Anggota DPR RI Amure Warning Dunia Pendidikan Indonesia Ketergantungan AI

Anggota Komisi X DPR RI, Andi Muawiyah Ramly atau yang akrab disapa Amure mengingatkan ada sisi lain yang perlu diwaspadai bila ketergantungan pada kecerdasan buatan atau familiar dengan istilah AI, khususnya di dunia pendidikan Tanah Air. (ist)
banner 325x300

JAKARTA, NALARMEDIA — Anggota Komisi X DPR RI, Andi Muawiyah Ramly atau yang akrab disapa Amure mengingatkan ada sisi lain yang perlu diwaspadai bila ketergantungan pada kecerdasan buatan atau familiar dengan istilah AI, khususnya di dunia pendidikan Tanah Air.

Bukan tanpa alasan, Amure menyoroti meningkatnya penggunaan AI di sektor pendidikan Indonesia.

Mengacu pada data yang disampaikan OpenAI melalui Head of Education Asia Pacific, Raghav Gupta, Indonesia kini masuk dalam lima besar negara dengan penggunaan ChatGPT tertinggi untuk pembelajaran.

Kondisi tersebut harus mendapat warning. Kata Amure, capaian tersebut tidak serta-merta dapat dibanggakan jika tidak diiringi dengan penguatan kualitas literasi dan kemampuan berpikir kritis generasi muda.

“Saya kira ini bukan semata prestasi bagi anak bangsa. AI di satu sisi memang membantu, tetapi di sisi lain, ketergantungan terhadap AI justru berbahaya. Tingkat literasi, inovasi, dan kreativitas bisa tergerus jika penggunaannya tidak dikendalikan dengan bijak,” jelas Amure di Jakarta dikutip dari laman fraksipkb.com, Kamis (9 April 2026).

Amure menilai fenomena ini menjadi peringatan serius bahwa transformasi digital di sektor pendidikan harus diiringi dengan kesiapan mental, metodologi belajar yang kuat, serta penguatan karakter peserta didik.

Amure yang juga salah satu pendiri PKB mengkritik belum optimalnya kebijakan pemerintah dalam mengantisipasi dampak masif penggunaan AI di ruang belajar.

“Pemerintah tidak boleh hanya menjadi penonton dalam arus besar ini. Harus ada langkah mitigasi yang serius dan terukur. Jangan sampai teknologi justru membuat generasi kita kehilangan daya juang intelektual,” sebut Amure.

Sebagai langkah konstruktif, Amure yang merupakan wakil rakyat dari Dapil Sulsel II mendorong pemerintah untuk memperkuat kampanye literasi digital yang menekankan penggunaan AI secara bijak serta menegaskan bahwa AI adalah alat bantu, bukan pengganti proses berpikir.

Amure yang dikenal sebagai sosok pejuang dunia pendidikan mendorong integrasi etika penggunaan AI dalam kurikulum pendidikan, serta metode pembelajaran yang tetap mengutamakan kreativitas dan analisis mandiri.

“Publik harus diberi pemahaman bahwa AI itu alat bantu, bukan alat utama dalam inovasi dan kreasi. Kalau ini tidak ditegaskan, kita berisiko menciptakan generasi yang serba instan, tapi minim kedalaman berpikir,” sambungnya.

Makanya, Amure berharap pentingnya keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan pembangunan kapasitas manusia.

“AI harus kita kuasai, bukan kita yang dikuasai. Kuncinya ada pada literasi, pengawasan, dan keberanian untuk tetap menempatkan manusia sebagai pusat inovasi,” tandasnya. (bs/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *