MAROS, NALARMEDIA — Tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar melaksanakan kegiatan bertajuk “Pelestarian Budaya Lokal melalui Pemanfaatan Folklor Bugis-Makassar sebagai Media Pendidikan Karakter bagi Siswa SDN 170 INP Pangembang.” Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya perguruan tinggi dalam memperkuat pelestarian budaya lokal sekaligus menanamkan nilai-nilai karakter kepada generasi muda melalui pendidikan.
Kegiatan pengabdian yang dikoordinasikan oleh Prof. Dr. Muliadi, M.Hum., bersama Dr. Kasma F. Amin, S.S., M.Pd., dan Dr. Nurfathana Mahzud, S.Pd., M.Pd., tersebut dilaksanakan di Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, melalui dukungan Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPKM) Universitas Muslim Indonesia.
Program ini berangkat dari pentingnya memperkenalkan kembali kekayaan folklor Bugis-Makassar kepada peserta didik. Folklor yang diwariskan secara turun-temurun tidak hanya mengandung nilai sejarah dan kebudayaan, tetapi juga menyimpan pesan moral, kearifan lokal, serta pedoman perilaku yang relevan dalam pembentukan karakter anak.
Ketua tim pengusul, Prof. Dr. Muliadi, M.Hum., mengatakan bahwa folklor lokal memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai media pendidikan karakter yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
“Folklor Bugis-Makassar bukan sekadar cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan juga mengandung nilai-nilai luhur yang dapat menjadi pedoman dalam kehidupan. Melalui cerita rakyat, legenda, dan tradisi lisan, anak-anak dapat belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, penghormatan kepada orang lain, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial dan budaya,” ujar Prof. Muliadi.
Menurut dia, pemanfaatan folklor dalam pendidikan menjadi salah satu cara untuk mendekatkan peserta didik dengan identitas budayanya sendiri. Cerita dan tradisi lokal dapat dihadirkan dalam proses pembelajaran secara menarik sehingga siswa tidak hanya mengenal kebudayaan daerah sebagai pengetahuan, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Prof. Muliadi menambahkan bahwa pelestarian budaya lokal perlu dilakukan melalui pendekatan yang melibatkan dunia pendidikan. Sekolah memiliki peran strategis dalam memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda agar tetap hidup, dipahami, dan diwariskan di tengah perubahan zaman.
“Kami berharap pemanfaatan folklor Bugis-Makassar dapat menjadi jembatan antara pelestarian budaya dan pembentukan karakter siswa. Dengan mengenal cerita serta kearifan lokalnya, peserta didik diharapkan semakin menghargai identitas budaya, memiliki karakter yang baik, dan mampu menerapkan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, tim pengabdian UMI mendorong pemanfaatan kekayaan budaya daerah sebagai sumber belajar yang kontekstual. Folklor Bugis-Makassar diharapkan tidak hanya bertahan sebagai warisan lisan, tetapi juga memperoleh ruang yang lebih luas dalam praktik pendidikan, khususnya pada jenjang sekolah dasar.
Program tersebut sekaligus menegaskan peran perguruan tinggi dalam mendukung pelestarian kebudayaan dan penguatan pendidikan karakter melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada kebutuhan lingkungan pendidikan.
Dengan mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam pembelajaran, warisan budaya Bugis-Makassar diharapkan dapat terus dikenal dan diapresiasi oleh generasi muda serta menjadi bagian penting dalam membangun karakter yang berakar pada nilai-nilai budaya bangsa. (rls/red).















