Hardiknas dan Tangga Ajaib Kehidupan: Kisah Wakil Ketua DPRD dari Sawah Menuju Panggung Pengabdian

Wakil Ketua DPRD Takalar, Irwan Iskandar memaknai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 penuh pesan. (ist)
banner 325x300

TAKALAR, NALARMEDIA — Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) selalu menghadirkan banyak cerita tentang perjuangan, harapan, dan mimpi yang berhasil diwujudkan lewat pendidikan.

Bagi Wakil Ketua DPRD Kabupaten Takalar, Irwan Iskandar, Hardiknas bukan sekadar momentum seremonial, tetapi pengingat tentang perjalanan hidup yang ditempa dari kesederhanaan.

Irwan tumbuh dari keluarga petani sederhana. Masa kecilnya akrab dengan lumpur sawah, cangkul, dan kerja keras orang tua. Setiap pulang sekolah ataupun saat libur, ia membantu ayahnya menggarap sawah kecil seluas delapan are yang berada di belakang rumah mereka.

Sawah itu bukan sekadar lahan pertanian, melainkan simbol perjuangan keluarga.

Ayahnya kerap bercerita bahwa sawah tersebut merupakan pemberian neneknya saat menikah dengan sang ibu.

Bersama rumah panggung sederhana dan seekor kerbau, itulah harta paling berharga yang dimiliki keluarga mereka kala itu.

Di balik keterbatasan ekonomi, tersimpan cita-cita besar orang tua terhadap masa depan anaknya.

Irwan mengenang bagaimana seekor kerbau yang setiap pagi ia antar ke sawah akhirnya harus dijual ketika dirinya masuk SMP sekitar 2000.

Hasil penjualan itu dipakai ayahnya membeli motor bekas agar dapat berjualan sayur ke Makassar demi menopang kehidupan keluarga.

Cerita itu menjadi potret nyata pengorbanan orang tua demi pendidikan anak-anaknya. Sebuah perjuangan yang mungkin terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan cinta dan harapan yang luar biasa besar.

Irwan mengaku dirinya tidak selalu menikmati pekerjaan di sawah. Masa kecilnya juga dipenuhi keinginan bermain bola bersama teman-teman kampung.

Bahkan, ia berseloroh bahwa pertandingan “liga super kampung” sering batal karena striker andalannya tidak hadir, sebab harus membantu mengairi tanaman kacang panjang yang hampir panen.

Namun di tengah kehidupan sederhana itu, ada kalimat sang ibu yang terus tertanam kuat dalam ingatannya.

“Kalau kamu rajin ke sekolah, nanti kamu dapat kerjaan di Makassar dan tidak ke sawah lagi.”

Kalimat sederhana itu ternyata menjadi bahan bakar semangat yang mengubah jalan hidupnya. Pendidikan menjadi pintu yang membuka kesempatan lebih luas.

Berkat ketekunan belajar dan doa orang tua, Irwan akhirnya mampu menorehkan perjalanan karier yang membanggakan.

Ia pernah dipercaya menjadi Direktur Utama di dua perusahaan berbeda. Tidak hanya itu, ia juga pernah menjadi Penilai Publik lulusan termuda di Indonesia yang mengantongi sertifikasi dari Kementerian Keuangan.

Bagi Irwan, semua capaian itu bukan lahir dari kemewahan, melainkan dari pendidikan yang diperjuangkan dengan penuh pengorbanan.

Karena itulah, momentum Hardiknas dimaknainya sebagai pengingat bahwa sekolah dapat menjadi jalan perubahan nasib bagi siapa saja.

Ia ingin generasi muda memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang memperoleh ijazah, tetapi tentang membangun masa depan.

Anak-anak dari kampung, dari keluarga petani, dari rumah sederhana sekalipun memiliki peluang yang sama untuk sukses apabila memiliki kemauan belajar dan disiplin menuntut ilmu.

Dalam pandangan Irwan, pendidikan adalah “tangga ajaib” yang mampu mengubah hidup seseorang. Tangga yang membawa seseorang melampaui keterbatasan ekonomi, membuka cakrawala baru, dan menghadirkan kesempatan untuk mengabdi lebih luas kepada masyarakat.

Melalui semangat Hari Pendidikan Nasional, Irwan Iskandar mengajak generasi muda untuk terus rajin sekolah dan bersungguh-sungguh dalam belajar.

Sebab, di balik setiap buku yang dibaca dan setiap ilmu yang dipelajari, tersimpan peluang besar untuk mengubah masa depan menjadi lebih baik. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *