Tahfidz Camp LAZ Hadji Kalla Cetak Generasi Qur’ani di Desa Mundan, 10 Santri Tuntaskan Juz 30

Tahfidz Camp, program pembinaan santri yang digagas Dai Desa Bangkit Sejahtera (DBS) Lembaga Amil Zakat (LAZ) Hadji Kalla di Desa Mundan.
banner 325x300

ENREKANG, NALARMEDIA – Suasana berbeda hadir di Desa Mundan, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang.

Di tengah keseharian masyarakat desa, puluhan anak berkumpul membawa tenda dan perlengkapan masing-masing.

Mereka bukan sekadar mengikuti kegiatan perkemahan, tetapi datang dengan satu tekad: menghafal dan menjaga ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Semangat itu tumbuh melalui Tahfidz Camp, program pembinaan santri yang digagas Dai Desa Bangkit Sejahtera (DBS) Lembaga Amil Zakat (LAZ) Hadji Kalla di Desa Mundan.

Program tersebut menjadi ruang belajar sekaligus pembinaan karakter bagi santri.

Kegiatan digelar secara rutin setiap bulan selama dua hari, baik di lingkungan desa maupun sejumlah lokasi wisata di Kabupaten Enrekang.

Dai DBS LAZ Hadji Kalla Desa Mundan, Ustaz Saenal Wahid, mengatakan Tahfidz Camp secara khusus diarahkan untuk mendampingi santri dalam menghafal Al-Qur’an.

“Alhamdulillah, kegiatan ini menjadi wadah bagi santri untuk terus semangat menghafal Al-Qur’an. Tasmi’ atau sima’an dilakukan di hadapan para santri dan orang tua yang sempat hadir, sehingga menjadi motivasi tersendiri bagi anak-anak dalam menjaga dan menyelesaikan hafalannya,” tutur Saenal.

Tak hanya menghafal, konsep camp dirancang agar santri belajar mandiri dan membangun kebersamaan. Mereka membawa sendiri tenda dan perlengkapan yang dibutuhkan selama kegiatan.

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan tasmi’ atau sima’an hafalan Juz 30, pembinaan adab dan akhlak, materi tajwid, praktik wudhu dan salat yang benar, hingga permainan ice breaking untuk mempererat kekompakan.

Selama satu tahun pelaksanaan, Tahfidz Camp telah diikuti 66 santri. Dari proses pembinaan tersebut, 10 santri berhasil menyelesaikan sima’an hafalan Juz 30. Lima santri lainnya ditargetkan menyusul menyelesaikan sima’an pada bulan berikutnya.

Momen paling mengharukan hadir ketika para santri yang berhasil menuntaskan hafalan mendapatkan apresiasi berupa pemasangan mahkota kepada orang tua.

Mahkota tersebut bukan sekadar simbol penghargaan. Di baliknya terdapat pesan tentang besarnya peran orang tua dalam mendampingi perjalanan anak-anak mereka menghafal Al-Qur’an.

Dari Desa, Tumbuh Prestasi

Program Tahfidz Camp juga mulai menunjukkan dampak yang lebih luas. Salah satu orang tua santri, Jasman, mengungkapkan bahwa sebelum program tersebut berjalan, belum ada anak-anak di Desa Mundan yang berhasil menghafal Juz 30.

Kini, 10 santri telah menyelesaikan tasmi’ satu juz sekali duduk.

“Dengan adanya kegiatan tahfidz yang dibentuk oleh Da’i dari LAZ Hadji Kalla, kami memberikan apresiasi yang sangat luar biasa,” kata Jasman.

Menurutnya, pembinaan tersebut bahkan telah membuka jalan bagi santri Desa Mundan untuk berprestasi di ajang keagamaan.

Salah seorang santri berhasil mengikuti MTQ tingkat Tanah Toraja dan meraih juara pertama. Prestasi itu kemudian mengantarkannya untuk mewakili Tanah Toraja pada MTQ tingkat Provinsi Sulawesi Selatan di Maros pada April lalu, pada kategori Hifzhil Qur’an satu juz dan tilawah.

Bagi masyarakat desa, capaian tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan yang dilakukan secara konsisten dapat membuka ruang prestasi bagi anak-anak, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak dini.

Membentuk Generasi Qur’ani dari Desa

Program Officer Islamic Care LAZ Hadji Kalla, Muh. Syafei Karsali, mengatakan Tahfidz Camp merupakan bagian dari komitmen LAZ Hadji Kalla untuk memperkuat pembinaan keislaman di wilayah desa binaan.

Menurutnya, pembinaan Al-Qur’an perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan metode yang tidak hanya berorientasi pada hafalan, tetapi juga membentuk karakter anak.

“Melalui program ini, santri diharapkan tidak hanya mampu menghafal Al-Qur’an, tetapi juga tumbuh dengan adab, akhlak, dan pemahaman ibadah yang baik sehingga dapat menjadi generasi Qur’ani yang memberi manfaat bagi keluarga, lingkungan desa, dan masyarakat luas,” tuturnya.

Tahfidz Camp di Desa Mundan pun menjadi gambaran bahwa upaya melahirkan generasi Qur’ani dapat dimulai dari ruang-ruang sederhana di desa.

Dari tenda-tenda yang berdiri di alam terbuka, dari lantunan ayat yang dibaca berulang-ulang, hingga mahkota yang disematkan kepada orang tua, tumbuh sebuah harapan: anak-anak Desa Mundan tidak hanya menjadi penghafal Al-Qur’an, tetapi juga generasi yang membawa nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan mereka. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *