BONE, NALARMEDIA — Komitmen Pemerintah Kabupaten Bone di bawah kepemimpinan Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman bersama Wakil Bupati Bone, Andi Akmal Pasluddin dalam mendukung program strategis nasional kembali ditunjukkan melalui dukungan penuh terhadap pengembangan Hilirisasi Ayam Terintegrasi yang saat ini memasuki tahap finalisasi kerja sama operasional (KSO) antara PT Berdikari dan PTPN I.
Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman (BupAAS), menegaskan bahwa program tersebut sejalan dengan visi pembangunan daerah yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, penguatan sektor peternakan, serta percepatan pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurut BupAAS, hilirisasi ayam terintegrasi bukan sekadar proyek investasi, melainkan sebuah ekosistem industri peternakan modern yang mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat rantai pasok pangan, dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
“Program ini muaranya adalah kesejahteraan masyarakat. Kita ingin ekonomi bergerak, peternak berkembang, lapangan kerja terbuka, dan Bone menjadi salah satu daerah yang berkontribusi dalam mendukung program strategis nasional,” papar BupAAS, Sabtu (30 Mei 2026).
Saat ini, proses finalisasi KSO antara PT Berdikari dan PTPN I mencakup sejumlah fasilitas utama yang akan menjadi tulang punggung industri ayam terintegrasi di Kabupaten Bone.
Fasilitas tersebut meliputi pembangunan Parent Stock Breeding (PSB) Multiage dengan kapasitas awal 80.000 ekor dari rencana total kapasitas 200.000 ekor. Selain itu, akan dibangun PSB Hatchery dengan kapasitas 900.000 setting telur per bulan yang mampu menghasilkan sekitar 800.000 DOC (Day Old Chick) setiap bulan.
Di sektor pengolahan, disiapkan Poultry Slaughterhouse (PSL) berkapasitas 26.000 ekor, dengan target pengembangan hingga mencapai 60.000 ekor.
Sementara itu, untuk mendukung ketersediaan pakan, akan dibangun feedmill dengan kapasitas 60.000 ton per tahun atau sekitar 5.000 ton per bulan.
Sistem produksi juga dirancang secara kolaboratif, yakni 10 persen berasal dari peternakan milik perusahaan (own farm broiler), 40 persen dari peternak mitra, dan 50 persen dari peternak eksternal, sehingga membuka ruang yang luas bagi keterlibatan masyarakat dan pelaku usaha lokal.
BupAAS menilai, kehadiran industri ayam terintegrasi akan memberikan efek berganda (multiplier effect) yang besar bagi perekonomian daerah. Mulai dari sektor peternakan, pertanian jagung sebagai bahan baku pakan, transportasi, perdagangan, hingga sektor usaha mikro yang terhubung dengan rantai distribusi.
“Bone memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu sentra peternakan unggas di Indonesia Timur. Dengan hilirisasi yang terintegrasi, nilai tambah tidak lagi keluar daerah, tetapi dapat dinikmati langsung oleh masyarakat Bone,” jelasnya.
Lebih jauh, program ini juga dinilai sangat strategis dalam mendukung program prioritas Presiden RI, Prabowo Subianto, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG).
Produksi ayam dan telur yang terjamin dari sistem terintegrasi diharapkan menjadi salah satu sumber protein utama untuk menyukseskan program tersebut.
Dengan dukungan penuh dari Pemkab Bone, hilirisasi ayam terintegrasi diharapkan menjadi tonggak baru transformasi sektor peternakan daerah, sekaligus menjadikan Bone sebagai pusat produksi unggas modern yang mampu menopang ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (*)















