SURABAYA, NALARMEDIA — Dua dosen dari Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) Universitas Muslim Indonesia (UMI), tampil sebagai presenter internasional dalam konferensi ilmiah bergengsi The 3rd APEBSKID International Conference on Multidisciplinary Studies (AICoMS 3).
Forum akademik global yang diselenggarakan oleh Afiliasi Pengajar, Peneliti Budaya, Bahasa, Sastra, Communikasi, Seni, dan Desain (APEBSKID) bekerja sama dengan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini berlangsung pada 18–20 September 2026 di Gedung Graha Utama BBPMP Jawa Timur, Surabaya. Konferensi tahun ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan Dies Natalis ke-62 Unesa dengan mengusung tema “Embedding the SDGs into Culture, Language, Literature, Communication, Arts, and Design for a Digital Age”
Di hadapan ratusan pakar dan peneliti dari berbagai negara, Dr. Sitti Rahmawati, S.S., M.Pd., yang juga menjabat sebagai Ketua Divisi BIPA & Microteaching FSIKP UMI sekaligus Ketua APEBSKID Komisariat Sulawesi Selatan, memaparkan riset strategisnya yang bertajuk “OPTIMIZING MEDICAL LEXICON IN DIGITAL EDUCATION: A STUDY OF SEMANTIC SHIFTS FOR GENERATION Z HEALTH LITERACY”.
Penelitian tersebut menyoroti fenomena pergeseran semantik istilah medis di platform digital yang kerap memicu kesalahpahaman informasi kesehatan (misinformasi) di kalangan generasi muda. Melalui pendekatan linguistik adaptif, riset ini menawarkan formulasi konten edukasi kesehatan berbasis digital yang disesuaikan dengan pola komunikasi unik Generasi Z tanpa mengurangi akurasi klinisnya.
“Generasi Z memiliki pola komunikasi yang sangat dinamis di ruang digital. Jika leksikon medis tidak diadaptasikan dengan tepat, risiko salah tafsir informasi kesehatan menjadi sangat tinggi. Melalui riset ini, kita menjembatani istilah medis yang kaku menjadi konten edukasi yang interaktif dan mudah dipahami Gen Z,” ujar Dr. Sitti Rahmawati di sela-sela kegiatan konferensi di Surabaya.
Sementara Prof. Dr. Muliadi, M.Hum. mempresentasi Integrasi Nilai-Nilai Karakter dalam Falsafah Sulappa Eppa (Empat Sisi)”. Riset ini mengkaji revitalisasi kearifan lokal Bugis-Makassar sebagai fondasi penguatan moral dan karakter generasi muda di era siber.
Prof. Dr. Muliadi menegaskan bahwa empat pilar utama dalam Sulappa Eppa—yakni Lempu (kejujuran), Acca (kecendekiaan), Warani (keberanian), dan Getteng (keteguhan)—sangat krusial diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan modern.
“Di tengah gempuran arus digital, nilai-nilai karakter Sulappa Eppa harus menjadi kompas moral. Kita ingin memastikan bahwa generasi masa kini tidak hanya cerdas secara digital dan teknologi, tetapi juga memiliki integritas budaya serta keluhuran budi pekerti yang kokoh,” tutur Prof. Dr. Muliadi menambahkan di lokasi yang sama.
Gagasan kedua akademisi UMI ini dinilai sangat relevan dengan pilar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) dalam memperkuat literasi kesehatan masyarakat serta pelestarian budaya berbasis karakter di era siber.
Kehadiran para dosen FSIKP UMI sebagai pembicara di panggung internasional ini tidak hanya menegaskan reputasi global kampus UMI menuju World Class University, tetapi juga memperkuat kontribusi nyata keilmuan sastra, bahasa, dan budaya Indonesia dalam menjawab tantangan global di era kontemporer. (rls/red).















