BONE, NALARMEDIA — Pelataran Planet Cinema Bone, Ahad (3 Mei 2026) malam, pendidikan tahun ini hadir dengan wajah yang berbeda. Ada tiga dimensi yang penuh makna.
Ia tidak berdiri kaku di ruang kelas, tidak semata berbicara tentang angka rapor dan teori pembelajaran, tetapi turun langsung ke tengah masyarakat, menyatu dengan denyut kehidupan warga, menjadi ruang perjumpaan antara kreativitas, hiburan, ekonomi, dan harapan masa depan.
Melalui Disdik Beramal Expo 2026, Dinas Pendidikan Kabupaten Bone di bawah nakhoda Plt Kepala Dinas Pendidikan Edy Saputra Syam menyajikan sebuah perayaan pendidikan yang terasa hidup.
Kegiatan ini digelar untuk memeriahkan Hari Pendidikan Nasional, tetapi maknanya jauh melampaui seremoni tahunan.
Expo ini menjadi penanda bahwa pendidikan tidak boleh berjalan sendiri. Ia harus hadir di ruang publik, menyapa masyarakat, memberi energi ekonomi, membuka panggung kreativitas, dan menciptakan optimisme sosial.
Kehadiran Bupati Bone Andi Asman Sulaiman atau yang akrab disapa BupAAS memperlihatkan bagaimana pemerintah daerah ingin mendekatkan pendidikan dengan rakyatnya.
Di tengah keramaian expo, sang bupati tidak menjaga jarak. Ia hadir, berbaur, menyapa masyarakat, menikmati suasana bersama warga dan para pelajar yang menampilkan karya mereka mendapat apresiasi.
Kehadiran seperti itu memiliki makna simbolik yang kuat: pendidikan bukan sekadar urusan birokrasi, melainkan gerakan kolektif seluruh masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, BupAAS memberikan apresiasi terhadap langkah Dinas Pendidikan Bone yang menghadirkan kegiatan yang bukan hanya edukatif, tetapi juga mampu menggerakkan kehidupan sosial masyarakat.
“Pendidikan tidak boleh hanya hidup di dalam ruang kelas. Anak-anak kita harus diberi ruang untuk menunjukkan kreativitasnya kepada masyarakat. Kegiatan seperti ini membuat pendidikan terasa hidup, dekat dengan rakyat, sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat kecil,” ungkap Andi Asman Sulaiman.
Menurutnya, Disdik Beramal Expo menjadi contoh bagaimana sebuah momentum Hari Pendidikan Nasional dapat dikemas lebih produktif dan berdampak luas.
Ia menilai kegiatan seperti ini mampu menciptakan ruang hiburan sehat bagi masyarakat sekaligus menjadi panggung lahirnya inovasi generasi penerus Bone.
“Kita ingin anak-anak Bone tumbuh dengan rasa percaya diri. Mereka harus merasa bahwa karya mereka dihargai. Pemerintah tentu akan terus mendukung kegiatan yang membuka ruang kreativitas dan kolaborasi seperti ini,” sambungnya.
Disdik Beramal Expo 2026 menyajikan karya-karya siswa dari berbagai kecamatan di Kabupaten Bone. Ada inovasi teknologi sederhana, seni pertunjukan, kreativitas berbasis lingkungan hingga permainan edukatif.
Semua itu menunjukkan bahwa anak-anak Bone tidak kekurangan potensi. Mereka hanya membutuhkan ruang untuk tampil dan diapresiasi.
Di sinilah letak kekuatan utama expo tersebut. Pendidikan tidak sekadar diposisikan sebagai proses belajar formal, tetapi juga sebagai ruang ekspresi dan pembentukan kepercayaan diri generasi muda.
Ketika seorang siswa melihat hasil karyanya dipamerkan dan disaksikan banyak orang, sesungguhnya yang sedang tumbuh bukan hanya kreativitas, melainkan keberanian untuk bermimpi lebih besar.
Kegiatan ini juga menghidupkan denyut ekonomi masyarakat. Tenant UMKM, pelaku usaha kecil, pedagang makanan, hingga komunitas kreatif memperoleh ruang untuk bergerak bersama dalam satu ekosistem kegiatan.
Pelataran Planet Cinema berubah menjadi ruang sosial yang ramai. Anak-anak datang bersama orang tua mereka. Guru bercengkerama dengan masyarakat. Pelaku UMKM memanfaatkan keramaian untuk meningkatkan penjualan. Komunitas seni memperoleh panggung hiburan.
Dalam suasana seperti itu, pendidikan tidak lagi terasa eksklusif. Ia hadir sebagai penggerak kehidupan sosial dan ekonomi.
Apa yang dilakukan Dinas Pendidikan Bone juga menunjukkan perubahan cara pandang dalam mengelola kegiatan pemerintahan. Jika selama ini banyak agenda pemerintah bergantung penuh pada APBD, maka Disdik Beramal Expo memperlihatkan pentingnya kolaborasi.
Dinas Pendidikan menggandeng berbagai pihak untuk menciptakan kegiatan yang besar namun tetap efisien.
Langkah ini memperlihatkan keberanian berpikir modern. Pemerintah hadir sebagai penggerak substansi pendidikan, sementara ruang-ruang kreatif dibangun bersama komunitas dan pelaku usaha.
Model seperti ini membuat kegiatan pendidikan terasa lebih segar, lebih terbuka, dan lebih dekat dengan generasi muda.
Dalam konteks yang lebih luas, Disdik Beramal Expo 2026 juga menjadi refleksi tentang arah pembangunan Bone di bawah kepemimpinan BupAAS.
Pendidikan tidak dipandang sekadar urusan sekolah, tetapi sebagai instrumen membangun kualitas masyarakat secara menyeluruh. Karena itu, kegiatan pendidikan harus mampu menghadirkan efek sosial, budaya, bahkan ekonomi.
Di tengah tantangan zaman digital, budaya individualisme, dan menurunnya interaksi sosial di ruang publik, expo seperti ini menghadirkan sesuatu yang penting: kebersamaan. Masyarakat kembali berkumpul, anak-anak tampil percaya diri, guru mendapatkan ruang apresiasi, dan pemerintah hadir tidak sekadar sebagai pengatur, tetapi sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri.
Disdik Beramal Expo 2026 akhirnya bukan hanya tentang panggung hiburan atau kemeriahan Hardiknas. Ia adalah gambaran tentang bagaimana pendidikan bisa menjadi pusat pergerakan masyarakat.
Sebuah momentum ketika sekolah keluar dari pagar-pagarnya, lalu hadir di tengah kehidupan rakyat dengan wajah yang lebih hangat, kreatif, dan membahagiakan. (red)















