MAKASSAR, NALARMEDIA — Transformasi digital kini tidak hanya berkembang di kawasan perkotaan.
Di tengah hamparan laut dan kehidupan masyarakat pesisir, inovasi teknologi mulai hadir untuk menjawab berbagai tantangan operasional usaha di wilayah kepulauan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Workshop Implementasi Predictive Maintenance Berbasis Internet of Things (IoT) untuk Meminimalisir Downtime Mesin Extruder yang digelar di Pulau Barrang Lompo, Senin (15 Juni 2026).
Kegiatan ini menjadi langkah nyata kalangan akademisi dalam mengaplikasikan hasil riset dan inovasi teknologi kepada masyarakat, sekaligus mendorong percepatan transformasi digital di kawasan pesisir dan kepulauan.
Dalam workshop tersebut, peserta diperkenalkan dengan konsep predictive maintenance, sebuah metode pemeliharaan mesin berbasis teknologi IoT yang memungkinkan kondisi peralatan dipantau secara real-time.
Melalui sensor pintar dan sistem monitoring berbasis data, potensi gangguan atau kerusakan mesin dapat dideteksi lebih awal sebelum berdampak pada proses produksi.
Teknologi ini dinilai mampu menjadi solusi atas berbagai kendala yang selama ini dihadapi pengelola usaha di wilayah kepulauan, mulai dari tingginya biaya perawatan hingga keterbatasan akses layanan teknis dan suku cadang.
Workshop diikuti oleh petugas TPS3R, operator mesin, perangkat desa, hingga masyarakat yang memiliki minat terhadap pengembangan teknologi tepat guna.
Para peserta tidak hanya mendapatkan materi teoritis, tetapi juga praktik langsung mengenai instalasi sensor pada mesin extruder, mekanisme pengumpulan dan analisis data, hingga simulasi pemantauan kondisi mesin melalui platform digital.
Ketua Tim Penelitian, Dr. Ir. Isminarti, S.T., M.T., bersama tim peneliti dari Politeknik Bosowa, Universitas Bosowa, dan Universitas Sawerigading, menjelaskan bahwa penerapan predictive maintenance merupakan strategi penting untuk meningkatkan daya saing industri dan pengelolaan TPS3R di wilayah kepulauan.
Menurutnya, sistem pemeliharaan berbasis IoT memungkinkan pengelola mesin mengambil tindakan lebih cepat dan tepat berdasarkan kondisi aktual peralatan.
“Dengan sistem monitoring berbasis IoT, pemeliharaan mesin tidak lagi hanya mengandalkan jadwal pemeriksaan rutin atau menunggu kerusakan terjadi. Perawatan dapat dilakukan berdasarkan kondisi aktual mesin yang dipantau secara berkelanjutan,” ujarnya.
Lebih dari sekadar transfer teknologi, kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi antara akademisi, masyarakat, dan pelaku usaha untuk bersama-sama membangun ekosistem inovasi yang sesuai dengan kebutuhan lokal.
Implementasi teknologi IoT pada mesin extruder di Pulau Barrang Lompo diharapkan menjadi model percontohan yang dapat diterapkan pada berbagai peralatan produksi lainnya di kawasan pesisir dan kepulauan. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga bagian dari proses transformasi menuju industri yang lebih modern dan berkelanjutan.
Melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi digital, peluang untuk menciptakan usaha yang lebih produktif, tangguh, dan berdaya saing semakin terbuka lebar.
Workshop ini menjadi bukti bahwa inovasi tidak mengenal batas geografis. Dari Pulau Barrang Lompo, semangat transformasi digital terus bergerak, membawa harapan baru bagi kemajuan industri masyarakat kepulauan di era teknologi yang kian berkembang pesat. (red)















