BONE, NALARMEDIA — Hari Kartini bukan sekadar mengenang sosok Raden Ajeng Kartini sebagai pelopor emansipasi perempuan.
Lebih dari itu, Hari Kartini adalah momen untuk menundukkan hati, mengingat kembali betapa besar peran seorang ibu dalam membentuk kehidupan—dalam diam, dalam lelah, namun penuh cinta.
Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman (BupAAS), memaknai Hari Kartini dengan cara yang begitu menyentuh dan personal.
Baginya, Kartini sejati adalah ibunya sendiri—sosok perempuan tangguh yang membesarkan 12 orang anak, terdiri dari delapan laki-laki dan empat perempuan, dalam keterbatasan namun penuh keikhlasan.
“Ibu adalah pahlawan sejati saya,” tuturnya penuh haru, Selasa (21 April 2026).
Di balik kenangan BupAAS, tersimpan perjuangan panjang yang tak mudah. Sang ibu, seorang ibu rumah tangga, mendampingi suami yang merupakan prajurit TNI golongan rendah.
Kehidupan yang sederhana tidak membuatnya menyerah, justru menjadi ladang pengabdian tanpa batas.
Dengan kesabaran yang luas, ia mengasuh, mendidik, dan menjaga anak-anaknya dengan sepenuh hati.
Dalam setiap langkah hidupnya, sang ibu menanamkan nilai-nilai yang kini menjadi pegangan kuat: sabar, bersyukur, bersedekah, dan tidak membeda-bedakan. Nilai sederhana, namun menjadi cahaya dalam perjalanan hidup.
Tak hanya itu, pesan luhur Bugis lainnya juga menjadi pedoman hidup: “Appunangi bicarae, wappunnangi jamange”—pegang teguh ucapanmu, dan tuntaskan pekerjaanmu.
Sebuah ajaran tentang integritas dan tanggung jawab yang diwariskan dengan keteladanan, bukan sekadar nasihat.
Dalam sosok ibu seperti inilah semangat Kartini hidup dan bernapas.
Jika Raden Ajeng Kartini berjuang membuka jalan bagi perempuan untuk mendapatkan pendidikan dan kesetaraan, maka para ibu hari ini melanjutkan perjuangan itu dengan cara yang sunyi namun penuh makna—mendidik anak-anaknya menjadi manusia yang kuat, berakhlak, dan berdaya.
Hari Kartini, dalam pandangan ini, bukan hanya tentang sejarah masa lalu. Ia adalah penghormatan bagi setiap ibu yang berjuang dalam diam, yang air matanya tak selalu terlihat, namun doanya tak pernah terputus.
Sebab sejatinya, Kartini tidak hanya satu. Ia hidup dalam setiap ibu—yang dengan kesabaran, keikhlasan, dan kerja keras, melahirkan generasi yang akan membawa harapan bagi masa depan. (red)















