JAKARTA, NALARMEDIA.ID – Dari sawah di Pomalaa, sentra usaha masyarakat di Morowali, hingga kawasan pemberdayaan di Sorowako, produk-produk UMKM binaan PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) kini mendapat panggung lebih luas.
Sedikitnya 37 jenis produk UMKM binaan dari Sorowako, Pomalaa, dan Bahodopi dibawa PT Vale ke Pameran Kriyanusa 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, 26–30 September 2026.
Bergabung di booth Grup MIND ID, produk-produk tersebut tampil berdampingan dengan karya dan produk unggulan dari berbagai daerah.
Ragamnya pun cukup berwarna, mulai dari wastra dan kerajinan, pangan olahan, hingga produk herbal.
Bagi PT Vale, kehadiran di Kriyanusa bukan sekadar memajang produk. Pameran ini menjadi bagian dari proses panjang pemberdayaan UMKM—mulai dari meningkatkan kapasitas pelaku usaha, memperbaiki kualitas produk, hingga membuka pintu menuju jejaring pasar yang lebih luas.
Community Development Officer PT Vale, Salwa, mengatakan pengembangan UMKM merupakan bagian dari upaya berkelanjutan perusahaan dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
“PT Vale terus melakukan pelatihan dan pendampingan serta membantu memperluas jejaring pasar agar produk UMKM binaan dapat semakin dikenal masyarakat,” kata Salwa.
Menurutnya, Kriyanusa juga menjadi ruang belajar bagi pelaku UMKM untuk membaca karakter konsumen dan melihat peluang pasar di luar daerah asal mereka.
“Kriyanusa menjadi peluang bagi UMKM binaan dari tiga wilayah kehadiran PT Vale untuk belajar dan melihat pasar yang lebih luas. Dari sini, mereka dapat mengenali berbagai peluang dan potensi pasar di luar Sulawesi,” tambahnya.
Bukan Sekadar Pameran, Ada Proses Panjang di Baliknya
Sebelum produk-produk tersebut sampai ke panggung pameran nasional, PT Vale terlebih dahulu menjalankan berbagai program pengembangan kapasitas yang disesuaikan dengan potensi masyarakat di masing-masing wilayah.
Di Pomalaa, misalnya, pendampingan menyentuh sektor pertanian organik dengan metode System of Rice Intensification (SRI), penguatan Kelompok Wanita Tani (KWT), hingga pengembangan pangan olahan.
Dukungan juga diberikan dalam bentuk sarana penunjang produktivitas, termasuk mesin penggiling padi dan peralatan pengolahan pangan.
External Relations Officer PT Vale IGP Pomalaa, Sri Mitha Fitriani, menilai penguatan sumber daya manusia menjadi fondasi penting agar masyarakat mampu mengembangkan usahanya secara mandiri.
“Pendampingan dimulai dengan membangun kapasitas sumber daya manusianya melalui berbagai pelatihan dan pendampingan. Harapannya, kualitas dan kapasitas produk UMKM binaan terus meningkat sehingga mampu menjangkau pasar yang semakin luas,” ucap Sri Mitha.
Kriyanusa kemudian menjadi ruang untuk menguji hasil proses tersebut secara langsung. Pelaku UMKM tidak hanya memperkenalkan produk, tetapi juga berinteraksi dengan calon konsumen dan mengenali dinamika pasar nasional.
Dari Sawah, Lahir Produk Bernilai Tambah
Cerita itu dirasakan langsung Salmi, 54 tahun, petani sekaligus penggerak UMKM yang tergabung dalam Asosiasi Petani Organik Kolaka (ASPOK).
Bagi Salmi, Kriyanusa merupakan salah satu buah dari perjalanan panjang yang dimulainya sejak 2021 ketika mengikuti program pendampingan pertanian organik di Kabupaten Kolaka.
Berawal dari belajar mengelola pertanian secara organik, pengembangan kemudian bergerak lebih jauh. Tidak hanya tanaman pangan, tetapi juga hortikultura dan berbagai produk olahan.
Kini, hasil pengembangan tersebut hadir di Kriyanusa. Di antaranya beras merah dan beras hitam organik, kunyit asam, teh bunga telang, rengginang, abon ikan, keripik, sambal, hingga biji kakao fermentasi.
