BONE, NALARMEDIA – Semangat persaudaraan, toleransi, dan cinta kasih mewarnai perayaan Gema Raya Sannipata Trisuci Waisakha Puja 2570 BE/2026 yang digelar di ruang utama Vihara Dharma Palakka, Kabupaten Bone, Ahad (28 Juni 2026).
Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. (BupAAS) bersama Wakil Bupati Bone, Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, S.P., M.M., hadir langsung mengikuti rangkaian perayaan sebagai bentuk dukungan Pemerintah Kabupaten Bone terhadap kehidupan beragama yang rukun dan harmonis.
Turut hadir Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Kepala Kantor Kemenag Bone, Ketua TP PKK Bone, Wakil Ketua TP PKK Bone, sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), tokoh agama, tokoh masyarakat, serta umat Buddha yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.
Ketua Panitia Pelaksana, Eveline Caroline Sanger, mengatakan perayaan Waisak tahun ini bukan sekadar seremoni keagamaan, tetapi menjadi momentum mempererat persaudaraan dan memperkokoh semangat kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk.
“Perayaan ini menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk mempererat tali persaudaraan, memperkokoh kerukunan, serta meneguhkan komitmen bersama dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang damai dan harmonis,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh Bhikkhu Sangha, pemerintah daerah, Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, para donatur, sponsor, hingga seluruh umat yang telah berpartisipasi menyukseskan kegiatan tersebut.
Dalam sambutannya, Bupati Bone Andi Asman Sulaiman mengucapkan selamat Hari Raya Waisak kepada seluruh umat Buddha.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Bone akan terus hadir mendukung seluruh kegiatan keagamaan sebagai bagian dari upaya memperkuat persatuan dan kerukunan antarumat beragama.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Bone, kami mengucapkan Selamat Hari Raya Waisak 2570 BE/2026. Nilai-nilai yang diajarkan setiap agama pada dasarnya sama, yakni mengajarkan kebahagiaan, cinta kasih, serta kebaikan sebagai pedoman hidup,” ucap Bupati.
BupAAS menegaskan, dirinya bersama Wakil Bupati Andi Akmal Pasluddin berkomitmen menjaga keharmonisan masyarakat Bone yang selama ini dikenal hidup dalam keberagaman dan saling menghormati.
Ia mengajak seluruh masyarakat menjadikan pesan damai, kasih sayang, dan toleransi sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
“Pesan damai dan cinta kasih hendaknya menjadi dasar dalam menjalani kehidupan sehari-hari agar tercipta kerukunan dan keharmonisan di tengah masyarakat. Terima kasih pula atas pembangunan Gedung Graha Saloka Sabha yang berhasil diselesaikan dalam waktu tiga bulan atau 90 hari. Semoga keberadaannya memberi manfaat bagi seluruh masyarakat Kabupaten Bone,” tutur Bupati.
Ia kembali menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mendukung setiap kegiatan yang mampu mempererat persaudaraan lintas agama.
“Saya bersama Bapak Wakil Bupati akan senantiasa mendukung kegiatan-kegiatan yang memperkuat persaudaraan, kebersamaan, dan kerukunan antarumat beragama di daerah ini,” tegasnya.
Perayaan Gema Raya Sannipata Trisuci Waisakha Puja diawali dengan doa bersama atau Pujamantra yang berlangsung selama 24 jam tanpa henti, mulai Sabtu (27 Juni 2026) pukul 09.00 Wita hingga Ahad (28 Juni 2026) pukul 09.00 Wita.
Selama prosesi tersebut, umat Buddha secara bergantian melantunkan ayat-ayat suci setiap satu jam sebagai simbol kesinambungan doa dan harapan bagi kedamaian dunia.
Ketua PSMTI Kabupaten Bone, Hakim Lewa, menyebut kegiatan tersebut sebagai momen bersejarah karena berhasil menghadirkan umat Buddha dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Bali, Makassar, Parepare, Bulukumba, serta sejumlah kabupaten di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.
“Ini menjadi salah satu perayaan Waisak terbesar yang pernah kami laksanakan dan menjadi momen yang sangat berkesan bagi seluruh umat Buddha di Bone,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Edi Siauw, menjelaskan bahwa doa bersama dipersembahkan sebagai ungkapan syukur sekaligus memohon berkah menjelang peresmian dan penggunaan Gedung Aula Serbaguna Kaloka Sabha atau Graha Sabha.
Menurutnya, setiap rangkaian ibadah memiliki makna spiritual yang mendalam, mulai dari pembacaan mantra, simbol benang yang melambangkan keterhubungan antarsesama, hingga pelita warna-warni sebagai lambang persatuan dalam keberagaman.
“Tujuan utama kegiatan ini adalah memohon berkah serta menghadirkan kebaikan dan kebajikan bagi seluruh makhluk hidup,” jelas Edi.
Melalui lantunan mantra yang menggema tanpa henti, cahaya pelita yang menerangi ruang ibadah, serta harum dupa yang memenuhi Vihara Dharma Palakka, perayaan Waisak tahun ini menjadi lebih dari sekadar ritual keagamaan. Kegiatan tersebut menjadi simbol kuatnya toleransi, persaudaraan, dan semangat hidup berdampingan dalam keberagaman yang terus terjaga di Bumi Arung Palakka. (red)















