Oleh: Muammar Tauhid
Maulid Nabi di Sulawesi Selatan tidak hanya hidup dalam mimbar-mimbar masjid. Ia tumbuh bersama tradisi masyarakat: dalam ma’baca, songkabala, pembacaan barzanji, hidangan yang dibagikan, hingga pawai kebudayaan. Di tengah keberagaman bentuk itu, ada satu pesan yang semestinya tetap sama: menghadirkan kembali kecintaan kepada Rasulullah Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu contohnya adalah Maudu Lompoa ri Paropo di Kota Makassar. Tradisi yang berlangsung setiap tahun ini bukan sekadar perayaan Maulid, tetapi menjadi ruang perjumpaan antara agama, budaya dan masyarakat. Pemerintah Kota Makassar menyebutnya sebagai pergelaran seni dan budaya tradisional Kampung Paropo dalam rangka memperingati Maulid Nabi, yang diisi dengan shalawatan, pameran benda pusaka, pertunjukan seni, kuliner UMKM hingga seremoni hikmah Maulid.
Di Paropo, Maulid tidak hanya dibaca, tetapi dihidupkan melalui kebersamaan. Masyarakat berkumpul, bergotong royong, menyiapkan kanre maudu’, mengikuti pawai, menampilkan kesenian tradisional dan melibatkan generasi muda. Penelitian terbaru tentang Maudu Lompoa ri Paropo bahkan menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat berlangsung sejak tahap persiapan hingga evaluasi, serta memperkuat solidaritas, gotong royong dan identitas budaya masyarakat.
Dalam konteks inilah ma’baca dan songkabala dapat dibaca sebagai bagian dari kekayaan ekspresi keislaman masyarakat Sulawesi Selatan. Tradisi bukan agama itu sendiri, tetapi dapat menjadi wadah bagi nilai agama selama tidak bertentangan dengan prinsip tauhid dan syariat. Karena itu, yang perlu dijaga bukan hanya bentuk tradisinya, melainkan nilai yang berada di baliknya: doa, sedekah, silaturahmi, kebersamaan dan penghormatan kepada Rasulullah.
Kita juga perlu berhati-hati agar Maulid tidak berhenti pada kemeriahan. Jangan sampai kita sibuk menghias kanre maudu’, tetapi lupa menghias akhlak. Jangan sampai kita memperbanyak selawat, tetapi lisan masih mudah menyakiti. Sebab mencintai Nabi bukan hanya dengan menyebut namanya, tetapi dengan berusaha menghadirkan sifat-sifatnya dalam kehidupan: jujur, lembut, amanah, peduli dan penuh kasih sayang.
Maudu Lompoa ri Paropo memberi pelajaran bahwa kebudayaan tidak selalu menjadi lawan bagi agama. Keduanya dapat bertemu ketika budaya digunakan untuk memperkuat nilai-nilai kebaikan. Bahkan dalam konteks masyarakat perkotaan yang semakin modern, tradisi semacam ini menjadi cara untuk mengingatkan generasi muda bahwa kemajuan tidak harus membuat seseorang tercerabut dari akar budayanya. Paropo sendiri telah dikenal sebagai kampung yang memiliki tradisi budaya dan keagamaan, termasuk Maudu Lompoa dan songkabala.
Namun, tradisi harus terus diberi makna. Setiap generasi memiliki tugas untuk mewarisi bukan hanya bentuk, tetapi juga ruhnya. Jika generasi hari ini hanya mewarisi kemeriahan tanpa memahami pesan di baliknya, tradisi perlahan akan menjadi tontonan. Sebaliknya, jika tradisi mampu melahirkan kepedulian, persaudaraan, gotong royong dan kecintaan kepada Nabi, maka ia akan tetap relevan meski zaman berubah.
Maulid bukan sekadar tentang bagaimana kita merayakan kelahiran Nabi, tetapi bagaimana kelahiran Nabi mengubah kehidupan kita. Dari ma’baca kita belajar berbagi, dari songkabala kita belajar berdoa dan berharap kepada Allah, dan dari Maudu Lompoa ri Paropo kita belajar bahwa cinta kepada Nabi dapat menemukan bahasa dalam kebudayaan. Sebab tradisi yang baik bukanlah tradisi yang hanya membuat kita mengenang masa lalu, tetapi tradisi yang membuat kita menjadi manusia yang lebih baik hari ini. (*).















