BONE, NALARMEDIA.ID — Pengelolaan kegiatan kerja (Giatja) bagi warga binaan terus menjadi perhatian jajaran pemasyarakatan. Salah satunya melalui kunjungan studi Rutan Kelas IIB Watansoppeng ke Lapas Kelas IIA Watampone, Senin (28 September 2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung bagaimana program pembinaan kemandirian dikembangkan dan dikelola di Lapas Kelas IIA Watampone.
Rombongan Rutan Kelas IIB Watansoppeng mendapat pemaparan mengenai pengelolaan Giatja, khususnya program produksi tempe dan budidaya lobster yang melibatkan warga binaan.
Kedua kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan keterampilan produktif kepada warga binaan selama menjalani masa pembinaan.
Tak sekadar mendengarkan pemaparan, rombongan juga diajak meninjau sejumlah area Giatja. Peninjauan ini memberikan gambaran langsung mengenai proses pelaksanaan kegiatan kerja, mulai dari pengelolaan hingga keterlibatan warga binaan dalam aktivitas produktif.
Jadi Ruang Berbagi Pengalaman
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Kasi Giatja) beserta jajaran Lapas Kelas IIA Watampone.
Pertemuan berlangsung dalam suasana berbagi informasi dan pengalaman. Sejumlah hal terkait pelaksanaan Giatja dibahas, terutama bagaimana mengoptimalkan keterampilan warga binaan melalui kegiatan yang produktif dan memiliki nilai pembinaan.
Bagi Rutan Kelas IIB Watansoppeng, kunjungan ini menjadi kesempatan untuk mendapatkan referensi dalam mengembangkan kegiatan kerja yang dapat disesuaikan dengan kondisi serta potensi yang dimiliki.
Kepala Lapas Kelas IIA Watampone, Rahnianto, menyambut baik kunjungan tersebut. Ia menilai pertukaran pengalaman antarunit pemasyarakatan dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan program pembinaan.
“Kami menyambut baik kunjungan dari Rutan Kelas IIB Watansoppeng. Pertukaran informasi dan pengalaman seperti ini penting untuk memperkuat pengembangan kegiatan kerja di lingkungan pemasyarakatan,” kata Rahnianto.
Menurutnya, pengalaman yang diperoleh dari kunjungan tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi Rutan Watansoppeng dalam mengembangkan program Giatja sesuai kebutuhan.
“Semoga apa yang dipelajari dapat menjadi referensi yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di Rutan Kelas IIB Watansoppeng,” lanjutnya.
Dari Keterampilan Menjadi Bekal Kemandirian
Program Giatja tidak hanya diarahkan sebagai aktivitas selama warga binaan menjalani masa pidana. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk mengasah keterampilan dan membangun kemandirian.
Melalui kegiatan seperti produksi tempe dan budidaya lobster, warga binaan mendapatkan pengalaman dalam menjalankan aktivitas kerja yang produktif.
Studi kunjungan Rutan Watansoppeng ke Lapas Watampone sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi dan pertukaran pengetahuan antarunit pemasyarakatan.
Ke depan, hasil kunjungan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pengembangan program pembinaan kemandirian di Rutan Kelas IIB Watansoppeng, sementara Lapas Kelas IIA Watampone terus membuka ruang berbagi pengalaman untuk mendorong kegiatan kerja warga binaan yang produktif dan berkelanjutan. (rls/red)















