Pompa Listrik Dongkrak Panen, Peternakan Hemat Rp180 Juta per Bulan: PLN Percepat Modernisasi Pertanian di Sidrap

Petani memanfaatkan pompa air berbasis listrik untuk mengairi lahan persawahan di Kabupaten Sidenreng Rappang. Pemanfaatan listrik melalui Program Electrifying Agriculture membantu menekan biaya operasional sekaligus mendukung produktivitas sektor pertanian.
banner 325x300

SIDRAP, NALARMEDIA – Komitmen PT PLN (Persero) dalam mendukung ketahanan pangan nasional semakin nyata melalui Program Electrifying Agriculture (EA).

Di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), program ini berhasil menghadirkan efisiensi besar bagi petani dan peternak dengan memanfaatkan energi listrik untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya operasional.

Hingga Mei 2026, jumlah pelanggan Program Electrifying Agriculture di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat mencapai 4.280 pelanggan dengan total daya terpasang sebesar 206.312 kVA.

Angka ini menunjukkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap pemanfaatan listrik sebagai solusi modern bagi sektor agrikultur.

Salah satu implementasi program tersebut terlihat di kawasan persawahan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Duampanua, Desa Baranti, Kabupaten Sidrap.

Di kawasan seluas sekitar 1.750 hektare itu, sebanyak 11 titik pompa irigasi listrik telah beroperasi sejak April 2026 untuk mendukung Program Optimalisasi Lahan dan Listrik Masuk Sawah yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Sidrap.

Sebelum beralih ke listrik, petani mengandalkan pompa berbahan bakar gas dan diesel yang memerlukan biaya tinggi.

Untuk mengoperasikan satu pompa dibutuhkan sekitar tiga tabung LPG tiga kilogram per hari dengan total biaya mencapai Rp75 ribu per hari atau sekitar Rp2,25 juta per bulan.

Setelah menggunakan listrik PLN, biaya tersebut turun drastis. Dengan konsumsi energi rata-rata 250 kWh per bulan, biaya operasional pompa hanya sekitar Rp270 ribu per bulan, atau hampir sembilan kali lebih hemat dibanding sebelumnya.

Ketua Gapoktan Duampanua, Ruslan, mengaku merasakan langsung manfaat dari penggunaan listrik untuk sistem irigasi pertanian.

“Kami merasa sangat terbantu sejak menggunakan listrik untuk pompa air. Sebelumnya kami harus membeli dan mengangkut gas setiap hari. Sekarang jauh lebih mudah dan biaya produksi bisa ditekan hingga tiga sampai empat kali lebih hemat dibanding sebelumnya. Selain itu, pengoperasionalannya juga lebih nyaman karena tidak bising dan lebih ramah lingkungan,” ungkap Ruslan.

Selain mengurangi biaya produksi, pompa listrik juga memberikan kemudahan bagi petani karena tidak lagi bergantung pada ketersediaan bahan bakar yang kerap sulit diperoleh.

Operasional yang lebih senyap dan bebas emisi turut mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Tak hanya sektor pertanian, modernisasi melalui listrik juga dirasakan di sektor peternakan.

CV Cahaya Tiga Putri, salah satu peternakan ayam petelur di Sidrap, kini menggunakan daya listrik sebesar 555 kVA dengan tambahan daya 197 kVA untuk mendukung pengembangan kandang modern.

Sebelumnya, peternakan tersebut mengandalkan pembangkit diesel dengan biaya produksi listrik mencapai sekitar Rp4.500 per kWh. Setelah beralih ke listrik PLN, biaya energi turun menjadi sekitar Rp1.100 per kWh.

Dampaknya sangat signifikan. Biaya operasional energi yang sebelumnya mencapai Rp240 juta per bulan, kini hanya sekitar Rp60 juta per bulan, atau terjadi penghematan hingga Rp180 juta setiap bulan.

Direktur CV Cahaya Tiga Putri, Usman Appas, menilai kehadiran listrik PLN menjadi faktor penting dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha peternakannya.

“Dengan listrik PLN, kegiatan operasional peternakan menjadi jauh lebih hemat, mudah, dan efisien. Seluruh sistem kandang dapat berjalan secara otomatis sehingga pengelolaan ternak menjadi lebih optimal. Kami juga tidak lagi harus menyediakan dan mengelola stok bahan bakar diesel dalam jumlah besar untuk kebutuhan harian,” katanya.

Menurut Usman, sistem otomatisasi yang didukung listrik andal memungkinkan pengaturan pakan, suhu kandang, ventilasi, hingga pencahayaan berjalan lebih optimal sehingga produktivitas ternak meningkat.

Ia juga mengapresiasi komitmen PLN dalam menghadirkan pasokan listrik yang stabil untuk mendukung sektor agrikultur di Sidrap.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada PLN yang terus menghadirkan layanan listrik yang andal. Dukungan ini menjadi salah satu faktor penting yang mendorong kemajuan sektor peternakan,” tambahnya.

Bupati Sidenreng Rappang, Syaharuddin Alrif, turut mengapresiasi langkah PLN dalam menghadirkan pompanisasi listrik bagi petani.

“Kami sebagai perwakilan warga serta petani mengucapkan terima kasih atas upaya PLN dalam menghadirkan pompanisasi listrik. Kami optimistis dengan adanya listrik, produktivitas hasil panen petani bisa meningkat,” ujarnya.

Ia bahkan optimistis program elektrifikasi pompanisasi mampu mendorong petani meningkatkan frekuensi panen hingga tiga kali dalam setahun.

Sementara itu, General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah, menegaskan bahwa Program Electrifying Agriculture merupakan salah satu strategi PLN untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pemanfaatan energi listrik yang lebih efisien dan produktif.

“PLN tidak hanya menghadirkan listrik sebagai kebutuhan dasar, tetapi juga sebagai energi penggerak produktivitas. Melalui Program Electrifying Agriculture, kami ingin membantu petani dan peternak meningkatkan hasil produksi sekaligus menghemat biaya operasional. Program ini juga menjadi bentuk dukungan PLN terhadap kebijakan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional,” jelasnya.

Melalui program ini, PLN UID Sulselrabar terus memperluas pemanfaatan energi listrik di sektor agrikultur guna mendukung ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas usaha masyarakat, mempercepat modernisasi pertanian dan peternakan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat. (ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *