JAKARTA, NALARMEDIA — Presiden RI Prabowo Subianto memberikan apresiasi kepada Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman beserta jajaran Kementerian Pertanian (Kementan) atas kerja keras mempercepat terwujudnya swasembada pangan nasional.
Apresiasi tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Jakarta, Jumat (14 Agustus 2026).
Di hadapan para pimpinan lembaga negara dan anggota parlemen, Presiden Prabowo menegaskan bahwa keberhasilan sektor pangan Indonesia merupakan hasil kerja bersama yang melibatkan pemerintah pusat dan daerah, penyuluh pertanian, TNI-Polri, kementerian/lembaga, serta para petani di seluruh Indonesia.
Presiden secara khusus menyampaikan penghargaan atas kerja Mentan Andi Amran dan seluruh jajaran Kementan yang dinilai berhasil mengakselerasi target swasembada pangan.
“Menteri Pertanian dengan seluruh jajarannya, para penyuluh pertanian, didukung oleh banyak kementerian lain, didukung oleh Pemda, didukung oleh TNI dan Polri. Semuanya ini dengan semangat gotong royong kita telah mencapai suatu prestasi yang diakui oleh dunia,” tegas Presiden Prabowo.
Dari Target Empat Tahun, Tercapai dalam Satu Tahun
Menurut Presiden Prabowo, percepatan swasembada pangan tidak dicapai dengan cara instan. Pemerintah terlebih dahulu melakukan pembenahan terhadap berbagai persoalan yang selama ini menjadi hambatan produksi dan kesejahteraan petani.
Saat pemerintahan baru menerima mandat, persoalan pupuk, harga gabah, hingga panjangnya rantai birokrasi masih menjadi tantangan yang harus segera diselesaikan.
“Ketika kami menerima mandat, petani masih menghadapi pupuk yang sulit diperoleh, harga gabah yang jatuh setiap saat panen, aturan yang berbelit-belit. Kita harus berani menghadapi kesulitan dan mencari solusi,” ungkapnya.
Salah satu langkah besar yang dilakukan pemerintah ialah melakukan deregulasi tata kelola pupuk bersubsidi.
Sebanyak 145 aturan yang sebelumnya dinilai menghambat rantai penyaluran pupuk dipangkas dan disederhanakan menjadi satu Peraturan Presiden.
Kebijakan tersebut diarahkan agar pupuk dapat lebih cepat dan mudah diakses petani sekaligus memangkas hambatan birokrasi yang berpotensi mengganggu produktivitas pertanian.
Presiden Prabowo menegaskan, birokrasi seharusnya hadir sebagai instrumen pelayanan kepada masyarakat, bukan menjadi penghalang bagi kebijakan yang dibutuhkan rakyat.
“Negara harus memudahkan rakyat, bukan mempersulit,” tegas Presiden.
Delapan Komoditas Strategis Capai Swasembada
Pembenahan tata kelola pupuk kemudian berjalan beriringan dengan berbagai program percepatan produksi yang dijalankan Kementan.
Pemerintah memperkuat ketersediaan air dan jaringan irigasi, meningkatkan luas dan intensitas tanam, memperkuat sarana produksi, menjaga harga hasil panen, serta memperluas kolaborasi lintas sektor.
Berbagai kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya memenuhi target swasembada pangan yang sebelumnya diberikan Presiden Prabowo kepada Mentan Andi Amran.
Target yang semula direncanakan dalam waktu empat tahun, menurut Prabowo, berhasil dipercepat menjadi hanya satu tahun.
Hasilnya, Indonesia disebut telah mencapai swasembada pada delapan komoditas strategis, yakni beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit.
Capaian tersebut dinilai semakin strategis di tengah ketidakpastian pangan global yang dipengaruhi perubahan iklim dan ancaman cuaca ekstrem.
Presiden Prabowo bahkan optimistis ketahanan pangan Indonesia kini semakin kuat menghadapi berbagai tantangan, termasuk fenomena El Nino.
“Kita, alhamdulillah, dapat saya laporkan di majelis ini, soal pangan, soal makanan untuk rakyat Indonesia, kita berada dalam keadaan aman dan kita akan mampu menghadapi tantangan-tantangan termasuk tantangan El Nino,” ujarnya.
“Bangsa yang Kuat Mampu Memberi Makan Rakyatnya”
Bagi Prabowo, swasembada pangan bukan hanya persoalan angka produksi. Lebih jauh, swasembada merupakan simbol kemampuan sebuah bangsa untuk berdiri di atas kekuatannya sendiri sekaligus menjamin kebutuhan dasar rakyat.
“Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu memberi makan rakyatnya sendiri,” kata Presiden Prabowo.
Apresiasi yang diberikan kepada Mentan Andi Amran sekaligus menjadi pengakuan terhadap kerja kolektif insan pertanian Indonesia.
Deregulasi mempercepat pelayanan, akses pupuk diperbaiki, sarana produksi diperkuat, harga hasil pertanian dijaga, sementara pemerintah pusat dan daerah bersama TNI-Polri bergerak mengawal produksi pangan.
Menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Presiden Prabowo kembali mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan sebuah negara tidak hanya terletak pada kemampuan mempertahankan eksistensinya, tetapi juga pada kemampuannya menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
“Tugas kita bukan sekadar menjaga republik itu tetap berdiri. Tugas kita adalah memastikan republik ini berhasil sebagai bangsa, republik ini berhasil punya kemampuan untuk hadir di tengah-tengah rakyat dan menghadirkan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkasnya. (rls/red)















