BONE, NALARMEDIA.ID — Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober menjadi momentum untuk kembali meneguhkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Bagi Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. (BupAAS), peringatan tersebut tidak semestinya berhenti pada upacara dan seremoni.
Lebih dari itu, Hari Kesaktian Pancasila menjadi pengingat bahwa persatuan, gotong royong, toleransi, keadilan, serta kepedulian terhadap sesama harus terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pancasila, dalam pemaknaan BupAAS, dapat menjadi fondasi untuk membangun Bone yang tidak hanya maju dari sisi pembangunan fisik, tetapi juga kuat dari sisi sosial dan kemasyarakatan.
Semangat persatuan menjadi modal penting dalam menjalankan pembangunan daerah. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, tokoh agama, tokoh adat, pemuda, serta berbagai elemen lainnya menjadi bagian penting dalam mewujudkan pembangunan yang manfaatnya dapat dirasakan secara luas.
Pancasila juga bukan sekadar hafalan lima sila. Nilainya harus terlihat dalam tindakan.
Gotong royong, misalnya, dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan dan sesama. Keadilan dapat tercermin melalui keberpihakan terhadap masyarakat yang membutuhkan. Persatuan dapat diwujudkan dengan menjaga hubungan harmonis di tengah perbedaan.
Sementara semangat kemanusiaan dapat diterjemahkan melalui kepedulian terhadap masyarakat yang menghadapi kesulitan.
Dengan demikian, peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi kesempatan untuk melihat kembali sejauh mana nilai-nilai dasar negara telah hadir dalam kebijakan dan pelayanan publik.
Di tengah perubahan zaman dan derasnya arus informasi digital, tantangan menjaga persatuan juga semakin kompleks.
BupAAS juga memaknai momentum ini sebagai ajakan kepada masyarakat Bone agar menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan alasan untuk terpecah.
Sebab, pembangunan daerah membutuhkan suasana yang aman, harmonis dan penuh kebersamaan. Ketika masyarakat saling menghargai dan bekerja bersama, berbagai program pembangunan akan lebih mudah dijalankan.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila pun menjadi pengingat bahwa menjaga Indonesia bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau aparat negara. Setiap warga memiliki peran melalui tindakan sederhana di lingkungan masing-masing.
Mulai dari menghormati perbedaan, menjaga persaudaraan, membantu sesama, menaati aturan, hingga menggunakan media sosial secara bijak.
Nilai-nilai tersebut menjadi semakin penting bagi generasi muda. Pancasila perlu hadir bukan hanya dalam buku pelajaran atau upacara bendera, tetapi juga dalam cara generasi muda berinteraksi, mengambil keputusan, menyampaikan pendapat, dan menyikapi perbedaan.
Bagi Bone, semangat itu sejalan dengan cita-cita membangun daerah yang maju tanpa meninggalkan identitas, budaya dan nilai-nilai luhur masyarakat.
Karena itu, Hari Kesaktian Pancasila bukan sekadar mengenang perjalanan sejarah bangsa, melainkan momentum untuk memastikan Pancasila tetap hidup dalam setiap langkah pembangunan dan kehidupan masyarakat.
Dari Bone, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui satu kekuatan utama: bersatu, bergotong royong, dan bergerak bersama untuk kemajuan daerah serta Indonesia. (red)















