Tetap Kuat Puasa di Musim Pancaroba, Begini Tips Dokter Koboi Agar Ibadah Maksimal dan Tubuh Tetap Optimal

dr Wachyudi Muchsin SKed SH M.Kes C.Med (Praktisi Kesehatan / Dosen UIM Makassar)
banner 325x300

MAKASSAR, NALARMEDIA —Ramadan tahun ini datang bersamaan dengan musim pancaroba. Lantas, bagaimana supaya tetap kuat berpuasa?

Hujan deras yang tiba-tiba berganti terik matahari ataupun kondisi sebaliknya, membuat kondisi tubuh lebih rentan drop, terlebih bagi umat Muslim yang sedang berpuasa.

Perubahan cuaca yang begitu cepat tak hanya memengaruhi aktivitas harian, tetapi juga daya tahan tubuh. Apalagi saat ini menjalani ibadah puasa.

Nah, di tengah penyesuaian pola makan dan jam istirahat selama Ramadan, risiko gangguan kesehatan seperti dehidrasi, flu, batuk, hingga infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) meningkat.

Praktisi kesehatan yang juga Dosen UIM Makassar, dr. Wachyudi Muchsin, SKed., S.H., M.Kes., C.Med yang akrab disapa Dokter Koboi, berbagi tips sehat dan bugar kepada masyarakat supaya tetap kuat berpuasa di musim pancaroba.

“Tubuh kita sedang beradaptasi karena perubahan pola makan dan jam istirahat saat Ramadan. Ditambah cuaca pancaroba yang ekstrem, daya tahan tubuh bisa menurun jika tidak dijaga dengan baik,” ucap dr. Wachyudi Muchsin,.

Menurutnya, dehidrasi ringan kerap tidak disadari. Padahal gejalanya cukup jelas, mulai dari lemas, pusing, bibir kering, urin berwarna pekat, hingga sulit berkonsentrasi.

Jika diabaikan, kondisi tersebut dapat mengganggu aktivitas sehari-hari bahkan mengurangi kekhusyukan dalam beribadah.

Dokter Koboi menyarankan, agar masyarakat menerapkan pola hidrasi yang tepat selama Ramadan. Kebutuhan cairan sebaiknya dipenuhi secara bertahap saat sahur dan berbuka. Air putih tetap menjadi pilihan utama, disertai konsumsi buah-buahan yang kaya kandungan air seperti semangka dan jeruk.

Selain hidrasi, dr. Wachyudi Muchsin juga menekankan pentingnya asupan nutrisi seimbang. Protein, vitamin alami, serta waktu istirahat yang cukup menjadi kunci menjaga imunitas tubuh selama berpuasa.

“Jangan sampai karena ingin maksimal beribadah, justru kita mengabaikan kebutuhan tubuh. Menjaga kesehatan juga bagian dari ibadah,” tambahnya.

Ia turut mengingatkan agar masyarakat tidak memaksakan diri apabila mengalami gejala demam tinggi, batuk berkepanjangan, atau tanda dehidrasi berat.

Segera beristirahat dan berkonsultasi ke fasilitas kesehatan menjadi langkah bijak untuk mencegah kondisi yang lebih serius.

“Ramadan adalah momentum memperkuat iman sekaligus memperbaiki pola hidup. Sehat itu bukan hanya kebutuhan fisik, tapi juga bentuk syukur atas nikmat yang Allah berikan,” tutupnya.

Dengan kewaspadaan dan ikhtiar menjaga kesehatan, masyarakat diharapkan tetap dapat menjalani Ramadan dengan aman, nyaman, dan produktif, meski cuaca tengah tak menentu. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *