP UMI, Dr. Hj. Nurjannah Abna, S.S., M.Pd., menegaskan bahwa peningkatan kompetensi pengajar menjadi bagian penting dalam pengembangan kualitas pembelajaran BIPA.

Menurutnya, pengajaran bahasa Indonesia kepada penutur asing membutuhkan strategi yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan pemelajar.

“Melalui pelatihan ini, kami ingin para dosen memiliki keterampilan praktis mengajarkan bahasa Indonesia kepada penutur asing, sekaligus membekali mahasiswa pendamping untuk memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional,” ungkapnya.

Ia berharap pembekalan tersebut dapat membantu dosen merancang pembelajaran yang lebih interaktif, mulai dari membuka kelas, menyampaikan materi, memfasilitasi praktik komunikasi, hingga mengevaluasi perkembangan kemampuan pemelajar.

Sementara itu, Ketua Program Studi PBSI FSIKP UMI, Umar Mansyur, S.Pd., M.Pd., menilai pelatihan ini penting untuk memperluas pemahaman dosen dan mahasiswa mengenai strategi pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing.

Pemilihan metode, pengelolaan dinamika kelas, serta pemahaman terhadap latar belakang pemelajar menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran BIPA.

Menurutnya, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai sarana menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi penghubung dalam komunikasi antarbudaya.

Kolaborasi untuk Memperluas Peran Bahasa Indonesia

Kegiatan ini turut melibatkan Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan dan Alekawa Language and Culture Center sebagai mitra penguatan pembelajaran BIPA.

Kolaborasi tersebut membuka ruang pertukaran pengalaman dan pengembangan metode pembelajaran yang dapat diterapkan di lingkungan akademik.

Bagi FSIKP UMI, penguatan BIPA merupakan salah satu langkah untuk mendukung internasionalisasi bahasa Indonesia melalui pendidikan.

Upaya tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengajarkan bahasa, tetapi juga kesempatan memperkenalkan kehidupan sosial dan kekayaan budaya Indonesia kepada pemelajar dari berbagai negara.

Kegiatan ini sekaligus mendukung pelaksanaan Catur Dharma UMI, sebagaimana dirumuskan dalam Statuta UMI Tahun 2024, Pasal 1 angka 4, yang meliputi Pendidikan dan Pengajaran; Penelitian; Pengabdian kepada Masyarakat; serta Komitmen Ke-UMI-an dan Pendidikan Karakter.

Melalui pelatihan ini, FSIKP UMI berupaya memperkuat kesiapan dosen dan mahasiswa untuk menghadirkan pengalaman belajar bahasa Indonesia yang lebih terbuka, komunikatif, dan adaptif terhadap kebutuhan pemelajar internasional.

Dari ruang kelas di Makassar, bahasa Indonesia dapat menjadi jembatan pertemuan budaya. Bukan hanya dipelajari sebagai bahasa, tetapi digunakan untuk saling mengenal, memahami, dan membangun hubungan antarmasyarakat dunia. (rls/red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *