BANJAR, NALARMEDIA — Perjalanan karier AKBP Dr. Fadli, S.H., S.I.K., M.Si. di Kepolisian Republik Indonesia (Polri) tidak dibangun dalam waktu singkat.
Bertahun-tahun bergelut di dunia reserse, mengungkap berbagai kasus besar hingga menangani perkara korupsi, menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang perwira Polri yang kini mendapat amanah baru sebagai Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus (Wadir Reskrimsus) Polda Sulawesi Tenggara (Sultra).
Di balik perjalanan panjang tersebut, terdapat prinsip hidup yang terus dipegang teguh oleh AKBP Fadli, yakni falsafah Bugis “Taro Ada Taro Gau”, yang bermakna apa yang diucapkan harus selaras dengan apa yang diperbuat.
Bagi AKBP Fadli, sebuah perkataan bukan sekadar rangkaian kata. Apa yang telah disampaikan harus dapat dipertanggungjawabkan melalui tindakan nyata.
Prinsip tersebut menjadi salah satu nilai yang ia pegang dalam menjalankan tugas, membangun kepemimpinan, maupun menjalani kehidupan sehari-hari.
Prinsip itu pula yang berjalan beriringan dengan kedisiplinan yang diterapkannya dalam berbagai hal.
Baginya, disiplin bukan hanya tentang menaati waktu dan aturan, tetapi juga tentang konsistensi, tanggung jawab serta kesungguhan dalam menyelesaikan setiap amanah yang diberikan.
Sebelum menerima amanah tersebut, AKBP Dr. Fadli menjabat sebagai Kapolres Banjar, Polda Kalimantan Selatan.
Selama kurang lebih 19 bulan memimpin Polres Banjar, berbagai kasus menonjol berhasil diungkap hingga tuntas, mulai dari perkara pembunuhan, pencurian dengan pemberatan hingga tindak pidana narkotika.
Namun, jauh sebelum dipercaya memimpin sebagai Kapolres, dunia reserse telah menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya.
Dibesarkan di Dunia Reserse
AKBP Fadli dikenal sebagai perwira Polri yang sebagian besar perjalanan kariernya ditempa di bidang reserse dan penegakan hukum.
Jejak pengabdiannya dimulai dari sejumlah jabatan strategis di wilayah Jawa Tengah selama sembilan tahun berkarier.
Ia pernah dipercaya sebagai Kasat Reskrim di Polres Karanganyar, kemudian Kasat Reskrim Polres Brebes, hingga Kasat Reskrim Polresta Solo.
Dari berbagai penugasan tersebut, AKBP Fadli ditempa dalam dinamika penanganan berbagai perkara kriminal.
Sejumlah kasus besar, termasuk pembunuhan, perampokan hingga perkara terorisme, pernah menjadi bagian dari pengalaman penegakan hukum yang ditanganinya.
Selain itu, ia juga memiliki pengalaman panjang dalam penanganan kasus tindak pidana korupsi.
Pengalaman tersebut kemudian membawanya semakin dekat dengan bidang reserse kriminal khusus.
Ia pernah bertugas sebagai Kanit Tindak Pidana Korupsi dan menangani berbagai perkara korupsi di Jawa Tengah sebelum melanjutkan perjalanan pengabdiannya di sejumlah wilayah Indonesia.
Dalam setiap perjalanan penugasannya, kedisiplinan menjadi salah satu nilai yang terus diterapkan AKBP Fadli.
Dunia reserse yang penuh dengan dinamika, ketelitian dan tuntutan untuk bergerak cepat membutuhkan konsistensi serta kesiapan dalam mengambil keputusan.
Bagi AKBP Fadli, tugas yang telah menjadi tanggung jawab tidak cukup hanya direncanakan atau dibicarakan, tetapi harus diwujudkan melalui kerja nyata.
Semangat inilah yang sejalan dengan falsafah Bugis yang dipegangnya, “Taro Ada Taro Gau”—perkataan harus sejalan dengan perbuatan.
Rekam Jejak di Empat Polda
Perjalanan karier AKBP Fadli menunjukkan konsistensi yang kuat di bidang reserse kriminal, khususnya penanganan tindak pidana khusus.
Ia pernah menjalankan tugas di lingkungan Polda Sulawesi Selatan, termasuk sebagai Kasubdit III Tipidkor Ditreskrimsus Polda Sulawesi Selatan.
Pada 2023, AKBP Fadli kemudian mendapat penugasan di Polda Kalimantan Selatan sebagai Kasubdit Tipidkor Ditreskrimsus Polda Kalsel.
Di bidang pemberantasan korupsi, kiprahnya mencatatkan prestasi tersendiri.
Bersama jajaran yang dipimpin Fadli saat menjabat Kasubdit Tipidkor Polda Sulsel, pengungkapan kasus korupsi di wilayahnya berhasil menorehkan prestasi hingga meraih capaian peringkat pertama secara nasional dalam pengungkapan kasus korupsi.
Bagi AKBP Fadli yang merupakan jebolan Akpol 2005, keberhasilan tersebut bukan semata tentang penghargaan atau angka statistik.
Penegakan hukum, terutama terhadap tindak pidana korupsi, merupakan bagian dari upaya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap negara dan institusi penegak hukum.
Pada 2023, ia mengikuti pendidikan di Sekolah Staf dan Pimpinan Menengah (Sespimmen) di Bandung.
Setelah menyelesaikan pendidikan, ia kembali mendapat penugasan di Kalimantan Selatan.
Lulusan Program S2 Universitas Diponegoro (Undip) dengan IPK 3,93 ini dipercaya menduduki sejumlah jabatan strategis di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Kalsel, termasuk sebagai Kasubdit Indagsi dan kembali dipercaya memimpin Kasubdit Tipidkor Ditreskrimsus Polda Kalsel.
Pengalaman panjang tersebut semakin mengukuhkan rekam jejaknya sebagai perwira yang besar dan ditempa dalam lingkungan reserse.
Kini, setelah menjalankan penugasan di sejumlah wilayah, AKBP Fadli kembali mendapat amanah baru di Polda Sulawesi Tenggara.
Sebagai Wadir Reskrimsus Polda Sultra, ia akan membawa pengalaman panjangnya dalam penanganan berbagai tindak pidana khusus dan kejahatan yang membutuhkan ketelitian, profesionalitas serta kemampuan investigasi yang kuat.
Memimpin Polres Banjar Selama 19 Bulan
Sebelum menerima amanah sebagai Wadir Reskrimsus Polda Sultra, AKBP Fadli menjalankan tugas sebagai Kapolres Banjar selama kurang lebih 19 bulan.
Dalam masa kepemimpinannya, jajaran Polres Banjar berhasil mengungkap berbagai kasus menonjol yang menjadi perhatian masyarakat.
Perkara pembunuhan, pencurian dengan pemberatan, hingga peredaran narkotika menjadi sejumlah kasus yang berhasil ditangani dan diungkap.
Bagi AKBP Fadli, kepemimpinan di tingkat Polres menjadi ruang yang berbeda dari pengalaman sebelumnya di bidang reserse khusus.
Jika sebelumnya ia banyak berkutat dengan proses investigasi dan pengungkapan perkara, sebagai Kapolres ia juga memikul tanggung jawab lebih luas, termasuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat serta membangun kepercayaan publik terhadap institusi Polri.
Meski demikian, latar belakangnya sebagai seorang reserse tetap melekat kuat.
Pendekatan cepat dalam membaca persoalan, ketelitian dalam melihat fakta serta dorongan untuk menuntaskan perkara menjadi bagian dari karakter kepemimpinannya.
Dalam memimpin, AKBP Fadli juga menerapkan disiplin dalam berbagai aspek. Kedisiplinan tidak hanya menjadi tuntutan bagi dirinya sendiri, tetapi juga menjadi bagian dari budaya kerja yang dibangun bersama jajaran.
Baginya, sebuah organisasi akan berjalan baik ketika setiap anggota memahami tanggung jawab dan menjalankan tugas dengan penuh kesungguhan.
Nilai tersebut kembali berpijak pada prinsip hidup yang dipegangnya, “Taro Ada Taro Gau”. Apa yang menjadi komitmen harus diwujudkan dalam tindakan, dan apa yang disampaikan kepada anggota maupun masyarakat harus diiringi dengan contoh nyata.
Menyandang Gelar Doktor dengan IPK 3,93
Di tengah perjalanan panjangnya sebagai anggota Polri, AKBP Fadli juga menunjukkan perhatian besar terhadap dunia pendidikan.
