BONE, NALARMEDIA — Kecamatan Barebbo dinilai sangat layak diarahkan menjadi pilot project Delineasi City Farming atau kawasan kota berciri pertanian di Kabupaten Bone.
Gagasan ini muncul dari hasil pengkajian tata ruang yang menempatkan Barebbo sebagai wilayah strategis dengan kekuatan sektor pangan, perikanan, hingga perkebunan yang saling terintegrasi.
Konsep city planning dan city farming sendiri merupakan model perencanaan wilayah perkotaan yang disusun secara terstruktur, konsisten, dan berkesinambungan.
Penataan kawasan tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memperhatikan kondisi geografis, struktur ruang, data teknis, hingga karakter sosial masyarakat.
Fungsional Penata Ruang, Andi Asrijal, SH, mengungkapkan bahwa dari 24 kecamatan di luar kawasan kota, Barebbo menjadi salah satu wilayah paling ideal untuk dikembangkan sebagai kota pertanian modern berbasis ketahanan pangan.
“Barebbo memiliki identitas kuat sebagai wilayah penyangga pangan. Selain kondisi geografis yang lengkap, struktur ruangnya juga sangat mendukung untuk dikembangkan sebagai kawasan city farming,” tutur Andi Asrijal, Kamis (14 Mei 2026).
Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bone, Kelurahan Apala ditetapkan sebagai Pusat Pelayanan Lokal (PPL). Status tersebut membuka peluang Apala berkembang menjadi pusat kota skala kecil yang menopang aktivitas ekonomi, pelayanan publik, dan distribusi pangan.
Apala dinilai memiliki posisi strategis karena hanya berjarak sekitar 8 kilometer dari pusat Kota Watampone.
Kawasan ini juga telah memiliki fasilitas pemerintahan dan pelayanan publik yang cukup lengkap, mulai dari kantor camat, Polsek, Koramil, Puskesmas, pasar, hingga gudang Pertani.
Dengan kondisi tersebut, Apala dipandang berpotensi menjadi penyangga inti ibu kota Kabupaten Bone serta memiliki keterkaitan langsung dengan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW).
Tak hanya itu, kekuatan Barebbo juga terletak pada kondisi geografisnya yang unik. Kecamatan ini memiliki tiga dimensi wilayah sekaligus, yakni dataran, pesisir, dan pegunungan—karakteristik yang tidak dimiliki kecamatan lain di Bone.
Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk Kecamatan Barebbo mencapai sekitar 31.497 jiwa, sementara Kelurahan Apala dihuni sekitar 2.900 jiwa.
Mayoritas masyarakat menggantungkan hidup pada sektor pertanian, perikanan budidaya laut, perkebunan, hingga peternakan.
Secara wilayah, Barebbo terbagi menjadi tiga sektor utama dengan karakter ekonomi berbeda namun saling melengkapi.
Sektor timur yang meliputi Desa Kading dan sekitarnya dikenal kuat pada budidaya perikanan dan kelautan. Sektor tengah, yakni Apala dan sekitarnya, menjadi pusat pertanian dan pelayanan pemerintahan. Sedangkan sektor barat seperti Desa Lampoko identik dengan sektor perkebunan dan budidaya sayur-sayuran unggulan.
Menurut Asrijal, keterhubungan antar sektor tersebut menjadi kekuatan besar dalam membangun konsep kawasan terpadu berbasis pangan.
“Semua simpul yang dimiliki Barebbo dapat membentuk hubungan yang saling menguatkan atau simbiotic partnership. Ini akan mendukung pembentukan kawasan yang sejalan dengan konsep tata ruang berkelanjutan sekaligus menjaga kedaulatan pangan terintegrasi,” jelasnya.
Konsep integrated farming yang digagas di Barebbo diharapkan mampu menjadi model pembangunan kawasan masa depan di Bone, di mana pertanian, perikanan, perkebunan, dan pelayanan publik berjalan beriringan dalam satu sistem yang berkelanjutan. (red)















