Hadapi Perubahan Iklim, Unhas Gandeng BI Perkuat Ketahanan Nelayan dan Pembudidaya Lewat Manajemen Risiko Perikanan

Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin (Unhas) bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) dan Yayasan Mattirotasi Mitra Lestari menggelar pelatihan dan pendampingan mengenai manajemen risiko serta strategi adaptasi perubahan lingkungan dalam pengelolaan perikanan berkelanjutan.
banner 325x300

MAKASSAR, NALARMEDIA – Perubahan lingkungan yang semakin nyata dalam beberapa tahun terakhir menjadi tantangan besar bagi sektor perikanan Indonesia.

Pergeseran musim, cuaca yang tidak menentu, menurunnya kualitas perairan, hingga berubahnya pola sebaran sumber daya ikan telah berdampak langsung terhadap produktivitas nelayan dan pembudidaya.

Menjawab tantangan tersebut, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin (Unhas) bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) dan Yayasan Mattirotasi Mitra Lestari menggelar pelatihan dan pendampingan mengenai manajemen risiko serta strategi adaptasi perubahan lingkungan dalam pengelolaan perikanan berkelanjutan.

Kegiatan yang berlangsung di Hotel Novotel Makassar, Kamis (26 Juni 2026), diikuti sekitar 22 nelayan dan pembudidaya dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan sebagai upaya meningkatkan kapasitas masyarakat pesisir dalam menghadapi perubahan lingkungan yang semakin dinamis.

Dosen Program Studi Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan (PSP) FIKP Unhas, Muhammad Kurnia, yang menjadi narasumber utama menjelaskan bahwa perubahan lingkungan kini bukan lagi ancaman masa depan, melainkan telah menjadi realitas yang dirasakan langsung oleh pelaku sektor perikanan.

“Perubahan lingkungan bukan lagi isu yang akan dihadapi di masa depan, tetapi sudah menjadi realitas yang dirasakan langsung oleh nelayan dan pembudidaya. Karena itu, kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting agar sektor perikanan tetap produktif dan berkelanjutan,” jelas Kurnia dalam wawancara, Senin (29 Juni 2026).

Menurutnya, setiap dampak perubahan lingkungan memiliki karakteristik risiko yang berbeda sehingga membutuhkan strategi penanganan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.

Pengelolaan perikanan, lanjutnya, tidak lagi dapat dilakukan dengan pendekatan yang seragam.

Sebaliknya, diperlukan strategi adaptif yang mempertimbangkan aspek ekologi, sosial, dan ekonomi agar mampu menjawab tantangan di lapangan.

“Upaya adaptasi tidak hanya bertujuan mempertahankan produksi perikanan, tetapi juga menjaga keberlanjutan sumber daya ikan, meningkatkan kesejahteraan nelayan, serta memperkuat ketahanan pangan masyarakat pesisir,” ujarnya.

Kurnia menambahkan, berbagai dampak perubahan lingkungan dapat ditekan melalui identifikasi risiko sejak dini, penilaian risiko yang komprehensif, serta penerapan strategi adaptasi yang dirancang secara sistematis dan berkelanjutan.

Menurutnya, pendekatan pengelolaan perikanan berbasis ekosistem menjadi salah satu instrumen penting untuk meningkatkan ketahanan sektor perikanan terhadap perubahan lingkungan sekaligus menjaga keseimbangan antara produktivitas ekonomi dan kelestarian sumber daya alam.

Sementara itu, Direktur Yayasan Mattirotasi Mitra Lestari, Muh. Ikhsan Idrus, mengatakan pelatihan tersebut menjadi wadah pembelajaran yang sangat dibutuhkan masyarakat pesisir di tengah meningkatnya dampak perubahan lingkungan terhadap aktivitas ekonomi mereka.

“Kami berharap kegiatan edukatif ini mampu meningkatkan pemahaman nelayan dan pembudidaya mengenai berbagai strategi adaptasi yang dapat diterapkan sesuai kondisi lapangan. Dengan demikian, produktivitas usaha dapat dipertahankan sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir,” katanya.

Pelatihan berlangsung secara interaktif melalui sesi diskusi, studi kasus, hingga berbagi pengalaman antara peserta dan narasumber.

Berbagai persoalan nyata yang dihadapi nelayan dan pembudidaya dijadikan bahan pembelajaran bersama untuk merumuskan solusi yang sesuai dengan karakteristik wilayah masing-masing.

Dengan metode tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga solusi praktis yang dapat langsung diterapkan dalam aktivitas usaha perikanan sehari-hari.

Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud komitmen Universitas Hasanuddin dalam mengimplementasikan hasil kajian akademik kepada masyarakat melalui penguatan kapasitas dan pendampingan berbasis ilmu pengetahuan.

Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan lembaga masyarakat diharapkan terus diperkuat guna mewujudkan sistem perikanan Indonesia yang lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan, produktif secara ekonomi, serta berkelanjutan dalam menjaga kelestarian sumber daya perikanan untuk generasi mendatang. (/fikp/mir/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *