MAKASSAR, NALARMEDIA.ID – Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mendorong pengembangan urban farming sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengurangi sampah organik di lingkungan masyarakat.
Hal itu disampaikan Munafri saat meninjau kawasan urban farming di Kecamatan Rappocini, Makassar, Rabu (10/6/2026).
Ia melihat langsung pemanfaatan lahan terbatas untuk budidaya tanaman pangan yang terintegrasi dengan pengolahan sampah organik.
Menurut Munafri, urban farming tidak sekadar aktivitas bercocok tanam di kawasan permukiman. Program tersebut harus terhubung dengan pengelolaan sampah sehingga membentuk siklus yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Sampah organik diolah menjadi pupuk, pupuk digunakan untuk pertanian, hasil pertanian dijual, sisanya kembali menjadi sampah organik yang diolah lagi,” kata Munafri.
Dalam kunjungan itu, Munafri juga meninjau sejumlah Teba atau lubang pengolahan sampah organik yang berada di kawasan urban farming. Ia mengaku senang melihat sekitar tujuh Teba telah terisi dan aktif digunakan.
“Tadi saya lihat ada sekitar tujuh Teba dan semuanya terisi. Daun-daun ketapang yang dikumpulkan penyapu jalan itu jangan dibuang,” ujarnya.
Munafri meminta daun kering, ranting, kardus, dan kertas dimanfaatkan sebagai material cokelat untuk mendukung proses pengomposan sampah organik.
Menurutnya, material tersebut dapat ditumpuk secara berlapis hingga menghasilkan pupuk dalam waktu sekitar empat hingga lima bulan.
“Simpan dan gunakan sebagai material cokelat untuk menutup sampah organik. Itu sangat penting untuk mempercepat proses penguraian,” sambungnya.
Munafri mengatakan konsep tersebut melibatkan sejumlah perangkat daerah. Dinas Lingkungan Hidup mengawal pengolahan sampah, sementara Dinas Perikanan dan Pertanian (DP2) Makassar mendorong budidaya serta pengembangan urban farming.
Dinas Ketahanan Pangan juga dapat berperan dalam membantu pemasaran hasil produksi masyarakat.
Selain tanaman pangan, Munafri mendorong pemanfaatan lahan sempit untuk budidaya ikan, ayam, maupun ternak skala rumah tangga.
Menurutnya, produksi pangan secara mandiri dapat membantu menekan pengeluaran rumah tangga sekaligus meningkatkan daya beli masyarakat
.
“Dengan begitu daya beli masyarakat bisa meningkat karena sebagian kebutuhan pangannya sudah dipenuhi sendiri,” katanya.
Munafri berharap model urban farming berbasis pengolahan sampah tersebut dapat diterapkan lebih luas di Kota Makassar.
Pemkot juga menyiapkan apresiasi bagi RT yang dinilai berhasil mengembangkan pengelolaan sampah dan urban farming dengan hadiah lebih dari Rp100 juta yang diarahkan untuk kepentingan bersama warga.
“Kita ingin membangun budaya baru, budaya memilah sampah, mengolah sampah, dan menghasilkan pangan dari lingkungan sendiri,” tuturnya.
Kepala Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar Aulia Arsyad mengatakan pengembangan urban farming diarahkan agar masyarakat mampu memanfaatkan lahan yang tersedia di sekitar tempat tinggal untuk menghasilkan pangan.
“Urban farming kita dorong agar masyarakat bisa memanfaatkan lahan yang ada, meskipun terbatas. Yang penting bagaimana lahan tersebut bisa produktif dan menghasilkan pangan untuk kebutuhan masyarakat,” ujar Aulia.
Ia menilai pemanfaatan pupuk dari sampah organik dapat memperkuat konsep urban farming karena pengelolaan sampah dan produksi pangan berjalan dalam satu rangkaian.
Hasil pengolahan sampah tidak berhenti sebagai kompos, tetapi kembali dimanfaatkan untuk menunjang budidaya tanaman.
“Ketika sampah organik bisa diolah menjadi pupuk, kemudian digunakan untuk tanaman, maka manfaatnya kembali ke masyarakat,” jelasnya. (ADV)















