BONE, NALARMEDIA.ID – Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. (BupAAS), mendorong lahirnya budaya literasi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bone.
Tak sekadar mengajak membaca, BupAAS menyerukan seluruh aparatur sipil negara (ASN), camat, kepala desa hingga lurah agar berani menulis dan menghasilkan karya berupa buku.
Seruan tersebut disampaikan BupAAS saat membuka Festival Literasi (Feslit) Kabupaten Bone 2026 di pelataran Perpustakaan Daerah Kabupaten Bone, Senin (26 Oktober 2026).
Mengusung tema “Literasi Mengakar, Bone Bertumbuh”, festival ini menjadi momentum untuk memperkuat budaya membaca sekaligus mendorong masyarakat, khususnya aparatur pemerintahan, menjadikan menulis sebagai bagian dari tradisi intelektual.
Dalam sambutannya, BupAAS menegaskan bahwa setiap aparatur pemerintahan memiliki pengalaman, pengetahuan, dan gagasan yang layak dituangkan dalam bentuk karya tulis. Pengalaman selama menjalankan tugas, menurutnya, dapat menjadi rekam jejak yang bermanfaat bagi generasi berikutnya.
“Menulis untuk jadi rekam jejak kita. Sebelum naik pangkat harus menulis buku,” seru BupAAS di hadapan peserta kegiatan.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan atas dorongannya agar budaya menulis tumbuh di setiap tingkatan pemerintahan, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), kecamatan hingga desa dan kelurahan.
Bagi BupAAS, menulis bukan sekadar aktivitas menuangkan kata-kata di atas kertas. Lebih dari itu, karya tulis dapat menjadi dokumentasi perjalanan pengabdian, pengalaman birokrasi, inovasi pelayanan publik, hingga potensi unggulan daerah yang perlu diketahui masyarakat luas.
Perpustakaan Bukan Sekadar Tempat Menyimpan Buku
BupAAS juga mengingatkan pentingnya mengembalikan fungsi perpustakaan sebagai ruang tumbuhnya pengetahuan dan kreativitas.
“Perpustakaan adalah tempat untuk belajar, meneliti, menulis dan tempat berilmu,” ujarnya.
Menurutnya, perpustakaan harus menjadi ruang yang hidup dan produktif. Tidak hanya menjadi tempat menyimpan koleksi buku, tetapi juga wadah bagi masyarakat untuk memperluas wawasan, mengembangkan kemampuan, melakukan penelitian, serta melahirkan karya-karya baru.
Semangat tersebut diharapkan dapat mendorong aparatur pemerintah dan masyarakat Bone memanfaatkan fasilitas perpustakaan secara lebih optimal.
Dengan meningkatnya aktivitas membaca dan menulis, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai informasi semata, melainkan berkembang menjadi gagasan dan inovasi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam penyelenggaraan pemerintahan.
ASN Diminta Hadirkan Pojok Literasi di Tempat Kerja
Tak berhenti pada ajakan menulis buku, BupAAS juga menyerukan agar setiap instansi pemerintah menghadirkan Pojok Literasi di lingkungan tempat kerja masing-masing.
Pojok Literasi diharapkan menjadi ruang sederhana yang mudah diakses pegawai untuk membaca, bertukar gagasan, dan memperkaya pengetahuan di tengah rutinitas pekerjaan.
Keberadaan fasilitas tersebut juga dapat menjadi langkah nyata membangun kebiasaan membaca di lingkungan birokrasi. Dengan akses terhadap bahan bacaan yang memadai, ASN diharapkan semakin terbiasa memperbarui wawasan dan mengembangkan kapasitas diri.
Jika diterapkan secara konsisten, gerakan ini berpotensi mendorong lahirnya lingkungan kerja yang lebih dekat dengan ilmu pengetahuan, dokumentasi, dan inovasi.
Dari Budaya Membaca Menuju Tradisi Melahirkan Karya
Festival Literasi Kabupaten Bone 2026 menjadi momentum untuk memperluas pemahaman bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan mengolah informasi, berpikir kritis, dan menghasilkan karya yang bermanfaat.
Dorongan BupAAS agar ASN menulis buku membuka ruang bagi dokumentasi pengalaman birokrasi, kisah pengabdian di wilayah, potensi ekonomi desa, kearifan lokal, hingga praktik pelayanan publik yang dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat.
Camat, kepala desa, dan lurah, misalnya, memiliki pengalaman langsung dalam menghadapi persoalan masyarakat serta menggali potensi wilayahnya. Pengalaman tersebut dapat diolah menjadi tulisan yang merekam perjalanan pembangunan sekaligus menjadi referensi bagi generasi mendatang.
Semangat itulah yang sejalan dengan tema Feslit 2026, “Literasi Mengakar, Bone Bertumbuh”.
Literasi diharapkan tidak hanya ramai saat festival berlangsung, tetapi benar-benar tumbuh dalam keseharian masyarakat dan aparatur pemerintahan.
Melalui penguatan budaya membaca, penulisan buku, serta pembentukan Pojok Literasi di tempat kerja, Pemkab Bone didorong membangun tradisi pengetahuan yang berkelanjutan.
Sebab, pembangunan daerah bukan hanya tentang infrastruktur dan capaian fisik. Pengetahuan, gagasan, dan pengalaman yang terdokumentasi juga menjadi bagian penting dari warisan pembangunan bagi generasi berikutnya. (red)















