PT Vale Perkuat Transformasi Hijau, Ekspansi Nikel dan Pemberdayaan Masyarakat Berjalan Beriringan

Specialist Environment Sustainability PT Vale Indonesia, Rizki Pratiwi melalui Zoom dalam Sosialisasi Journalist Writing and Photo Competition (JWPC) 2026 yang digelar PT Vale Indonesia Tbk di Panbakers Latimojong, Makassar, Selasa (1 September 2026).
banner 325x300

MAKASSAR, NALARMEDIA.ID — Pertumbuhan industri pertambangan tak lagi semata diukur dari seberapa besar produksi dan penjualan yang mampu dicapai.

Bagi PT Vale Indonesia Tbk, pertumbuhan harus berjalan beriringan dengan inovasi teknologi, perlindungan lingkungan, serta peningkatan manfaat bagi masyarakat.

Prinsip tersebut menjadi bagian penting dalam transformasi PT Vale yang terus dikembangkan di tengah dinamika industri pertambangan dan meningkatnya tuntutan terhadap praktik bisnis berkelanjutan.

Hal itu disampaikan Specialist Environment Sustainability PT Vale Indonesia, Rizki Pratiwi, dalam Sosialisasi Journalist Writing and Photo Competition (JWPC) 2026 yang digelar PT Vale Indonesia Tbk di Panbakers Latimojong, Makassar, Selasa (1 September 2026).

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi PT Vale untuk memperkenalkan pelaksanaan JWPC 2026 kepada kalangan jurnalis.

Sosialisasi kompetisi disampaikan Senior Coordinator Media Relations PT Vale Indonesia Tbk, Suwarny Dammar.

Rizki melalui zoom menjelaskan, transformasi yang dilakukan PT Vale tidak hanya menyasar aspek bisnis.

Perusahaan berupaya membangun keseimbangan antara kepentingan ekonomi, lingkungan, dan sosial.

“Jadi kita ingin bertumbuh dengan cara yang berkelanjutan. Bagaimana menjaga keseimbangan antara people, planet, dan profit,” ungkap Rizki.

Lima Dekade Menambang, Transformasi Terus Berjalan

Lebih dari lima dekade beroperasi di Indonesia, PT Vale kini memiliki wilayah operasional di Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa.

Dalam perjalanan panjang tersebut, perusahaan terus mengembangkan praktik pertambangan yang bertanggung jawab sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap perekonomian nasional.

Pada 2025, PT Vale mencatat peningkatan produksi dan penjualan nikel. Pertumbuhan tersebut antara lain ditopang kontribusi dari proyek Bahodopi dan Pomalaa yang turut memberikan dampak terhadap kinerja perusahaan serta manfaat ekonomi yang lebih luas.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi industri pertambangan, PT Vale justru melanjutkan ekspansi melalui sejumlah proyek strategis.

Beberapa di antaranya adalah NGP Sorowako Limonite, Morowali, Pomalaa, dan Indonesia Growth Project (IGP).

“Dalam kondisi isu-isu besar, beberapa perusahaan tambang justru tutup. PT Vale justru melakukan ekspansi terhadap proyek-proyeknya. Kita ada proyek di NGP Sorowako Limonite, kita ada Morowali, dan kita ada Pomalaa, termasuk IGP. Ke depannya kita akan terus melakukan pengembangan,” ujar Rizki.

Menurutnya, pengembangan tersebut bukan sekadar untuk memperbesar kapasitas bisnis. Transformasi juga diarahkan untuk memperkuat rantai pasok bahan baku kendaraan listrik di Indonesia.

Dengan demikian, pengembangan industri nikel diharapkan tidak berhenti pada aktivitas pertambangan, tetapi turut mengambil peran dalam ekosistem industri masa depan yang membutuhkan bahan baku untuk teknologi kendaraan listrik.

Teknologi Hijau Jadi Bagian Operasional

Seiring ekspansi bisnis, aspek lingkungan menjadi salah satu bagian yang terus diperkuat PT Vale.

Perusahaan menerapkan berbagai inovasi hijau dalam kegiatan operasional, mulai dari pengembangan nursery, pengelolaan air tambang berbasis teknologi, hingga penggunaan teknologi penangkap debu pada fasilitas pengolahan.

Teknologi tersebut digunakan untuk mengurangi emisi partikulat yang muncul dari proses produksi.

“Inovasi hijau itu bagaimana kami menghadirkan nursery di area growth kita, bagaimana PT Vale menerapkan teknologi untuk mengelola air rendaman. Itu adalah salah satu teknologi yang kami lakukan,” kata Rizki.

Selain mengandalkan teknologi, PT Vale juga menjalankan reklamasi progresif serta meningkatkan upaya penyerapan karbon sebagai bagian dari praktik pertambangan berkelanjutan.

Rehabilitasi dan konservasi juga dilakukan di luar area operasional perusahaan. Program tersebut mencakup sekitar 30 kabupaten di lima provinsi dengan luas mencapai sekitar 17.000 hektare.

Sementara dalam pengelolaan air tambang, PT Vale telah membangun lebih dari 100 sediment pond atau kolam pengendapan.

Kolam tersebut berfungsi sebagai bagian dari sistem pengelolaan air sebelum dialirkan keluar dari area operasional. Air terlebih dahulu mendapatkan perlakuan sehingga memenuhi baku mutu sebelum masuk ke badan air.

“Kita melakukan treatment air. Kemudian ketika air tersebut keluar ke danau, hasilnya menjadi jernih,” ujarnya.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan ditempatkan sebagai bagian dari proses operasional perusahaan, bukan hanya dilakukan setelah aktivitas pertambangan selesai.