“Keikutsertaan kami dalam pameran UMKM membuka mata bahwa masih banyak peluang yang bisa kami kembangkan. Kami senang mendapat kesempatan hadir di Kriyanusa dan memperkenalkan produk yang selama ini kami kembangkan,” tutur Salmi.
Ia mengingat bagaimana proses tersebut bermula dari sesuatu yang sederhana: belajar.
“Awalnya kami belum mengenal pertanian organik. Setelah mendapat sosialisasi dan pendampingan, kami mulai belajar dan mengembangkannya. Kami berterima kasih atas ilmu, peralatan, dan pendampingan yang diberikan kepada para petani,” tambahnya.
Dari Morowali, Produk Lokal Menatap Pasar Nasional
Cerita serupa datang dari Ilham, 37 tahun, pelaku UMKM binaan dari Morowali.
Ia membawa sejumlah produk hasil pengembangan masyarakat, seperti teh bunga telang, beras organik, serbuk kunyit asam, bunga rosella, dan virgin coconut oil (VCO).
Menurut Ilham, kesempatan mengikuti pameran nasional membuka ruang baru bagi produk masyarakat untuk dikenal konsumen di luar daerah.
“Kami berterima kasih karena difasilitasi untuk mengikuti pameran besar seperti Kriyanusa. Bagi kami, kesempatan ini menjadi bagian dari proses yang selama ini dijalani, mulai dari pendampingan hingga produk yang kami hasilkan dapat diperkenalkan kepada pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Program pemberdayaan di wilayahnya telah berjalan sejak 2021 dan mencakup berbagai komoditas masyarakat, mulai dari beras dan sayuran hingga produk herbal.
37 Produk, Tiga Wilayah, Satu Semangat
Keragaman produk yang ditampilkan di Kriyanusa 2026 memperlihatkan potensi ekonomi masyarakat di tiga wilayah kehadiran PT Vale.
Pada sektor kriya dan fesyen, terdapat anyaman lokal, aksesori rajut, kerajinan bercorak budaya Sulawesi, batik, syal, hingga kain tenun.
Sementara dari sektor pangan dan herbal, hadir beras organik, kopi, abon ikan, produk kakao, keripik, sambal, VCO, serta berbagai minuman herbal berbahan kunyit, rosella, bunga telang, dan jahe.
Semua produk itu membawa cerita masing-masing.
Ada cerita petani yang belajar mengubah hasil sawah menjadi produk bernilai tambah. Ada kisah perajin yang menjaga keterampilan lokal melalui kain dan anyaman. Ada pula pelaku usaha yang perlahan membuka pasar untuk produk pangan dan herbal dari daerahnya.
Kriyanusa 2026 pun menjadi lebih dari sekadar etalase produk.
Ia menjadi ruang perjumpaan antara karya masyarakat daerah dan pasar nasional.
Pameran yang diselenggarakan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) tersebut mengusung tema “Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia”. Tahun ini, Kriyanusa menghadirkan 410 stan dengan 257 peserta dari berbagai unsur, termasuk Dekranas dan Dekranasda, kementerian/lembaga, serta pelaku UMKM.
Pameran resmi dibuka Sabtu (26/9) oleh Ketua Umum Dekranas Selvi Gibran Rakabuming, didampingi Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian dan Ketua Panitia Kriyanusa 2026 Ayu Heni Rosan, bersama jajaran Pengurus Pusat Dekranas dan Dekranasda dari berbagai daerah.
Bagi PT Vale, perjalanan UMKM tidak berhenti ketika pameran berakhir.
Pendampingan terus diarahkan pada peningkatan kapasitas, kualitas produk, penguatan usaha, serta pembukaan akses pasar. Tujuannya sederhana, tetapi penting: agar masyarakat tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga mampu membangun usaha yang semakin mandiri, kompetitif, dan berkelanjutan.
Dari Sorowako, Pomalaa hingga Bahodopi, produk lokal kini mendapat kesempatan untuk berbicara lebih jauh—menembus batas daerah, membawa cerita masyarakat, dan menemukan pasar baru di tingkat nasional. (ADV)