Ia menyandang gelar Doktor (Dr.) dalam bidang Administrasi Publik dari Universitas Hasanuddin, Makassar, dengan capaian akademik membanggakan, yakni IPK 3,93.
Pencapaian tersebut memperlihatkan sisi lain dari sosok AKBP Fadli.
Di tengah padatnya tugas dan tanggung jawab sebagai aparat penegak hukum, ia tetap menempatkan pendidikan sebagai bagian penting dari proses pengembangan diri.
Pendidikan dijalani dengan kesungguhan dan kedisiplinan, sebagaimana prinsip yang diterapkannya dalam menjalankan tugas.
Bagi seorang anggota Polri, pengalaman lapangan dan pendidikan akademik dapat menjadi dua hal yang saling melengkapi.
Pengalaman membentuk ketajaman dalam memahami persoalan, sementara pendidikan memberikan ruang untuk melihat persoalan secara lebih luas, sistematis dan berbasis kajian.
Tetap Menjaga Ikatan dengan Kampung Halaman
Di luar tugas kedinasan, AKBP Fadli juga dikenal memiliki kedekatan dengan dunia pendidikan dan almamater.
Ia dipercaya sebagai Ketua Ikatan Alumni (IKA) SMA Negeri 9 Bone.
Peran tersebut menjadi bagian lain dari perjalanan hidupnya, yang memperlihatkan bahwa di tengah berbagai penugasan dan tanggung jawab besar sebagai anggota Polri, hubungan dengan almamater dan daerah asal tetap memiliki tempat tersendiri.
Falsafah Bugis “Taro Ada Taro Gau” yang dipegang teguhnya juga menjadi cerminan nilai budaya yang terus melekat dalam perjalanan hidupnya.
Nilai tentang keselarasan antara perkataan dan perbuatan tersebut menjadi pengingat bahwa jabatan adalah amanah, sementara kepercayaan harus dijaga melalui pembuktian dalam tindakan.
Bagi masyarakat Bone, perjalanan karier AKBP Fadli menjadi gambaran bahwa putra daerah dapat menorehkan kiprah nasional melalui kerja keras, pendidikan, disiplin dan konsistensi dalam menjalankan pengabdian.
Amanah Baru, Tantangan Baru
Kini, perjalanan pengabdian AKBP Dr. Fadli memasuki babak baru.
Dari Kalimantan Selatan, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Wadir Reskrimsus Polda Sulawesi Tenggara.
Penugasan tersebut bukan sekadar perpindahan jabatan, melainkan kelanjutan dari perjalanan panjang seorang perwira yang sejak awal kariernya banyak dibesarkan dalam dunia reserse.
Mulai dari menangani kejahatan konvensional seperti pembunuhan dan perampokan, penanganan perkara terorisme, hingga pemberantasan tindak pidana korupsi, perjalanan tersebut membentuk pengalaman yang panjang dan beragam.
Kini, dengan pengalaman bertugas di sejumlah wilayah dan konsistensi karier di bidang reserse kriminal khusus, amanah sebagai Wadir Reskrimsus Polda Sultra menjadi tantangan sekaligus ruang pengabdian berikutnya.
Dari ruang-ruang penyidikan hingga meja akademik, dari memimpin pengungkapan perkara hingga memimpin satuan kewilayahan sebagai Kapolres, perjalanan AKBP Dr. Fadli menunjukkan bahwa sebuah pengabdian tidak selalu berjalan dalam satu lintasan yang mudah.
Namun konsistensi, kerja keras, disiplin dan kemauan untuk terus belajar menjadi bekal penting dalam setiap tahapan perjalanan.
Prinsip “Taro Ada Taro Gau” pun terus menjadi nilai yang mengiringi langkahnya: bahwa perkataan harus dapat dibuktikan dengan perbuatan, komitmen harus diwujudkan melalui kerja nyata, dan setiap amanah harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Bagi AKBP Dr. Fadli, amanah baru tersebut menjadi kelanjutan dari satu perjalanan panjang: mengabdi dengan disiplin, menegakkan hukum dengan profesionalitas, serta menjaga agar setiap perkataan dan komitmen selalu sejalan dengan perbuatan, di mana pun negara menugaskannya. (red)















