Di Pelataran Doa, Ekonomi Rakyat Bertumbuh: Apresiasi Mengalir untuk Langkah BupAAS Berdayakan UMKM Bone

Pengantar jemaah calon haji memadati area UMKM di pelataran Masjid Al Markaz Al Maarif, Kamis (23 April 2026) malam. (Nalarmedia.id)
banner 325x300

BONE, NALARMEDIA — Di pelataran Masjid Al Markaz Al Maarif, suasana tak lagi sekadar tentang perpisahan dan harapan para jemaah calon haji. Seperti yang terlihat Kamis (23 April 2026) malam.

Di antara langkah-langkah pengantar dan doa yang dilangitkan, tumbuh denyut lain—denyut ekonomi rakyat yang hidup, hangat, dan penuh warna.

Langkah yang dihadirkan Pemerintah Kabupaten Bone melalui Dinas Perdagangan menjadi angin segar bagi para pelaku usaha kecil.

Ruang UMKM yang dibuka di lokasi pengantaran jemaah bukan hanya sekadar tempat berjualan, melainkan ruang pertemuan antara kebutuhan, peluang, dan harapan.

Bagi Eka, salah satu pengunjung, kehadiran UMKM di lokasi itu menghadirkan kenyamanan yang tak terduga.

Ia menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat bisa mengantar keluarga dengan tenang, sekaligus menikmati suasana yang lebih hidup.

“Jadi pengantar jemaah calon haji bisa sambil dapat hiburan dan membeli keperluan karena serba ada,” tuturnya, menggambarkan betapa lengkapnya fasilitas yang dihadirkan—dari penjual baju, kuliner, hingga aneka jajanan yang menggoda selera.

Apa yang dirasakan Eka bukanlah hal yang berdiri sendiri. Ia adalah cerminan dari apresiasi yang tumbuh di tengah masyarakat atas kepemimpinan Bupati Andi Asman Sulaiman (BupAAS) dan Wabup Andi Akmal Pasluddin.

Di bawah visi dan misi pasangan yang beken dengan tagline BERAMAL, ekonomi kerakyatan tidak lagi menjadi wacana, tetapi nyata hadir di ruang-ruang publik.

Ketua UMKM La Mesra BERAMAL, Adnan Nur Al Madany, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam.

Baginya, apa yang dilakukan pemerintah bukan sekadar menyediakan tempat, tetapi menunjukkan keberpihakan yang nyata.

“Ini bukan hanya fasilitas, tapi bukti bahwa kami diperhatikan dan diberi ruang untuk tumbuh,” ungkapnya, dengan nada yang sarat makna.

Hal senada juga dirasakan oleh pelaku usaha lainnya, termasuk Owner Roemah ADEEM Bone. Mereka melihat bahwa arah pembangunan di Bone kini tidak lagi hanya berfokus pada beton dan bangunan, tetapi juga pada manusia—pada usaha kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

Di tangan Dinas Perdagangan yang dipimpin oleh Muhammad Rusdi, kebijakan ini menjelma menjadi langkah konkret.

Pemerintah hadir bukan hanya sebagai pengatur, tetapi sebagai fasilitator—membuka akses, memperluas peluang, dan mengajak masyarakat untuk turut berkontribusi dalam pembangunan melalui retribusi yang dikelola bersama.

Momentum keberangkatan jemaah calon haji yang selama ini identik dengan keramaian, kini dimaknai lebih dalam.

Ia tidak hanya menjadi ruang spiritual, tetapi juga ruang ekonomi. Di sanalah, pelaku UMKM menemukan pasar, masyarakat menemukan kemudahan, dan pemerintah menghadirkan solusi.

Lebih dari sekadar transaksi, yang terjadi di pelataran itu adalah perjumpaan antara doa dan usaha. Ada harapan yang disematkan dalam setiap dagangan, ada keyakinan yang tumbuh dalam setiap interaksi.

Dan dari sana, lahir satu pesan yang kuat: bahwa ketika pemerintah dan rakyat berjalan beriringan, maka ekonomi kerakyatan bukan hanya akan bertahan—tetapi akan tumbuh, mengakar, dan membawa kesejahteraan bagi Bone yang lebih baik. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *