NALARMEDIA.ID, BONE – Deru ombak dan malam mulai merayap di kawasan Pelabuhan Penyeberangan Bajoe, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan.
Jarum jam menunjukkan pukul 19.49 Wita ketika aktivitas di sekitar pelabuhan di daerah berjuluk Bumi Arung Palakka masih menyimpan denyut kehidupan.
Di tengah rutinitas masyarakat terus berjalan, pelabuhan Bajoe bukan lagi semata tempat kapal bersandar dan bertolak.
Lebih dari itu, Pelabuhan Penyeberangan Bajoe merupakan nadi konektivitas transportasi laut, jalur distribusi kebutuhan pokok, sekaligus sumber penghidupan bagi masyarakat kecil.
Seusai menunaikan Salat Isya di sebuah masjid yang tidak jauh dari pelabuhan, Wahyunang duduk berbagi cerita tentang arti penting Pelabuhan Penyeberangan Bajoe bagi kehidupan banyak orang.
Lelaki yang akrab disapa Unang itu merupakan Sekretaris Koperasi Lintas Bahari Nusantara, sebuah koperasi yang mewadahi tenaga kerja bongkar muat (TKBM) dan pedagang asongan di kawasan Pelabuhan Penyeberangan Bajoe.

Dengan tutur yang bersahaja, lelaki kelahiran Jakarta yang juga seorang ayah lima anak tersebut bercerita bagaimana aktivitas penyeberangan di Bajoe yang berlangsung setiap hari ikut menggerakkan perekonomian rakyat.
Baginya, kehadiran PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) melalui pengoperasian Pelabuhan Penyeberangan Bajoe memberikan peran yang sangat vital.
Bukan semata dalam memastikan masyarakat dapat menyeberang dari satu daerah ke daerah lain, tetapi juga menjaga kelancaran arus barang yang dibutuhkan masyarakat hingga wilayah pelosok.
“Bongkar muat dari Bajoe ke Kolaka. Ada hasil pertanian, seperti wortel, kol, telur, beras, tomat, dan lombok,” ucap Unang kepada penulis.
Pernyataan itu menggambarkan betapa vitalnya jalur penyeberangan Bajoe–Kolaka dalam kehidupan sehari-hari. Utamanya dua provinsi ini.
Di balik perjalanan kapal feri yang menghubungkan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, terdapat kebutuhan masyarakat yang harus terus terpenuhi, mulai dari bahan pangan hingga komoditas pertanian.
Menjaga Kehidupan
Pelabuhan Penyeberangan Bajoe yang terletak di Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone merupakan pelabuhan dan menjadi salah satu simpul transportasi sentral dalam penyeberangan yang menghubungkan Sulawesi Selatan dengan Sulawesi Tenggara melalui lintasan Bajoe–Kolaka.
Dioperasikan oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) melalui Cabang Bajoe, pelabuhan di Bumi Arung Palakka ini melayani mobilitas penumpang, kendaraan, serta distribusi barang menggunakan kapal feri roll-on/roll-off (RoRo).
Ketika jalur penyeberangan beroperasi dengan baik, maka perjalanan masyarakat menjadi lebih terhubung sehingga pergerakan barang antardaerah dapat berlangsung secara lebih teratur.
Sebaliknya, apabila gangguan pada layanan penyeberangan maka berpotensi memengaruhi jadwal perjalanan, pengiriman barang, hingga ketersediaan sejumlah komoditas di daerah tujuan.

Maka dari itu, pengoperasian pelabuhan bukan sekadar berbicara tentang kapal yang berangkat dan tiba. Melainkan ada rantai aktivitas ekonomi yang bergantung pada kelancaran layanan tersebut.
Mulai dari pengemudi kendaraan pengangkut barang, pekerja bongkar muat, pedagang, hingga masyarakat yang menanti pasokan kebutuhan pokok.
Olehnya itu, peran ASDP menjadi vital dalam memperkuat konektivitas laut nasional. Melalui layanan penyeberangan yang menghubungkan dua provinsi, Bajoe turut mendukung keterhubungan wilayah, kelancaran distribusi logistik, dan aktivitas ekonomi kerakyatan.
Bagi masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada aktivitas pelabuhan, maka kelancaran operasional kapal bukan semata persoalan teknis. Di dalamnya ada pendapatan harian, kebutuhan keluarga, keberlangsungan usaha kecil hingga kehidupan rumah tangga.
Rantai Distribusi
Koperasi Lintas Bahari Nusantara mulai terbentuk pada 2018. Sejak itu, koperasi ini menjadi wadah bagi para pekerja yang menjalankan aktivitas bongkar muat di kawasan Pelabuhan Penyeberangan Bajoe.
Saat ini, terdapat 20 tenaga kerja bongkar muat yang tergabung di dalamnya. Mereka menjadi bagian dari mata rantai distribusi barang yang melintasi jalur Bajoe–Kolaka.
Pekerjaan bongkar muat bukan sekadar aktivitas biasa. Melainkan kegiatan yang memiliki arti vital dalam memastikan barang yang diangkut dapat berpindah dari kendaraan ke kapal atau sebaliknya, sesuai kebutuhan operasional.
“Jadi barang yang dibongkar muat ini merupakan barang kebutuhan, termasuk menyukseskan program MBG berupa sayuran. Karena kapal di sini beroperasi setiap hari,” sebut Unang.
Menurut pria kelahiran 11 November 1974, komunikasi antara Koperasi Lintas Bahari Nusantara dan pihak ASDP selama ini berjalan lancar.
Hubungan kerja tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung aktivitas bongkar muat di pelabuhan penyeberangan Bajoe.
Kelancaran komunikasi dan koordinasi antara pengelola pelabuhan dengan para pekerja menjadi salah satu unsur yang mendukung kegiatan operasional. Sebab, pelabuhan merupakan ruang kerja bersama yang mempertemukan berbagai kepentingan, mulai dari operator kapal, pengemudi, pekerja bongkar muat, pedagang, hingga pengguna jasa penyeberangan.
Setiap pihak memiliki peran masing-masing. Ketika seluruh aktivitas dapat berjalan terkoordinasi, distribusi barang dan pelayanan kepada pengguna jasa pun berpeluang berlangsung lebih lancar.
Menjangkau Pelosok
Unang mengungkapkan, barang-barang yang ditangani para pekerja bongkar muat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di sejumlah wilayah Sulawesi Tenggara.
Selain Kolaka, distribusi tersebut menjangkau daerah lain, seperti Kendari dan Bombana, serta wilayah lainnya.
Dalam konteks Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program andalan pemerintah Presiden RI Prabowo Subianto, kelancaran distribusi bahan pangan menjadi aspek vital yang harus diperhatikan.
Mulai dari ketersediaan bahan baku, keteraturan pasokan, hingga kelancaran pengangkutan menjadi penting dari rantai logistik yang dapat menyokong kesuksesan penyelenggaraan program tersebut.
Jalur penyeberangan Bajoe–Kolaka menjadi salah satu infrastruktur yang berperan dalam pergerakan komoditas antardaerah.
Menggantungkan Hidup
Keberadaan Pelabuhan Penyeberangan Bajoe tidak berhenti pada pergerakan penumpang, kendaraan, dan barang.
Namun, kawasan ini pula menyajikan ruang ekonomi bagi masyarakat lokal yang menggantungkan hidup melalui perdagangan kecil.
Selain mewadahi tenaga kerja bongkar muat, Koperasi Lintas Bahari Nusantara turut mewadahi pedagang asongan yang beraktivitas di kawasan pelabuhan Bumi Arung Palakka tersebut.
Unang menjelaskan, terdapat sekitar 60 pedagang asongan yang mencari penghidupan dari aktivitas penyeberangan Bajoe. Usia mereka beragam, mulai sekitar 20 tahun hingga di atas 45 tahun.
Mereka menawarkan berbagai dagangan kepada penumpang dan pengguna jasa kapal. Aktivitas itu berlangsung mengikuti ritme keberangkatan dan kedatangan kapal, sehingga para pedagang perlu menyesuaikan waktu berjualan dengan kondisi operasional.
Kata Unang, ASDP memberikan kesempatan kepada pedagang asongan untuk menjajakan dagangannya di atas kapal, dengan tetap memperhatikan waktu keberangkatan dan ketentuan operasional yang berlaku.
Kesempatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat kecil untuk memperoleh penghasilan tanpa harus memiliki usaha berskala besar.
Unang menyebutkan, penghasilan pedagang asongan dapat mencapai Rp100 ribu per hari. Besaran itu tentu dapat berbeda-beda, bergantung pada jumlah pembeli, jenis dagangan, dan aktivitas penyeberangan pada hari tersebut.
Kehadiran PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) melalui Cabang Bajoe menjadi bagian penting dalam menjaga konektivitas tersebut.
Tingkatkan Pelayanan
Operasional penyeberangan Bajoe – Kolaka mengalami peningkatan melalui proses revitalisasi dermaga yang dilakukan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Bajoe.
Executive Director ASDP Regional 4, Syamsudin, menuturkan bila revitalisasi dermaga merupakan langkah strategis yang sangat penting setelah pelabuhan beroperasi selama lebih dari dua dekade.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi bukti keseriusan ASDP dalam meningkatkan standar keselamatan dan kenyamanan pengguna jasa.
Maka kapasitasnya bertambah dari 30 ton menjadi 50 ton.
Kolaborasi
Sementara itu, Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman menekankan pentingnya peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat, terutama karena Pelabuhan Penyeberangan Bajoe menjadi salah satu simpul penting transportasi laut di Kabupaten Bone.
Ia berharap sinergi antara ASDP dan Pemkab Bone tidak berhenti pada koordinasi kelembagaan, tetapi dapat diwujudkan melalui pelayanan transportasi yang semakin lancar, aman dan memberikan kenyamanan bagi masyarakat.
Dengan konektivitas penyeberangan yang semakin baik, arus pergerakan orang maupun barang diharapkan dapat berjalan lebih optimal dan ikut memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Setiap kapal yang berangkat, bukan sekadar membawa orang dan barang menuju seberang. Di dalamnya juga ada denyut perekonomian dan harapan banyak keluarga yang ikut berjuang. (Muhammad Ashri Samad)















