Menjadi Guru yang Dirindukan, Mengubah Sekolah Menjadi Rumah Kedua Anak

Pelatihan “Menjadi Pemimpin dan Guru yang Dirindukan di Sekolah dan di Rumah” yang menghadirkan praktisi dan konsultan pendidikan sekaligus penulis buku, Dr. H. Edi Sutarto, M.Pd.
banner 325x300

MAKASSAR, NALARMEDIA.ID — Bagaimana jika sekolah dan rumah yang semestinya menjadi tempat tumbuh, belajar, dan menemukan rasa aman justru kehilangan maknanya bagi anak-anak?

Pertanyaan reflektif itu menjadi salah satu pintu masuk dalam pelatihan “Menjadi Pemimpin dan Guru yang Dirindukan di Sekolah dan di Rumah” yang menghadirkan praktisi dan konsultan pendidikan sekaligus penulis buku, Dr. H. Edi Sutarto, M.Pd.

Kegiatan tersebut digelar PT Hikmah Cerdas Berkualitas bersama BTA 8 Jakarta Cabang Sulawesi Selatan di Hotel Horison Ultima Makassar, Selasa (29 September 2026).

Pelatihan Batch 4 ini diikuti kepala sekolah, guru, pemerhati pendidikan, hingga orang tua siswa.

Kehadiran Edi Sutarto menjadi bagian dari upaya memperluas perspektif tentang pendidikan, bahwa proses mendidik tidak berhenti di ruang kelas, tetapi juga dimulai dari rumah.

Berbeda dari pelatihan sebelumnya, kegiatan kali ini secara khusus menambahkan frasa “di Rumah” dalam tema.

Penambahan tersebut bukan sekadar perubahan kalimat, melainkan penegasan bahwa rumah dan sekolah memiliki peran yang saling berkaitan dalam membentuk karakter serta masa depan anak.

“Setelah sukses melaksanakan pelatihan di sejumlah sekolah dan kegiatan sebelumnya di Hotel W Tree yang diikuti guru dan mahasiswa beberapa pekan lalu, kami kembali menghadirkan Pak Edi karena tingginya permintaan dari para mitra,” sebut Direktur Utama BTA 8 Jakarta Cabang Sulsel, Ikhsan, S.Pd.

Menurut Ikhsan, tingginya antusiasme peserta menunjukkan kebutuhan terhadap ruang belajar dan refleksi bagi para pelaku pendidikan masih terus berkembang.

Bahkan, kata dia, sejumlah sekolah dan komunitas pendidikan di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan telah meminta agar pelatihan serupa kembali digelar di daerah mereka.

“Setelah kegiatan ini, kami juga telah mendapatkan permintaan dari beberapa mitra untuk menghadirkan pelatihan serupa di sejumlah kabupaten di Sulsel. Permintaan datang dari sekolah maupun komunitas pendidikan, termasuk para pengurus komite sekolah,” jelasnya.

Jangan Jadikan Rumah dan Sekolah sebagai “Kuburan”

Pelatihan tersebut tidak hanya berisi teori mengenai kepemimpinan dan pendidikan. Edi Sutarto justru mengajak peserta melakukan perjalanan reflektif untuk melihat kembali makna rumah dan lembaga pendidikan.

Salah satu subtema yang cukup mengusik perhatian peserta adalah “Jangan Jadikan Rumah dan Lembaga Kita sebagai Kuburan.”

Ungkapan tersebut digunakan untuk menggugah kesadaran bahwa rumah dan sekolah semestinya menjadi ruang yang hidup—tempat tumbuhnya gagasan, karakter, kasih sayang, kreativitas, serta harapan.

Rumah merupakan tempat keluarga membangun kehidupan bersama. Sementara sekolah menjadi rumah kedua bagi anak untuk mendapatkan pengetahuan, pengalaman, sekaligus membentuk karakter.

Pertanyaan kemudian diarahkan kepada para peserta: Apakah rumah dan sekolah kita benar-benar telah menjadi “rumah” dalam makna yang sesungguhnya?

Peserta tidak sekadar ditempatkan sebagai pendengar. Mereka diajak mengevaluasi diri dan menemukan jawaban melalui proses refleksi terhadap peran masing-masing sebagai guru, pemimpin maupun orang tua.

Membaca Ki Hajar Dewantara dari Perspektif Berbeda

Pendekatan menarik lainnya adalah ketika Edi Sutarto mengajak peserta melakukan dialog imajiner dengan sosok Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional.

Sosok Ki Hajar dibaca tidak hanya melalui sejarah perjuangannya, tetapi juga melalui simbol dan makna yang melekat pada dirinya.

Peserta diajak menafsirkan berbagai simbol, termasuk pakaian Surjan Takwa yang dikenakan Ki Hajar Dewantara. Perjalanan perubahan nama dari Raden Mas Suwardi Suryaningrat menjadi Ki Hajar Dewantara pada usia 40 tahun juga menjadi bagian dari refleksi.

Perubahan nama tersebut dibaca melalui perspektif hermeneutika sebagai bagian dari perjalanan transformasi kehidupan dan pemikiran.

Peserta kemudian diajak merenungkan alasan seorang bangsawan memilih meninggalkan nama kebangsawanannya dan menggunakan nama yang lebih dekat dengan rakyat.

Refleksi itu dikaitkan dengan perjuangan pendidikan, pembebasan manusia dari kebodohan, serta gagasan mengenai “segitiga emas spiritual: iman, hijrah, dan jihad.”

Dari Pendidikan Menuju Tadabbur Al-Qur’an

Refleksi kemudian diarahkan pada nilai-nilai spiritual melalui tadabbur ayat-ayat Al-Qur’an.

Peserta tidak hanya diajak memahami ayat secara tekstual, tetapi juga menggali pesan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam menjalankan peran sebagai pemimpin, guru dan orang tua.

Salah satu ayat yang menjadi bahan perenungan adalah QS Ali ’Imran ayat 159, yang berbicara mengenai kelembutan, memaafkan, musyawarah, keteguhan dalam mengambil keputusan dan tawakal.

Ayat tersebut menjadi pijakan untuk memahami bahwa kepemimpinan dan pendidikan tidak semata-mata berkaitan dengan kewenangan, aturan maupun kemampuan mengarahkan orang lain.

Ada nilai kelembutan, keteladanan, komunikasi, musyawarah, pengampunan, keteguhan dan ketawakalan yang menjadi bagian penting dalam proses mendidik manusia.

Melalui rangkaian materi tersebut, peserta diharapkan tidak hanya pulang membawa pengetahuan baru, tetapi juga membawa kesadaran baru tentang bagaimana menciptakan rumah dan sekolah sebagai ruang yang hidup, nyaman, penuh keteladanan dan dirindukan.

Pelatihan “Menjadi Pemimpin dan Guru yang Dirindukan di Sekolah dan di Rumah” menjadi bagian dari rangkaian program pengembangan kapasitas pendidikan yang diselenggarakan PT Hikmah Cerdas Berkualitas dan BTA 8 Jakarta Cabang Sulawesi Selatan.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang belajar dan refleksi untuk mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia pendidikan di Sulawesi Selatan.

Sebab, pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang apa yang diajarkan, tetapi juga tentang bagaimana seorang anak merasa diterima, dihargai, dibimbing, dan menemukan makna di rumah maupun di sekolah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *