MAKASSAR, NALARMEDIA— Tim Penyusun Perangkat Organisasi Forum Perempuan Pemimpin Makassar (FPPM) menggelar rapat koordinasi di Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) Universitas Muslim Indonesia (UMI), Selasa 5 Mei 2026.
Pertemuan ini tidak hanya membahas penyusunan struktur organisasi FPPM, tetapi juga merumuskan arah kerja sama program strategis lintas sektor, khususnya dengan FSIKP UMI.
Rapat berlangsung dalam suasana akademik yang konstruktif dan humanis, menghadirkan unsur akademisi, aktivis perempuan, serta tokoh lintas agama. Fokus utama pembahasan mencakup penguatan kelembagaan FPPM sebagai forum kolaboratif yang mendorong kepemimpinan perempuan berbasis keilmuan, pengalaman sosial, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Sekretaris FPPM, Ir. Setyawati, MT., Ph.D., Asean.Eng dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa Forum Pemimpin Perempuan Makassar (FPPM) dibentuk oleh 10 alumni Pemimpin Perempuan Sulsel yang mengikuti ‘ Australia Award for Muslim Women Leaders Short Course 2017″ di Deakin University, Melbourne, Australia.
‘Forum ini dibentuk, respons terhadap kebutuhan akan ruang bersama bagi perempuan dari berbagai latar belakang akademisi, aktivis, profesional, dan tokoh masyarakat untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah dan mengusung semangat multikuktur, kolaborasi lintas agama, budaya, dan disiplin ilmu dengan komitmen pada pemberdayaan perempuan dan penguatan peran strategisnya di ruang publik, ’ujar Dosen FTI UMI ini.
Sementara itu, Dekan FSIKP UMI, Dr. Hj. Nurjannah Abna, S.S., M.Pd., yang juga pengurus FPPM Sulsel ini mengatakan, pentingnya forum ini sebagai ruang strategis pengembangan kapasitas perempuan secara komprehensif.
Nurjannah Abna menyampaikan bahwa kepemimpinan perempuan kontemporer memerlukan pendekatan multikulturalisme sebagai kerangka strategis dalam pengembangan kapasitas perempuan di berbagai sektor. Pendekatan ini diarahkan untuk mendorong tercapainya kemajuan bersama yang berkelanjutan, yang tidak semata bertumpu pada aspek normatif, tetapi juga diperkuat oleh kompetensi komunikasi, sensitivitas terhadap keragaman budaya, serta penguatan literasi sebagai fondasi utama dalam menghadapi dinamika sosial yang kompleks.
“Forum Pemimpin Perempuan Makassar hadir bukan sekadar sebagai wadah organisasi, tetapi sebagai ruang kolaborasi lintas agama dan budaya yang melahirkan gagasan, kebijakan, dan gerakan nyata berbasis ilmu pengetahuan, nilai kemanusiaan, dan kearifan lokal. Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan memiliki posisi strategis dalam mendukung penguatan tersebut, baik melalui kajian bahasa, komunikasi publik, maupun pendidikan karakter,” ujar Nurjannah Abna.
Lebih lanjut, Nurjannah Abna yang juga alumni Short Course Australia Award 2017 di Deakin University, Melbourne, Australia bersama 9 tokoh perempuan Muslim dari Sulawesi, menekankan bahwa tantangan perempuan di era kontemporer semakin kompleks, terutama dalam menghadapi dinamika sosial digital, transformasi budaya, serta tuntutan kepemimpinan yang adaptif. Oleh karena itu, sinergi antara dunia akademik dan gerakan sosial menjadi kunci dalam membangun model kepemimpinan perempuan yang inklusif dan berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua Tim, Husaimah Husain, SH., M.Hum., yang didampingi Sekretaris Warida, M.Hum., dalam kesempatan tersebut, mengatakan bahwa Tim Penyusun Struktur memiliki mandat penting untuk merumuskan desain organisasi yang adaptif, partisipatif, dan berorientasi pada dampak.
‘Tim ini juga berperan untuk memastikan bahwa setiap program dan kebijakan yang dirancang memiliki landasan akademik yang kuat sekaligus relevan secara sosial, ujar kak Emma sapaan akrab aktivis NGO Sulsel ini.
Lanjut dikatakan, FPPM diharapkan tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga motor penggerak transformasi sosial yang berkontribusi nyata bagi kemajuan perempuan dan masyarakat Makassar secara luas. (rls/red).















