Land4Lives Tutup Setelah Lima Tahun di Bone, Wabup AAP: Jangan Biarkan Praktik Baik Berhenti

Dialog Multipihak Land4Lives: Meneguhkan Komitmen Bersama untuk Lanskap Sehat dan Masyarakat Sejahtera yang digelar di Hotel Novena, Watampone, Selasa (6 Oktober 2026).
banner 325x300

BONE, NALARMEDIA.ID — Lima tahun bukan waktu yang singkat. Selama periode itu, pengetahuan, praktik baik, dan kolaborasi dibangun untuk satu tujuan: memastikan bentang lahan tetap sehat, pangan tetap tersedia, dan masyarakat semakin sejahtera.

Kini, rangkaian program Land4Lives di Kabupaten Bone resmi berakhir.

Namun, penutupan program ini ditegaskan bukan sebagai akhir dari gerakan menjaga lingkungan dan memperkuat ketahanan masyarakat.

Pesan itu mengemuka dalam Dialog Multipihak Land4Lives: Meneguhkan Komitmen Bersama untuk Lanskap Sehat dan Masyarakat Sejahtera yang digelar di Hotel Novena, Watampone, Selasa (6 Oktober 2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati (Wabup) Bone, H. Andi Akmal Pasluddin (AAP) , serta 11 pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) yang selama ini menjadi mitra Land4Lives.

Land4Lives merupakan proyek riset-aksi yang bekerja bersama Pemerintah Kabupaten Bone sejak 2021.

Program tersebut mendapat dukungan Pemerintah Kanada melalui Global Affairs Canada dan dilaksanakan oleh ICRAF Indonesia, yang kini menggunakan nama operasional Landscape Alliance.

Di hadapan para pemangku kepentingan, Wabup Andi Akmal menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang telah dilakukan selama lima tahun.

“Lima tahun kita bersama ICRAF. Kita patut berterima kasih karena Bone menjadi salah satu dari tiga daerah sasaran Land4Lives di Indonesia,” tutur Andi Akmal.

Menurutnya, selama lima tahun pelaksanaan, Land4Lives telah memberikan kontribusi penting dalam meningkatkan kapasitas pemerintah dan masyarakat, khususnya dalam perencanaan serta pengelolaan bentang lahan.

Ia menilai persoalan ketahanan iklim, ketahanan pangan dan pengelolaan bentang lahan saat ini telah berkembang menjadi isu global.

Namun, dampaknya justru dirasakan secara nyata hingga ke tingkat masyarakat dan desa.

“Terima kasih kepada ICRAF Indonesia dan Global Affairs Canada yang telah memberikan pengetahuan dan pendampingan. Ada beberapa desa yang telah menjadi percontohan sehingga lahannya dapat menjadi lebih produktif,” katanya.

Praktik Baik Jangan Berhenti

AAP menegaskan, berakhirnya proyek tidak boleh membuat berbagai praktik baik yang telah dibangun selama lima tahun ikut berhenti.

Sebaliknya, pengalaman dari desa-desa dampingan harus menjadi modal untuk dikembangkan di wilayah lain di Kabupaten Bone.

“Yang terpenting bagaimana Land4Lives ini hadir untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Bentang lahan bisa kita tanami berbagai macam tanaman yang saling mendukung tanpa merusak fungsi lahan dan lingkungan,” jelasnya.

Menurutnya, konsep pengelolaan bentang lahan yang berkelanjutan juga memiliki hubungan erat dengan agenda pembangunan Kabupaten Bone, terutama dalam memperkuat sektor pangan sekaligus membuka ruang pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Dengan pengelolaan sumber daya alam yang tepat dan dukungan berbagai pihak, Bone dinilai memiliki peluang besar untuk terus memperkuat posisinya sebagai salah satu daerah penyangga produksi pangan.

“Praktik baik yang sudah dilakukan di desa-desa dampingan harus terus dikembangkan. Pendampingan juga diharapkan bisa diarahkan ke desa-desa lain sehingga manfaatnya semakin luas,” tambahnya.

Sungai Disebut sebagai Urat Nadi Bone

Sementara itu, Country Program Director ICRAF Indonesia, Andree Ekadinata, mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan daerah aliran sungai (DAS) di Bone.

Menurutnya, keberadaan sungai tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat, sehingga kondisi DAS harus menjadi perhatian bersama.

“Yang menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Bone salah satunya adalah keberlangsungan daerah aliran sungai. Sungai yang kita punya ini adalah urat nadi kita. Pastikan daerah aliran sungai kita sehat,” ujarnya.

Andree menekankan tiga prinsip penting dalam pengelolaan bentang lahan, yakni melindungi kawasan yang masih baik, memulihkan lahan yang telah mengalami kerusakan, serta memanfaatkan lahan secara bijaksana.

“Lindungi, pulihkan lahan yang terlanjur rusak dan manfaatkan dengan bijaksana,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan penting dalam dialog multipihak. Sebab, menjaga lanskap bukan hanya persoalan menanam pohon atau mempertahankan kawasan hijau, tetapi bagaimana seluruh sumber daya alam dikelola agar tetap produktif tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan.

Kanada Dorong Capaian Land4Lives Dilanjutkan

Harapan serupa disampaikan Hari Basuki dari Global Affairs Canada.

Ia berharap berbagai pengetahuan, inovasi, dan capaian yang telah lahir selama lima tahun pelaksanaan Land4Lives di Bone dapat terus dikembangkan setelah proyek secara resmi berakhir.

“Kita berharap apa yang telah dicapai selama lima tahun ini bisa dikembangkan dan diperdalam lagi hasilnya sehingga membawa dampak yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, penghargaan diberikan kepada sejumlah petani pelopor serta 11 OPD yang dinilai berkontribusi dalam pelaksanaan Land4Lives di Kabupaten Bone.

Dialog juga diisi pemaparan capaian program serta diskusi panel yang melibatkan Pokja Bentang Lahan, KPH Ulubila, petani pelopor, Dinas Pendidikan, dan Puspaga Bone.

Tak hanya berbicara mengenai kebijakan dan lingkungan, kegiatan tersebut juga memperlihatkan hasil nyata dari kelompok usaha tani dampingan. Sejumlah produk lokal dipamerkan, mulai dari gula aren, madu, minyak kelapa murni (VCO), hingga manisan kolang-kaling.

Berakhirnya Land4Lives di Bone akhirnya membawa satu pesan besar: program boleh selesai, tetapi pengetahuan dan praktik baik tidak boleh ikut berakhir.

Lima tahun pendampingan menjadi modal bagi pemerintah, masyarakat, petani dan para pemangku kepentingan untuk melanjutkan pengelolaan bentang lahan secara berkelanjutan.

Sebab, lanskap yang sehat, pangan yang kuat dan masyarakat yang sejahtera bukanlah tiga tujuan yang berdiri sendiri. Ketiganya saling terhubung dan harus dijaga bersama. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *