“Jangan-jangan Kita Juga Penyebabnya.” Renungan Menyentuh Kadis DLH Bone di Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bone, Dray Vibrianto
banner 325x300

BONE, NALARMEDIA — Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni biasanya identik dengan aksi menanam pohon, bersih-bersih sampah, atau kampanye penyelamatan bumi.

Namun bagi Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bone, Dray Vibrianto, momentum ini sejatinya lebih dari sekadar seremonial tahunan.

Menurutnya, Hari Lingkungan Hidup adalah waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Bukan tentang siapa yang harus disalahkan atas kerusakan bumi, melainkan tentang seberapa besar jejak yang telah kita tinggalkan terhadap lingkungan.

Dalam refleksinya yang berjudul “Hari Lingkungan Hidup dan Muhasabah atas Jejak yang Kita Tinggalkan”, Dray mengajak masyarakat untuk berhenti sejenak dari kebiasaan menunjuk pihak lain sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan.

“Kita sering membayangkan kerusakan lingkungan sebagai sesuatu yang jauh. Kita menunjuk hutan yang gundul, sungai yang tercemar, atau industri yang menghasilkan limbah. Tetapi pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, jangan-jangan sebagian jejak kerusakan itu lahir dari aktivitas kita sehari-hari?” ungkapnya.

Dray menilai, manusia kerap lupa bahwa hampir setiap kenyamanan yang dinikmati saat ini memiliki konsekuensi ekologis. Mulai dari listrik yang digunakan, air yang mengalir dari keran, kendaraan yang dipakai setiap hari, hingga barang-barang konsumtif yang dibeli tanpa pertimbangan kebutuhan.

Padahal, menurutnya, Islam telah mengingatkan manusia melalui firman Allah SWT dalam Surah Ar-Rum ayat 41 bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat ulah tangan manusia sendiri.

“Sebagai khalifah di muka bumi, kita diberi amanah untuk mengelola alam dengan penuh tanggung jawab. Alam diciptakan untuk kemaslahatan manusia, tetapi bukan untuk dieksploitasi tanpa batas,” ujarnya.

Ia mencontohkan persoalan sederhana yang sering dianggap sepele, yakni makanan yang terbuang sia-sia. Padahal secara global, limbah makanan atau food waste menjadi salah satu penyumbang besar emisi gas rumah kaca.

“Ketika kita membuang makanan, yang terbuang bukan hanya nasi atau lauk. Di dalamnya ada air yang digunakan untuk menanam, energi untuk mengolah, bahan bakar untuk mengangkut, serta kerja keras banyak orang. Semua itu meninggalkan jejak lingkungan,” jelasnya.

Begitu pula dengan penggunaan energi listrik yang berlebihan, budaya konsumtif, hingga kebiasaan mengganti barang yang masih layak pakai hanya demi mengikuti tren.

Semua aktivitas tersebut, kata Dray, secara tidak langsung ikut memperbesar tekanan terhadap bumi.

Karena itu, ia mengingatkan bahwa krisis lingkungan yang saat ini dirasakan dunia bukan hanya persoalan teknologi atau lemahnya regulasi. Lebih dari itu, persoalan lingkungan sesungguhnya berkaitan erat dengan akhlak, rasa syukur, dan tanggung jawab manusia terhadap amanah yang diberikan Tuhan.

“Hari Lingkungan Hidup tidak boleh berhenti pada kegiatan simbolis semata. Menanam pohon dan membersihkan sampah tentu penting, tetapi yang lebih penting adalah membangun kesadaran dalam diri tentang bagaimana kita memperlakukan air, energi, makanan, dan seluruh sumber daya yang Allah titipkan kepada kita,” katanya.

Menurut Dray, perubahan besar tidak selalu harus dimulai dari kebijakan global yang rumit. Perbaikan lingkungan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari ruang makan, kebiasaan berbelanja, hingga cara memanfaatkan sumber daya secara bijak.

Ia pun mengajak seluruh masyarakat Bone menjadikan Hari Lingkungan Hidup Sedunia sebagai momentum untuk menundukkan kepala dan bertanya kepada diri sendiri, apakah selama ini sudah cukup bijak dalam menjaga bumi.

“Sebelum kita menuntut perubahan dari orang lain, mari bertanya kepada diri sendiri. Sudahkah kita menjaga nikmat dan titipan Allah ini dengan baik? Karena bumi bukan warisan yang bebas kita habiskan, melainkan amanah yang harus kita serahkan kepada generasi berikutnya dalam keadaan yang layak,” tuturnya.

Di akhir refleksinya, Dray mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama bekerja menjaga iklim dan lingkungan, dimulai dari kesadaran yang paling mendasar: kejujuran melihat jejak yang ditinggalkan oleh diri sendiri.

“Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Mari bekerja untuk iklim, dimulai dari kejujuran melihat jejak yang kita tinggalkan,” pungkasnya. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *