oleh: Nurul Izzah, S.I.Kom.,M.I.Kom (Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar)
Pada akhir September 2026, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menghentikan sementara pembangunan pusat data kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta.
Proyek yang dikerjakan BDX Data Centers itu belum mengantongi dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).
Pemerintah juga menyoroti perlunya kajian mengenai dampak lingkungan, termasuk
penggunaan air dan kebisingan.
Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa pembangunan teknologi membutuhkan perencanaan yang matang.
Sebelum sebuah infrastruktur beroperasi, ada berbagai hal yang perlu diperiksa agar keberadaannya tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.
Namun, perkembangan AI juga menghadirkan pertanyaan lain yang tidak kalah penting, apakah kita sudah siap menghadapi perubahan yang dibawanya, terutama dalam dunia pendidikan?
Sebagai dosen, saya melihat AI semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa.
Teknologi ini digunakan untuk mencari informasi, menyusun presentasi, merumuskan pertanyaan, bahkan membantu menjawab persoalan yang dibahas dalam ruang-ruang kelas.
Kemudahan tersebut tentu bisa dimanfaatkan untuk hal-hal positif. Mahasiswa dapat meminta penjelasan tambahan ketika menemukan materi yang sulit, mencari sudut pandang lain, atau menggunakan AI sebagai teman berdiskusi dan mengembangkan gagasan.
Namun, masalahnya muncul ketika kemudahan itu justru membuat mahasiswa melewatkan proses belajar itu sendiri.
Mereka bisa mendapatkan jawaban dalam hitungan detik, tetapi belum tentu memahami isi dari jawaban tersebut. Padahal, mengetahui cara menggunakan AI berbeda dengan memahami informasi yang dihasilkannya.
Hal ini terlihat dari tugas-tugas mahasiswa yang sering saya temukan di kelas. Masih banyak
mahasiswa yang mengumpulkan hasil olahan AI tanpa memeriksa kembali isinya atau menyesuaikannya dengan kebutuhan tugas. Bahkan, ada yang masih menggunakan nama bawaan pada folder atau berkas hasil pengerjaan AI.
Sebagai pengguna AI juga, saya cukup familiar dengan pola hasil yang dihasilkannya. Namun, bagi saya, persoalan utamanya bukan sekadar mengenali apakah sebuah tugas menggunakan AI atau tidak, melainkan apakah mahasiswa memahami apa yang mereka kumpulkan.
Saya tidak menganggap penggunaan AI sebagai sesuatu yang harus dihindari.
Saya sendiri memahami bahwa teknologi ini dapat membantu pekerjaan menjadi lebih efisien. Akan tetapi, bantuan tersebut tetap membutuhkan penilaian dari penggunanya. Jawaban yang terlihat rapi belum tentu benar, penjelasan yang terdengar meyakinkan belum tentu sesuai dengan konteks, dan informasi yang disajikan dengan lancar belum tentu didukung oleh sumber yang dapat dipercaya.
Karena itu, mahasiswa perlu membiasakan diri memeriksa hasil AI sebelum menggunakannya. Ketika mendapatkan jawaban untuk sebuah tugas, mereka harusnya bisa membandingkannya dengan buku, artikel ilmiah, atau sumber lain yang relevan. Mereka juga perlu membaca ulang tulisan yang dihasilkan, memastikan isinya sesuai dengan pertanyaan, dan memperbaiki bagian yang keliru.
Yang tidak kalah penting, mereka harus mampu
menjelaskan kembali isi tugas dengan pemahaman mereka sendiri.
Kebiasaan tersebut perlu dibangun melalui proses belajar, bukan hanya melalui larangan menggunakan AI.
Mahasiswa tetap perlu diberi kesempatan untuk mencoba menjawab pertanyaan dengan pengetahuan yang mereka miliki, menyusun argumen sendiri, dan berdiskusi dengan teman sekelas.
Jawaban mereka mungkin belum sempurna. Tulisan mereka mungkin masih perlu banyak perbaikan. Namun, dari proses itulah mereka belajar mengenali kekurangan, menyusun alasan, dan memperbaiki pemikiran.
Jika setiap kesulitan langsung diserahkan kepada AI, mahasiswa berisiko kehilangan
kesempatan untuk berlatih. Mereka mungkin dapat menyelesaikan tugas lebih cepat, tetapi belum tentu memiliki pemahaman yang cukup ketika harus menjelaskan atau mempertahankan
jawabannya.
Dalam jangka panjang, hal ini menjadi persoalan bagi pendidikan tinggi karena tugas kuliah seharusnya tidak hanya menghasilkan tugas-tugas untuk dikumpulkan saja, tetapi juga membantu mahasiswa mengembangkan pengetahuan dan keterampilan.
Lalu, apa yang perlu dilakukan perguruan tinggi?
Saya pikir salah satunya adalah mengubah cara merancang tugas dan menilai hasil belajar. Jika penilaian hanya berfokus pada tulisan akhir, dosen akan kesulitan mengetahui sejauh mana mahasiswa memahami materi yang dikerjakan.
Tugas dapat dilengkapi dengan diskusi, presentasi, penjelasan lisan, atau catatan singkat mengenai proses pengerjaan dan sumber yang digunakan.
Dengan cara ini, mahasiswa tidak hanya diminta menyerahkan jawaban, tetapi juga menunjukkan bagaimana mereka sampai pada jawaban tersebut.
Dosen juga perlu menjelaskan batas penggunaan AI dalam setiap tugas. Ada kegiatan yang memungkinkan mahasiswa memanfaatkan AI untuk mencari alternatif gagasan atau memperbaiki struktur tulisan. Namun, ada pula kegiatan yang bertujuan mengukur kemampuan
mahasiswa menyusun argument mereka secara mandiri.
Kejelasan aturan akan membantu mahasiswa memahami kapan AI boleh digunakan, bagaimana penggunaannya perlu diakui, dan bagian mana yang tetap harus mereka kerjakan sendiri.
Upaya ini tentu tidak bisa hanya mengandalkan dosen. Perguruan tinggi juga perlu menyediakan pedoman penggunaan AI yang mudah dipahami serta memberikan kesempatan bagi dosen untuk mengembangkan metode pembelajaran yang sesuai dengan perubahan
teknologi.
Literasi AI juga perlu dibahas secara nyata dalam kegiatan akademik, bukan berhenti
pada pelatihan tentang cara menulis perintah atau prompt saja. Mahasiswa perlu belajar
mengenali keterbatasan AI, memeriksa informasi, menjaga integritas akademik, dan
bertanggung jawab atas pekerjaan yang mereka serahkan.
Pembangunan pusat data di Jatiluhur dan penggunaan AI di ruang kelas memang
merupakan dua persoalan berbeda. Yang satu berkaitan dengan pembangunan infrastruktur dan dampaknya, sedangkan yang lain menyangkut proses belajar dan perilaku penggunanya.
Saya tidak bermaksud menyamakan keduanya. Namun, pemberitaan tentang pembangunan pusat data tersebut menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi selalu membawa hal-hal yang perlu dipersiapkan, bukan hanya kemampuan untuk mengadopsinya.
Dalam pendidikan, persiapan itu dimulai dari hal-hal kecil yang dekat dengan keseharian
mahasiswa, misalnya membaca jawaban AI dengan cermat, memeriksa sumber, memahami isi tugas, dan berani menyampaikan pendapat dengan alasan yang jelas.
Di sinilah perguruan tinggi perlu mendukung kebiasaan tersebut melalui pembelajaran dan penilaian yang tepat.
AI pasti akan terus berkembang dan semakin mudah digunakan. Mahasiswa tentu perlu
mengenalinya karena teknologi ini akan menjadi bagian dari kehidupan akademik maupun
pekerjaan mereka.
Namun, kemampuan menggunakan AI saja tidak cukup. Mereka juga perlu tahu kapan harus mempertanyakan hasilnya, kapan harus mencari sumber lain, dan bagaimana menjelaskan keputusan yang mereka ambil.
Kita boleh membangun infrastruktur AI dan memanfaatkan teknologinya untuk berbagai kebutuhan. Akan tetapi, di ruang kelas, keberhasilan penggunaan AI seharusnya tidak hanya dilihat dari seberapa cepat mahasiswa menyelesaikan tugas.
Yang lebih penting adalah apakah mereka benar-benar memahami apa yang dikerjakan. Sebab, pendidikan bukan sekadar membantu mahasiswa menghasilkan jawaban, tetapi juga membekali mereka agar mampu menilai, menjelaskan, dan mempertanggungjawabkan jawaban tersebut. (*)















