BONE, NALARMEDIA — Terik matahari siang di Desa Corawali, Kecamatan Barebbo, Jumat (1 Mei 2026), tak menyurutkan semangat untuk berkumpul di hamparan sawah.
Angin kering berembus pelan di sela batang padi, sementara sorot mata masyarakat tertuju pada aliran air yang perlahan mulai menghidupkan tanah-tanah yang selama ini hanya menggantungkan nasib pada hujan.
Di tengah suasana itu, Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman yang akrab disapa BupAAS, didampingi Ketua TP PKK Bone, Maryam Andi Asman, hadir melakukan uji pengaliran sekaligus meresmikan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) Program Inpres untuk mendukung swasembada pangan.
Suasana peresmian terasa sederhana namun penuh makna.
Di bawah sengatan matahari yang membakar kulit, para petani tetap berdiri menyaksikan air mengalir dari jaringan irigasi baru—sebuah pemandangan yang bagi mereka bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan harapan baru untuk masa depan sawah-sawah tadah hujan.
BupAAS menegaskan bahwa keberadaan JIAT menjadi solusi penting bagi petani di wilayah yang selama ini kerap menghadapi persoalan kekurangan air.
Satu titik jaringan irigasi disebut mampu mengairi sekitar 24 hingga 30 hektare lahan persawahan.
“Di lokasi ini wajib IP 3, tiga kali panen setahun, dalam mendukung swasembada pangan,” tutur BupAAS di hadapan masyarakat.
Kalimat itu disambut optimisme para petani. Sebab selama bertahun-tahun, banyak lahan di kawasan tersebut hanya mampu ditanami satu hingga dua kali dalam setahun karena keterbatasan air.
Kini, dengan hadirnya JIAT, sawah-sawah yang dahulu retak saat kemarau perlahan kembali memiliki denyut kehidupan.
Air yang mengalir dari sumur bor seakan menjadi simbol bahwa pembangunan tidak selalu hadir dalam bentuk gedung megah, tetapi juga dalam tetesan yang mampu menjaga harapan petani tetap tumbuh.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) Kabupaten Bone, Kasdar, mengungkapkan bahwa pembangunan JIAT merupakan hasil perjuangan Pemkab Bone dalam mengusulkan kebutuhan irigasi ke pemerintah pusat.
Ia menyebutkan, terdapat sembilan titik sumur bor JIAT yang dibangun di Kabupaten Bone dengan total anggaran mencapai Rp16,4 miliar.
“Insya Allah ada 9 titik dibangun di Bone,” jelasnya.
Menurut Kasdar, pembangunan ini menjadi bukti keseriusan pemerintah daerah dalam menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat tani, khususnya pada wilayah yang belum terjangkau jaringan irigasi teknis.
Di tengah hamparan sawah Barebbo yang diterpa panas siang, peresmian itu akhirnya bukan hanya tentang infrastruktur air.
Ia menjelma menjadi cerita tentang perjuangan menjaga pangan, tentang tanah yang kembali dialiri kehidupan, dan tentang keyakinan bahwa kesejahteraan petani dimulai dari air yang terus mengalir ke sawah mereka. (red)















