Lestarikan Budaya dari Balik Jeruji: Warga Binaan Wanita Lapas Watampone Antusias Belajar Tari Alusu

Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Blok Wanita di Lapas Kelas IIA Watampone mendapatkan kesempatan berharga untuk mengasah kreativitas mereka.
banner 325x300

BONE, NALARMEDIA — Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Blok Wanita di Lapas Kelas IIA Watampone mendapatkan kesempatan berharga untuk mengasah kreativitas mereka.

Melalui program pembinaan kepribadian, mereka antusias mengikuti pelatihan seni tari tradisional Tari Alusu yang digelar langsung di dalam Blok Wanita pada Selasa, 8 September 2026.

Pelatihan yang didampingi oleh para peserta magang ini dirancang sebagai wadah produktif. Tujuannya agar warga binaan dapat menyalurkan minat dan bakat seni, sekaligus mengisi masa pidana mereka dengan aktivitas yang bermakna.

Hidupkan Warisan Budaya Bugis-Makassar

Pemilihan Tari Alusu dinilai sangat tepat. Sebagai salah satu tarian tradisional khas Sulawesi Selatan yang sarat akan nilai sejarah, pengenalan tari ini menjadi langkah nyata dalam melestarikan kekayaan seni daerah di lingkungan pemasyarakatan.

Proses latihan berjalan dengan penuh disiplin dan keceriaan. Dimulai dengan sesi peregangan fisik, para warga binaan wanita kemudian dipandu oleh peserta magang untuk memperagakan gerakan-gerakan dasar Tari Alusu yang anggun namun tegas.

Seluruh peserta tampak fokus dan tertib mengikuti setiap instruksi hingga latihan selesai dengan kondusif.

Bekal Positif untuk Reintegrasi Sosial

Kegiatan seni ini mendapat apresiasi dan perhatian penuh dari Kepala Lapas Kelas IIA Watampone, Rahnianto.

Menurutnya, pembinaan berbasis seni sangat efektif untuk menumbuhkan rasa percaya diri, kekompakan, dan kedisiplinan di dalam diri warga binaan.

“Kegiatan pelatihan Tari Alusu ini merupakan bagian dari pembinaan kepribadian yang kami berikan kepada warga binaan. Selain menjadi wadah untuk mengembangkan minat dan kreativitas, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menumbuhkan kedisiplinan, kekompakan, dan rasa percaya diri. Kami berharap kegiatan-kegiatan positif seperti ini dapat terus memberikan manfaat bagi warga binaan sebagai bekal dalam proses reintegrasi sosial,” jelas Rahnianto.

Melalui program-program produktif seperti ini, Lapas Kelas IIA Watampone berkomitmen untuk terus mencetak warga binaan yang terampil dan bermental positif.

Sehingga ketika tiba waktunya mereka bebas nanti, mereka siap kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi baru yang membawa manfaat dan bekal seni yang berharga. (rls/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *