Rekor Baru BTS di Bone, Internet Makin Luas hingga PAD Melejit Rp1,4 Miliar

Fungsional Penata Ruang Bidang Tata Ruang Kabupaten Bone, Andi Asrijal, SH menjelaskan, proses verifikasi dilakukan agar pembangunan menara BTS tidak berada di kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) yang telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2023 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bone.
banner 325x300

BONE, NALARMEDIA — Kabupaten Bone memasuki babak baru dalam penguatan konektivitas digital. Pada 2026 ini, Dinas Bina Marga Cipta Karya dan Tata Ruang (DBMCKTR) Kabupaten Bone memproses serta memverifikasi kesesuaian rencana tata ruang kurang lebih 30 unit bangunan menara telekomunikasi atau Base Transceiver Station (BTS) baru yang akan tersebar di berbagai wilayah Bumi Arung Palakka.

Jumlah tersebut menjadi rekor pembangunan menara telekomunikasi terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Bukan tanpa alasan, pada tahun-tahun sebelumnya, pembangunan BTS baru hanya berkisar antara lima hingga 10 unit per tahun.

Langkah ini bukan semata pembangunan infrastruktur biasa. Pemerintah Kabupaten Bone di bawah kepemimpinan Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman bersama Wakil Bupati Bone, Andi Akmal Pasluddin memastikan seluruh pembangunan tetap berjalan sesuai aturan tata ruang dan tidak mengganggu kawasan strategis pertanian pangan berkelanjutan.

Fungsional Penata Ruang Bidang Tata Ruang Kabupaten Bone, Andi Asrijal, SH menjelaskan, proses verifikasi dilakukan agar pembangunan menara BTS tidak berada di kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) yang telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2023 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bone.

“Verifikasi dilakukan agar semua clear and clean terhadap lokasi pembangunan,” tutur Andi Asrijal, Sabtu (2 Mei 2026).

Menariknya, lokasi pembangunan BTS tersebut tersebar di berbagai kawasan Bone, mulai dari Bone Barat, Bone Selatan hingga Bone Utara.

Hal itu menandakan pemerataan akses telekomunikasi mulai menjadi perhatian serius demi menjangkau masyarakat hingga pelosok.

Di era digitalisasi saat ini, kehadiran jaringan telekomunikasi tidak lagi sekadar kebutuhan tambahan, melainkan sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat.

Internet dan akses komunikasi menjadi bagian penting dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari pendidikan, perdagangan, pertanian hingga pelayanan pemerintahan berbasis digital.

Menurut Andi Asrijal, pembangunan BTS akan membawa dampak positif yang luas bagi daerah.

“Dampaknya sangat positif, baik bagi masyarakat maupun daerah,” katanya.

Ia menyebut sektor pendidikan menjadi salah satu yang paling merasakan manfaat perluasan jaringan internet.

Aktivitas belajar berbasis digital akan semakin mudah diakses masyarakat, termasuk di wilayah yang selama ini mengalami keterbatasan jaringan.

Begitu pula sektor perdagangan dan pertanian. Pelaku usaha dan petani kini semakin membutuhkan akses internet untuk pemasaran, informasi harga pasar, hingga pemanfaatan teknologi digital dalam menunjang produktivitas.

Selain itu, pelayanan pemerintahan berbasis aplikasi juga akan semakin optimal dengan dukungan jaringan telekomunikasi yang lebih kuat dan merata.

“Walaupun pelan tapi pasti, dampak terhadap perluasan sistem jaringan internet akan sangat dirasakan oleh masyarakat Kabupaten Bone,” tambahnya.

Kehadiran puluhan BTS baru ini juga diharapkan mampu mengurangi wilayah blank spot atau daerah yang sulit mengakses jaringan telekomunikasi.

Selama ini, masih terdapat sejumlah wilayah di Bone yang mengalami keterbatasan akses data seluler maupun internet.

Kini, harapan untuk menghadirkan konektivitas digital yang lebih merata mulai terlihat nyata.

Tak hanya menghadirkan manfaat sosial dan pelayanan publik, pembangunan menara BTS juga membawa dampak ekonomi bagi daerah.

Tahun ini, Kabupaten Bone diperkirakan akan memperoleh tambahan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekitar Rp1,4 miliar dari retribusi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) terhadap bangunan menara telekomunikasi.

Angka tersebut menjadi sinyal bahwa pembangunan infrastruktur digital tidak hanya membuka akses komunikasi masyarakat, tetapi juga ikut memperkuat kapasitas fiskal daerah.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin terkoneksi, Bone perlahan menunjukkan langkah menuju daerah yang lebih terhubung, lebih modern, dan lebih siap menghadapi tantangan era digital. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *