Makna dan Perjuangan Pengecatan Patung Arung Palakka di Bone

Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bone, Dray Vibrianto secara simbolis melakukan pengecatan pada ukiran gelar Radja Palacca, Sabtu (14 Februari 2026). (ist)
banner 325x300

BONE, NALARMEDIA – Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bone, Dray Vibrianto secara simbolis melakukan pengecatan pada ukiran gelar Radja Palacca, Sabtu (14 Februari 2026). Ada perjuangan dan makna di dalamnya.

Prosesi ini menjadi tanda berakhirnya seluruh rangkaian restorasi dan pengecatan ulang Patung Arung Palakka yang telah berlangsung selama tiga pekan.

Gelaran ini menghidupkan kembali ikon ​di Bumi Arung Palakka. Bukan sekadar monumen perunggu. Simbol harga diri dan identitas masyarakat Bone.

Namun, kondisi ikon daerah ini sempat memprihatinkan setelah bertahun-tahun tidak mendapatkan perawatan intensif. Cat yang memudar dan beberapa titik lubang akibat korosi sempat mengaburkan kegagahan sang pahlawan.

​Merespons kondisi tersebut, Bupati Andi Asman memberikan restu Kepala DLH Bone, Dray Vibrianto untuk pemugaran.

Tahapan dimulai secara saksama sejak 24 Januari 2026 hingga tuntas pada 14 Februari 2026.

Restorasi ini meliputi penambalan bagian patung yang rusak serta pengecatan ulang dengan material khusus untuk menjaga ketahanan monumen dari cuaca ekstrem.

​Raja yang Mencintai Rakyatnya

​Restorasi ini juga menjadi pengingat akan kebesaran sejarah Arung Palakka (La Tenritatta).

Sosok Arung Palakka dikenal sebagai pemimpin visioner yang memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan rakyatnya.

​Sejarah mencatat bahwa setiap langkah perjuangan Arung Palakka didasari oleh keinginan luhur untuk memerdekakan kaumnya dari penindasan dan kesengsaraan.

Arung Palakka dikenal sebagai sosok raja yang tidak hanya memerintah dari istana, tetapi merasakan langsung denyut nadi penderitaan rakyatnya, menjadikannya simbol pengabdian tanpa batas bagi Bumi Arung Palakka.

​Selaras dengan Visi Bone “Maberre”

Bupati Andi Asman menekankan bahwa pemugaran monumen ini bukan sekadar urusan estetika, melainkan manifestasi dari visi-misi Bone Maberre (Mandiri, Berkeadilan, dan Berkelanjutan).

​Mandiri: kemampuan daerah dalam menjaga dan menghargai warisan sejarahnya sendiri.

​Berkeadilan: memastikan seluruh lapisan masyarakat dapat kembali menikmati ruang publik yang layak dan membanggakan.

​Berkelanjutan: merawat sejarah agar nilai-nilai perjuangan Arung Palakka tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang secara terus-menerus.

​”Dengan selesainya restorasi ini, kita tidak hanya memperbaiki sebuah patung, tetapi kita sedang merawat ingatan kolektif bangsa tentang cinta seorang pemimpin kepada rakyatnya. Ini adalah spirit yang kita bawa dalam membangun Bone yang lebih Maberre,” sebut Bupati Andi Asman di sela-sela kegiatan.

​Kini, Monumen Arung Palakka telah kembali berdiri dengan gagah, siap menyambut masyarakat dan wisatawan dengan wajah baru yang lebih segar, sekaligus menjadi saksi bisu tekad pemerintah daerah dalam menjaga muruah sejarah di tengah modernisasi.

Kepala DLH Kabupaten Bone, Dray Vibrianto menuturkan, patung Arung Palakka merupakan ikon Kabupaten Bone.

Kepala DLH, Dray Vibrianto melanjutkan, pengecatan patung Arung Palakka merupakan bagian pemeliharaan. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *