KOLAKA, NALARMEDIA – PT Vale Indonesia menunjukkan komitmen terhadap pertambangan berkelanjutan. Bukan sekadar wacana, tetapi ada aksi nyata.
Langkah nyata tersebut diwujudkan dengan peresmian fasilitas pembibitan (nursery) di kawasan Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, Sabtu (28 Februari 2026).
Kegiatan peresmian diadakan di Desa Lalonggalosua, Kecamatan Tanggetada, Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara.
Hal ini menjadi penegasan komitmen perusahaan terhadap praktik pertambangan berkelanjutan dan tanggung jawab ekologis.
CEO PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto menjelaskan, pentingnya keberadaan nursery bukan sekadar pelengkap aktivitas tambang, melainkan wujud keseriusan perusahaan dalam menjalankan kewajiban reklamasi dan rehabilitasi lahan.
“Tidak banyak perusahaan tambang yang memiliki fasilitas pembibitan sendiri. Bagi kami, ini bukan soal gagah-gagahan, tetapi komitmen nyata menjalankan praktik penambangan yang bertanggung jawab,” kata Bernardus.
Lanjut Bernardus, setiap aktivitas pertambangan di kawasan hutan mengharuskan perusahaan mengantongi Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH).
Salah satu konsekuensinya adalah kewajiban melakukan reklamasi dan rehabilitasi, bahkan hingga di luar area konsesi.
PT Vale, kata dia, memiliki komitmen rehabilitasi lahan seluas lebih dari 12 ribu hektare.
“Untuk memenuhi komitmen sebesar itu tentu dibutuhkan upaya luar biasa dan dukungan semua pihak,” sambungnya.
Nursery IGP Pomalaa ini diharapkan tidak hanya mendukung kebutuhan reklamasi perusahaan, tetapi juga memberi manfaat lebih luas bagi pemerintah dan masyarakat.
Ke depan, fasilitas ini dirancang menjadi ruang edukasi keanekaragaman hayati, termasuk kemungkinan pengembangan area pembelajaran bagi pelajar dan upaya pelestarian flora langka.
Sementara itu, Bupati Kolaka, Amri mengapresiasi tinggi komitmen PT Vale yang dinilainya sebagai simbol kolaborasi konkret antara pemerintah daerah, masyarakat, dan sektor swasta.
“Ini bukan sekadar seremoni, tetapi langkah nyata menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan tanggung jawab ekologis,” ucapnya.
Kata Bupati Amri, nursery yang berdiri di dalam kawasan rencana Kebun Raya Kolaka tersebut memiliki kapasitas besar, dengan sekitar 172 ribu bibit berbagai jenis tanaman.
Dari total luasan kawasan kebun raya sekitar 59 hektare, lima hektare di antaranya dimanfaatkan untuk nursery IGP Pomalaa.
Ia berharap kehadiran fasilitas ini menjadi fondasi menuju pengembangan Kebun Raya Kolaka sebagai pusat konservasi flora endemik Sulawesi Tenggara, sekaligus pusat penelitian, pendidikan lingkungan, wisata edukasi, dan konservasi tumbuhan.
“Bukan hanya fisiknya yang kita bangun, tetapi juga transformasi ilmu dan teknologi. Ini harus menjadi pusat pembelajaran dan kebanggaan daerah,” sebutnya.
Bupati Amri juga memastikan pemerintah daerah akan mendukung penuh investasi yang masuk ke Kolaka, termasuk mempercepat proses administrasi dan perizinan sesuai ketentuan.
Namun, ia mengingatkan pentingnya komitmen perusahaan dalam memberdayakan tenaga kerja lokal dan pengusaha daerah.
“Kami membuka ruang investasi seluas-luasnya, dengan harapan tenaga kerja lokal terserap dan ekonomi daerah bergerak. Pada akhirnya, kesejahteraan masyarakat dan peningkatan pendapatan asli daerah menjadi tujuan bersama,” tuturnya. (red)