Masyarakat Tak Sekadar Jadi Penerima Manfaat

Transformasi PT Vale juga menyentuh aspek sosial dan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Melalui berbagai program pemberdayaan, perusahaan mendorong masyarakat agar memiliki kapasitas mengelola potensi ekonomi secara mandiri dan berkelanjutan.

Salah satu fokusnya adalah pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Di Sorowako, sekitar 104 UMKM telah mendapatkan pendampingan. Program serupa juga dikembangkan di Morowali dan Pomalaa.

Namun, PT Vale tidak menjadikan jumlah penerima program sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.

“Targetnya bukan jumlah, tetapi kualitas. Kami berharap ada UMKM yang naik kelas,” ujar Rizki.

Pendampingan diberikan mulai dari penyusunan business plan, pengelolaan keuangan, pengembangan produk hingga regenerasi usaha.

Pelibatan generasi muda juga menjadi perhatian untuk memastikan usaha masyarakat tidak berhenti pada satu generasi.

Selain UMKM, PT Vale melakukan penguatan komunitas agar masyarakat mampu mengelola program pemberdayaan secara berkelanjutan.

“Kita juga melakukan penguatan komunitas agar mampu mengelola program pemberdayaan secara berkelanjutan,” katanya.

Pendekatan tersebut diarahkan agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi memiliki kemampuan untuk melanjutkan, mengembangkan, bahkan mengelola program secara mandiri.

JWPC 2026 Jadi Ruang Jurnalis Mengangkat Isu Pertambangan

Di tengah transformasi tersebut, PT Vale kembali menggelar Journalist Writing and Photo Competition (JWPC) 2026 sebagai bagian dari ruang kolaborasi dengan insan pers.

Senior Coordinator Media Relations PT Vale Indonesia Tbk, Suwarny Dammar, mengatakan JWPC 2026 membuka kompetisi bagi pewarta dengan sejumlah kategori.

Kategori tersebut meliputi Regional Sulawesi Selatan, Regional Sulawesi Tenggara, Regional Sulawesi Tengah, Nasional, serta Media Ramah Tambang.

Kompetisi foto juga terbuka bagi pewarta foto.

Menariknya, peserta diperbolehkan mengikuti lebih dari satu kategori. Artinya, seorang pewarta foto yang juga mengikuti lomba tulisan tetap memiliki kesempatan memenangkan lebih dari satu kategori sepanjang memenuhi ketentuan kompetisi.

“Kalau ada pewarta foto yang juga mengikuti lomba tulis, kemudian dia menang di dua kategori, itu tidak apa-apa,” jelas Suwarny.

Untuk kategori lomba utama, hadiah yang disiapkan mencapai Rp20 juta untuk juara pertama, Rp15 juta juara kedua, Rp10 juta juara ketiga, serta masing-masing Rp5 juta untuk juara harapan.

Sedangkan kategori Media Ramah Tambang menyediakan hadiah Rp15 juta untuk juara pertama, Rp10 juta juara kedua, dan Rp5 juta juara ketiga.

Media Ramah Tambang Dinilai dari Rekam Pemberitaan

Suwarny menjelaskan, kategori Media Ramah Tambang memiliki mekanisme penilaian yang berbeda.

Penilaian tidak hanya didasarkan pada satu karya yang dikirimkan peserta, tetapi melihat rekam pemberitaan media secara keseluruhan.

Tim media monitoring PT Vale akan berkolaborasi dengan dewan juri untuk melihat media yang memiliki perhatian terhadap isu-isu pertambangan dan menghasilkan pemberitaan yang konstruktif mengenai sektor tersebut.

“Ini tidak hanya tentang PT Vale. Teman-teman sering menulis berbagai pemberitaan tambang. Tim media monitoring akan melihat dan kemudian akan dinilai oleh tim juri,” tuturnya.

Kategori Media Ramah Tambang juga bersifat nasional. Dengan demikian, media lokal maupun regional memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti dan memenangkan kategori tersebut.

Di balik kesempatan memenangkan hadiah, Suwarny mengingatkan para jurnalis agar tidak mengabaikan ketentuan administrasi.

Menurutnya, pada penyelenggaraan sebelumnya terdapat karya yang sebenarnya memiliki kualitas baik, tetapi harus gugur karena tidak memenuhi persyaratan administratif.

Salah satu ketentuan yang perlu diperhatikan adalah panjang tulisan untuk kategori straight news.

Peserta diwajibkan mengirimkan karya dengan panjang minimal 500 kata.

“Minimal 500 kata, bukan maksimal 500 kata. Kalau tidak sampai 500 kata, gugur. Jadi boleh lebih panjang,” tegasnya.

Tulisan yang dibuat dalam bentuk seri juga dapat digabung menjadi satu karya selama tetap memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan.

Selain jumlah kata, peserta juga harus memperhatikan periode karya yang diperbolehkan. Foto maupun tulisan yang dikirim wajib sesuai dengan rentang waktu yang tercantum dalam ketentuan lomba.

Karena itu, Suwarny meminta para peserta membaca secara teliti seluruh persyaratan sebelum mengirimkan karya.

“Intinya, teman-teman harus memperhatikan seluruh ketentuan lomba supaya karya yang sudah bagus tidak gugur hanya karena masalah administrasi,” ucapnya.

Bagi PT Vale, transformasi bisnis, inovasi hijau, konservasi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat merupakan rangkaian yang saling berkaitan. Sementara bagi insan pers, JWPC 2026 menjadi ruang untuk mengangkat berbagai cerita, inovasi, dan dinamika sektor pertambangan melalui karya jurnalistik yang berkualitas. (ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *