BTA 8 Jakarta Cabang Sulsel Tegaskan Pendidikan Tak Boleh Kehilangan “Ruh”: Prestasi Dikejar, Karakter Ditumbuhkan

Owner BTA 8 Jakarta, Dr. H. Edi Sutarto, M.Pd.,
banner 325x300

MAKASSAR, NALARMEDIA — Bimbingan Belajar (Bimbel) BTA 8 Jakarta Cabang Sulawesi Selatan menegaskan komitmennya membangun lembaga pendidikan yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi siswa, tentor, dan seluruh keluarga besar lembaga.

Komitmen tersebut kembali dikuatkan melalui In House Training (IHT) BTA 8 Jakarta Cabang Sulawesi Selatan yang digelar di Makassar, Ahad (27 September 2026).

Kegiatan yang diikuti seluruh sumber daya manusia BTA 8 Jakarta Cabang Sulsel itu menjadi momentum refleksi, evaluasi, sekaligus penguatan budaya pendidikan.

Owner BTA 8 Jakarta, Dr. H. Edi Sutarto, M.Pd., mengajak seluruh tim merenungkan satu tema yang cukup kuat: “Jangan Jadikan Rumah dan Lembaga Kita sebagai Kuburan.”

Tema tersebut digunakan sebagai refleksi bahwa rumah maupun lembaga pendidikan seharusnya menjadi ruang yang menghadirkan kehidupan, harapan, kenyamanan, semangat, dan pertumbuhan.

“Kelas-kelas belajar di BTA 8 Jakarta Cabang Sulsel dan tempat tinggal kita bersama keluarga adalah rumah. Pertanyaannya, apakah rumah tersebut sudah benar-benar menjadi rumah yang kita perjuangkan? Jangan sampai secara fisik kita berada di dalam rumah, tetapi secara nilai, semangat, dan kehidupan justru tidak merasakan kehidupan di dalamnya,” kata Edi dalam sesi evaluasi.

Menurutnya, prinsip yang sama harus diterapkan dalam dunia pendidikan. Sekolah maupun ruang belajar tidak boleh hanya menjadi tempat guru datang, mengajar, kemudian pulang.

Lembaga pendidikan, kata dia, harus menjadi ruang yang hidup. Di dalamnya, guru dan siswa dapat berinteraksi, belajar, bertumbuh, serta menemukan makna dari proses pendidikan.

“Jangan sampai ketika kita datang ke lembaga pendidikan untuk memimpin dan mengajar, kita justru kehilangan kehidupan di dalamnya. Guru mengajar tanpa hati, siswa belajar tanpa semangat, dan akhirnya ruang pendidikan hanya menjadi tempat yang secara fisik ada, tetapi kehilangan ruhnya,” tegasnya.

Menjadikan Kelas sebagai “Taman Kehidupan”

Melalui IHT tersebut, seluruh tim BTA 8 Jakarta Cabang Sulsel diajak mengevaluasi bagaimana menciptakan lingkungan pembelajaran yang positif, nyaman, dan penuh makna.

BTA 8 Jakarta ingin menjadikan setiap kelas bukan sekadar ruang untuk menuntaskan materi pelajaran, melainkan “taman belajar” tempat siswa merasa dihargai, dibimbing, didukung, dan didorong untuk berkembang.

“Bagaimana caranya menjadikan tempat kita berada sebagai taman surga, bukan kuburan? Itu salah satu rahasia dapur BTA 8 Jakarta. Yang jelas, kami ingin kelas-kelas pembelajaran BTA 8 Jakarta menjadi ruang yang hidup, menyenangkan, bernilai, dan memberikan pengalaman positif bagi siswa,” jelas Edi.

Dalam forum evaluasi tersebut, Edi bersama tim tentor juga kembali membahas pentingnya menghidupkan nilai-nilai pendidikan yang selama ini menjadi bagian dari budaya BTA 8 Jakarta.

Salah satu nilai yang ditekankan adalah falsafah IMAN, HIJRAH, dan JIHAD sebagai tiga nilai spiritual yang selama ini ditanamkan kepada para tentor sejak BTA 8 Jakarta beroperasi di Sulawesi Selatan.

Nilai tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pendidikan yang menyentuh dua sisi sekaligus: prestasi dan karakter.

Karena itu, keberhasilan siswa tidak semata-mata diukur dari penguasaan materi, peningkatan nilai, maupun keberhasilan masuk perguruan tinggi. BTA 8 Jakarta Cabang Sulsel juga mendorong siswa tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berkarakter, berakhlak, dan memiliki nilai spiritual.

Akademik Kuat, Karakter Tetap Menjadi Fondasi

Dalam IHT tersebut, Edi kembali menguatkan budaya pendidikan BTA 8 Jakarta yang menempatkan proses belajar bukan sekadar sebagai transfer pengetahuan.

Pendidikan, menurutnya, juga merupakan proses pembentukan manusia melalui keteladanan, pembiasaan, dan penguatan nilai.

Karena itu, BTA 8 Jakarta Cabang Sulsel berupaya mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam aktivitas pembelajaran.

Salah satunya melalui pengaturan agenda belajar yang memperhatikan waktu salat lima waktu. Ketika waktu salat tiba, kegiatan pembelajaran dihentikan untuk memberikan kesempatan kepada siswa dan tentor melaksanakan salat berjamaah di musala.

Musala tersebut juga menjadi ruang bagi para tentor untuk membaca Al-Qur’an sekaligus mendoakan kesuksesan siswa dan orang tua mereka.

Dalam berbagai kegiatan, termasuk pembukaan dan penutupan pembelajaran, BTA 8 Jakarta Cabang Sulsel juga membiasakan penggunaan narasi bernuansa Islami melalui hamdalah, salawat, ayat-ayat Al-Qur’an, serta doa.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan prestasi akademik dengan pembentukan karakter.

“Layanan Cinta” untuk Siswa dan Orang Tua

IHT juga menjadi momentum memperkuat kualitas pelayanan kepada siswa dan orang tua.

Edi menekankan pentingnya menjadikan “layanan cinta” sebagai budaya pelayanan di lingkungan BTA 8 Jakarta Cabang Sulsel.

Konsep tersebut menempatkan siswa bukan sekadar peserta didik, tetapi individu yang perlu dilayani, dibimbing, dipahami, dan diarahkan dengan penuh perhatian.

Semangat tersebut antara lain dikaitkan dengan pesan QS Ali ’Imran ayat 159 tentang pentingnya sikap lemah lembut dalam berinteraksi.

Nilai itu kemudian diterjemahkan dalam praktik pelayanan melalui sikap lemah lembut, kemampuan memaafkan, mendoakan siswa, membangun komunikasi, serta mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan.

Dengan demikian, kedisiplinan dan ketegasan tetap diterapkan, namun melalui pendekatan yang manusiawi dan mendidik.

Edi juga mengajak tim memperhatikan pentingnya kualitas layanan berdasarkan pemikiran Michael LeBoeuf dalam buku How to Win Customers and Keep Them for Life (2000). Dalam paparannya, ia menekankan bahwa kualitas pelayanan menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan hubungan dengan pelanggan.

5R dan 10S Jadi Budaya Keseharian

Selain kualitas pembelajaran dan pelayanan, BTA 8 Jakarta Cabang Sulsel terus membenahi lingkungan belajar melalui budaya 5R: Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin.

Budaya tersebut tidak hanya berkaitan dengan kebersihan, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, tertata, disiplin, dan mendukung produktivitas.

Sementara dalam membangun pola interaksi, BTA 8 Jakarta Cabang Sulsel mengembangkan budaya 10S, yakni:

Syukur, Senyum, Salam, Sapa, Semangat, Sopan, Santun, Sepikiran, Sehati, dan Sayang.

Menariknya, Syukur ditempatkan sebagai nilai pertama. Hal tersebut menjadi pengingat agar setiap aktivitas pelayanan dan interaksi diawali dengan kesadaran untuk mensyukuri kesempatan dalam mendidik, melayani, dan memberikan manfaat.

Sepuluh nilai tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi kebiasaan yang tercermin dalam perilaku seluruh sumber daya manusia BTA 8 Jakarta Cabang Sulsel.

Tentor Juga Harus Terus Bertumbuh

Untuk menjaga budaya tersebut berjalan konsisten, BTA 8 Jakarta Cabang Sulsel juga melakukan pelatihan dan upgrading secara berkelanjutan yang dikoordinasikan Divisi SDM di bawah koordinasi Ka. Didin.

Pengembangan kompetensi tidak hanya menyentuh penguasaan materi akademik, tetapi juga metode pembelajaran, komunikasi, pelayanan kepada siswa, hingga penguatan karakter dan akhlak tentor.

Targetnya, tentor tidak hanya mampu mengajar, tetapi juga mampu menginspirasi, membimbing, memahami, dan menjadi teladan bagi siswa.

Mengejar Prestasi, Menumbuhkan Karakter

Melalui IHT tersebut, BTA 8 Jakarta Cabang Sulawesi Selatan kembali menegaskan arah pengembangannya: menghadirkan lembaga bimbingan belajar yang memadukan kualitas akademik, karakter, nilai spiritual, lingkungan belajar yang nyaman, serta layanan yang penuh perhatian.

Bagi BTA 8 Jakarta Cabang Sulsel, keberhasilan pendidikan tidak berhenti ketika siswa memperoleh nilai tinggi atau diterima di perguruan tinggi impian.

Keberhasilan yang lebih utuh adalah ketika siswa tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berprestasi, berakhlak, percaya diri, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Karena itu, setiap kelas di BTA 8 Jakarta Cabang Sulsel diarahkan bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuh dan ruang pembentukan karakter.

Sebab pendidikan yang hidup bukan hanya mengantarkan siswa menuju prestasi, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki ilmu, nilai, dan kebermanfaatan. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *