Wabup AAP Tegaskan Tudang Sipulung Jadi Energi Baru Membangun Peradaban Agraris

Wakil Bupati (Wabup) Bone Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, S.P., M.M. (AAP) menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, petani, masyarakat, perantau, dan generasi muda untuk membangun masa depan Kabupaten Bone.
banner 325x300

BONE, NALARMEDIA — Wakil Bupati (Wabup) Bone Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, S.P., M.M. (AAP) menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, petani, masyarakat, perantau, dan generasi muda untuk membangun masa depan Kabupaten Bone.

Pesan tersebut disampaikan Wabup AAP saat membuka Seminar Internasional Gau Maraja Bone 2026 di Aula Masjid Al-Markaz Al-Ma’arif, Kabupaten Bone, Sabtu (26 September 2026).

Mengusung tema besar “Symphony of the Granary: Celebrating Food and Culture”, seminar yang berlangsung 26–27 September 2026 itu menjadi bagian dari rangkaian Gau Maraja Bone 2026.

Forum tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, budayawan, pemerintah, praktisi, petani, hingga generasi muda untuk membicarakan masa depan pangan dan kebudayaan Bone, sekaligus menggali kembali jejak sejarah serta pengetahuan lokal yang tumbuh dari peradaban agraris masyarakat Bone.

Ketua Panitia Seminar Internasional Gau Maraja Bone 2026, Andi Ilham Samanlangi, dalam laporannya menyebut seminar mengangkat tema “Peradaban Agraris Bone: Jejak Budaya dan Ketahanan Pangan Masa Depan”.

Sebanyak 301 peserta ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai akademisi, pemerintah, organisasi masyarakat dan kepemudaan, petani milenial, pelajar, hingga mahasiswa.

Panitia menargetkan seminar tidak berhenti sebagai forum diskusi. Sejumlah keluaran yang diharapkan antara lain prosiding atau book chapter, rekomendasi kebijakan, serta penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga riset, pemerintah dan masyarakat agraris.

Tudang Sipulung untuk Masa Depan Bone

Dalam sambutannya, Andi Akmal mengangkat filosofi Bugis “Tudang Sipulung” sebagai semangat utama dalam membangun Bone.

Menurutnya, Tudang Sipulung bukan sekadar tradisi berkumpul, tetapi memiliki makna penting sebagai ruang untuk duduk bersama, bermusyawarah, bertukar pengalaman, memahami perbedaan, sekaligus mencari solusi secara kolektif.

Ia menilai filosofi tersebut sangat relevan untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan saat ini.

“Pembangunan tidak dapat dilakukan oleh pemerintah saja. Pengetahuan akademik, teknologi, pengalaman petani, kearifan leluhur, pemerintah, masyarakat dan para perantau perlu dipertemukan untuk melahirkan inovasi dan kreativitas,” kata Andi Akmal.

Karena itu, berbagai isu strategis seperti kebudayaan, pangan, teknologi, pengetahuan lokal, pengalaman perantau, pertanian, generasi muda, lingkungan, inovasi dan keberlanjutan, menurutnya, harus dibicarakan dalam ruang kolaborasi.

Ketahanan Pangan Tak Bisa Dipisahkan dari Budaya

Andi Akmal juga menekankan bahwa ketahanan pangan merupakan bagian penting dari pembangunan Bone.

Potensi petani dan nelayan, kekayaan sumber daya alam, tradisi agraris, serta pengetahuan lokal dinilai memiliki nilai strategis apabila dipadukan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, investasi dan kreativitas generasi muda.

Ia juga memaparkan sejumlah capaian pembangunan daerah, termasuk upaya pemerintah menjaga daya beli masyarakat, memperkuat sektor pangan dan ekonomi masyarakat, serta mendorong pembangunan infrastruktur.

Namun, ia mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur tidak semestinya hanya dilihat dari panjang jalan yang dibangun maupun besarnya anggaran yang digelontorkan.

Lebih dari itu, infrastruktur harus mampu memperkuat konektivitas masyarakat, petani, pelajar, dan pelaku usaha.

Passompe Diminta Bawa Pulang Pengetahuan

Dalam forum tersebut, Wabup Bone juga memberikan perhatian khusus kepada para passompe atau masyarakat Bone yang merantau dan membangun kehidupan di berbagai daerah bahkan luar negeri.

Andi Akmal mengajak para passompe melihat dirinya sebagai bagian dari ekosistem pengetahuan Bone.

Pengalaman, jaringan, inovasi, serta keberhasilan yang diperoleh di luar daerah diharapkan tidak berhenti menjadi pengalaman pribadi, tetapi dapat dibawa pulang untuk menjadi pengetahuan dan inspirasi bagi masyarakat serta generasi muda Bone.

“Momentum ini menjadi kesempatan untuk menulis halaman baru perjalanan daerah. Kegiatan ini tidak hanya dimaknai dengan mengenang masa lalu, tetapi juga membawa pengalaman, pengetahuan dan visi untuk membangun masa depan,” katanya.

Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa kekuatan Bone tidak hanya berada di dalam wilayah administratifnya. Jejaring perantau juga dipandang sebagai bagian dari modal sosial yang dapat memperkaya pengetahuan dan memperluas peluang pembangunan daerah.

Bukan Sekadar Seminar

Andi Akmal berharap Seminar Internasional Bersama PERWIRA-LPMT dalam rangkaian Gau Maraja Bone 2026 dapat menjadi bentuk baru dari Tudang Sipulung.

Sebuah ruang tempat pengalaman bertemu pengetahuan, tradisi bertemu inovasi, dan masa lalu bertemu masa depan.

Ia menekankan agar seminar tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Forum ini diharapkan berkembang menjadi ruang kolaborasi berkelanjutan yang menghasilkan gagasan sekaligus kerja nyata bagi Bone.

“Semoga seminar ini menjadi Tudang Sipulung dalam wajah baru, tempat pengalaman bertemu pengetahuan, tradisi bertemu inovasi, dan masa lalu bertemu masa depan,” ujarnya.

Hadirkan Pembicara dari Sejumlah Negara

Seminar Internasional Gau Maraja Bone 2026 turut dihadiri Koordinator Staf Ahli Menteri Pertanian Prof. Dr. Ir. H. A. Muhammad Syakir, MS., yang mewakili Menteri Pertanian; Kepala Pusdatin Kementerian Kebudayaan A. Syamsul Rijal, S.S., M.Hum.; Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan Sinatria Danuhadiningrat, S.Si.; serta Ketua PERWIRA-LPMT Ir. Andi Muhammad Sapri Pamulu, Ph.D.

Forum ini juga menghadirkan sejumlah narasumber internasional, di antaranya Prof. Makoto Ito dari Jepang, Dr. Stephen C. Druce dari Inggris/Brunei, dan Prof. Ivic Carbon Esteban dari Filipina.

Dari Indonesia, hadir Direktur Utama Perum BULOG Letjen TNI (Purn) Dr. Ahmad Rizal Ramdhani, S.Sos., S.H., M.Han.; Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Prof. Dr. Ir. Iqbal, S.TP., M.Si., IPM.; Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Hasbir Paserangi, S.H., M.H.; serta sejumlah akademisi dan peneliti dari BRIN dan Universitas Hasanuddin.

Seminar Internasional Gau Maraja Bone 2026 berlangsung hingga Ahad (27 September 2026).

Pembahasan diarahkan pada keterkaitan pangan, budaya, sejarah, pengetahuan lokal, dan masa depan peradaban agraris Bone.

Dari forum tersebut, satu pesan besar mengemuka: membangun Bone tidak cukup hanya dengan menjaga warisan masa lalu, tetapi juga membutuhkan keberanian mengolah pengetahuan, teknologi, tradisi, dan pengalaman menjadi kekuatan untuk menghadapi masa depan. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *