MAKASSAR, NALARMEDIA.ID — Digitalisasi mulai membuka jalan baru bagi petani rumput laut di Sulawesi Selatan untuk mendapatkan akses pembiayaan formal.
Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat bersama International Labour Organization (ILO) dan sejumlah pemangku kepentingan mendorong implementasi e-Seaweed, sebuah platform digital yang dirancang untuk memperkuat ekosistem usaha sekaligus memperluas akses keuangan petani rumput laut.
Implementasi platform tersebut berlangsung selama dua hari, yakni 23–24 September 2026. Rangkaian kegiatan diawali dengan kunjungan lapangan ke komunitas petani rumput laut di Desa Ujung Baji, Kabupaten Takalar, pada Rabu (23 September 2026).
Dalam kunjungan tersebut, para petani diperkenalkan dengan sistem e-Seaweed melalui pendataan dan proses onboarding, demonstrasi penggunaan platform, hingga penguatan kesadaran mengenai pengelolaan lingkungan di kawasan budidaya rumput laut.
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut dengan peluncuran e-Seaweed pada Kamis (24/9/2026) di Kawasan Industri Makassar (KIMA).
Peluncuran tersebut turut ditandai dengan penyerahan simbolis fasilitas Pembiayaan Resi Gudang dari Bank Sulselbar kepada KOSPERMINDO.
Dari Aktivitas Budidaya Menjadi Rekam Jejak Digital
e-Seaweed merupakan platform digital yang dikembangkan dan dimiliki KOSPERMINDO untuk mendukung pengelolaan rantai nilai rumput laut.
Platform ini memungkinkan aktivitas budidaya, pergudangan, transaksi, hingga data petani tercatat secara digital.
Sistem tersebut diharapkan dapat memperkuat ketertelusuran, pengendalian mutu, serta transparansi dalam rantai pasok rumput laut.
Pada tahap awal, sebanyak 200 petani rumput laut di Kabupaten Takalar telah masuk atau onboarding ke dalam platform tersebut.
Jumlah itu ditargetkan terus berkembang hingga mencapai 2.000 petani.
Bagi petani skala kecil, digitalisasi ini memiliki arti penting karena aktivitas usaha yang selama ini berlangsung secara konvensional dapat terdokumentasi menjadi rekam jejak usaha yang lebih terstruktur.
Rekam jejak tersebut mencakup proses budidaya hingga hasil panen yang diserahkan dan dicatat berdasarkan tonase di tingkat gudang.
Jembatan Menuju Pembiayaan
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch. Muchlasin, mengatakan perluasan inklusi keuangan membutuhkan informasi yang andal, kapasitas usaha yang lebih kuat, serta ekosistem yang memungkinkan lembaga keuangan memahami dan melayani usaha kecil.
Menurutnya, pemerintah daerah melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) memiliki posisi penting dalam memperkuat koordinasi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan masyarakat.
Pemanfaatan data digital, kata dia, dapat menjadi penghubung antara masyarakat produktif dengan layanan keuangan yang bertanggung jawab.
Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Simrin Singh.
Ia menyampaikan bahwa melalui e-Seaweed, aktivitas usaha sehari-hari petani dapat dikembangkan menjadi rekam jejak digital yang kredibel.
Dengan demikian, petani memiliki visibilitas yang lebih baik di mata lembaga keuangan sehingga peluang memperoleh pembiayaan untuk mengembangkan usaha dan membangun penghidupan yang lebih tangguh dapat semakin terbuka.
Swiss-Indonesia Perkuat Ekosistem Rumput Laut
Inisiatif e-Seaweed merupakan bagian dari program PROMISE II IMPACT ILO yang didukung Pemerintah Swiss melalui Swiss State Secretariat for Economic Affairs (SECO).
Kegiatan di Takalar turut dihadiri Duta Besar Swiss untuk Indonesia H.E. Konstantin Obolensky, Head of SECO Indonesia Violette Ruppanner, serta Bupati Takalar Firdaus Daeng Manye.
Kehadiran berbagai pemangku kepentingan tersebut mencerminkan upaya membangun ekosistem usaha petani rumput laut yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Konstantin Obolensky menyampaikan bahwa e-Seaweed melanjutkan kerja sama jangka panjang Swiss dan Indonesia di sektor rumput laut, khususnya dalam menjawab tantangan akses pembiayaan.
Menurutnya, integrasi pencatatan digital dengan layanan keuangan melalui e-Seaweed menunjukkan bagaimana teknologi dan kemitraan dapat menciptakan peluang bagi petani skala kecil untuk memperoleh akses keuangan dan mengembangkan usaha.
Digital Footprint Petani Jadi Modal Baru
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK Adi Budiarso, yang dalam kegiatan tersebut diwakili Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK Gonthor Ryantori Aziz, menyoroti persoalan asimetri informasi yang masih menjadi salah satu tantangan petani kecil dalam mengakses pembiayaan formal.
Keterbatasan rekam jejak finansial maupun operasional yang terverifikasi membuat lembaga keuangan tidak selalu memiliki informasi yang cukup untuk memahami profil usaha petani.
Melalui e-Seaweed, kondisi tersebut mulai dijembatani.
Aktivitas petani, mulai dari budidaya, serah terima hasil panen, hingga pencatatan tonase di gudang dapat terdokumentasi secara digital.
Data tersebut kemudian membentuk digital footprint yang lebih valid dan transparan.
Rekam jejak ini diharapkan dapat membantu lembaga jasa keuangan memahami profil risiko sekaligus kapasitas usaha petani secara lebih baik.
Pada akhirnya, teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat pencatatan, tetapi juga menjadi bagian dari infrastruktur yang menghubungkan petani dengan sektor keuangan.
Takalar Jadi Titik Awal Model Digitalisasi
OJK Sulsel-Sulbar menegaskan bahwa digitalisasi bukanlah tujuan akhir. Teknologi justru diposisikan sebagai jembatan untuk memperkuat ketahanan usaha dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Karena itu, keberhasilan e-Seaweed akan sangat bergantung pada kesinambungan kolaborasi antara pemerintah daerah, industri jasa keuangan, lembaga pembangunan, koperasi, pelaku usaha, dan masyarakat.
Jika pengembangan platform berjalan sesuai target, Takalar berpotensi menjadi salah satu titik penting dalam pengembangan model digitalisasi rantai nilai rumput laut di Sulawesi Selatan.
Lebih jauh, ekosistem tersebut diharapkan dapat menjadi model digitalisasi rantai nilai UMKM yang dapat direplikasi di berbagai daerah Indonesia.
Bagi petani rumput laut, perubahan itu sederhana tetapi penting: aktivitas usaha yang selama ini hanya terlihat di lapangan kini mulai memiliki jejak digital yang dapat dibaca oleh lembaga keuangan.
Dari data itulah, pintu menuju pembiayaan formal diharapkan semakin terbuka. (rls/red)















