Tak Ada Sekat di Pasar Bakunge, BupAAS Duduk Bersama Warga dan Mendengar Isi Hati Masyarakat

Di sebuah lapak sederhana di Pasar Bakunge, Desa Mappesangka, Kecamatan Ponre, Sabtu (6 Juni 2026), Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman (BupAAS) memilih duduk santai sambil menikmati benno, makanan tradisional khas Bugis yang akrab dengan kehidupan masyarakat pedesaan.
banner 325x300

BONE, NALARMEDIA — Tidak ada podium. Tidak ada kursi kehormatan. Tidak pula suasana formal yang membatasi jarak antara pemimpin dan rakyatnya.

Di sebuah lapak sederhana di Pasar Bakunge, Desa Mappesangka, Kecamatan Ponre, Sabtu (6 Juni 2026), Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman (BupAAS) memilih duduk santai sambil menikmati benno, makanan tradisional khas Bugis yang akrab dengan kehidupan masyarakat pedesaan.

Pemandangan itu sontak menarik perhatian warga. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas pasar, para pedagang, pengunjung, hingga masyarakat sekitar perlahan mendekat.

Bukan sekadar untuk menyapa, tetapi juga menyampaikan berbagai keluhan, harapan, dan aspirasi yang selama ini mereka rasakan.

Dengan penuh perhatian, BupAAS itu mendengarkan satu per satu cerita yang disampaikan warga.

Tidak ada batasan protokoler, tidak ada jarak yang memisahkan. Hanya ada percakapan hangat antara seorang pemimpin dan masyarakat yang dipimpinnya.

Seorang pedagang menyampaikan harapannya terkait peningkatan fasilitas pasar. Warga lainnya berbicara mengenai kebutuhan pembangunan di lingkungannya.

Ada pula yang sekadar mengucapkan terima kasih atas perhatian pemerintah terhadap masyarakat.

Semua didengarkan dengan saksama.

Bagi Andi Asman, mendengar langsung suara masyarakat merupakan bagian penting dari tugas seorang pemimpin. Karena di balik setiap keluhan dan harapan warga, tersimpan informasi berharga yang dapat menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.

“Masukan dari masyarakat sangat penting karena menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun program dan kebijakan pembangunan yang tepat sasaran,” ujarnya.

Kunjungan ke Pasar Bakunge itu sejatinya dilakukan di sela kegiatan jalan pagi yang rutin dilaksanakan untuk menjaga kesehatan.

Namun, seperti yang kerap dilakukannya, kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk menyapa warga dan melihat langsung kondisi kehidupan masyarakat.

Bagi warga, momen itu menjadi pengalaman yang berkesan. Mereka merasa dihargai karena dapat menyampaikan aspirasi secara langsung tanpa harus melalui prosedur yang panjang dan berbelit.

“Jarang ada pemimpin yang mau duduk bersama warga di pasar seperti ini. Kami bisa menyampaikan langsung apa yang kami rasakan,” ungkap salah seorang warga yang ikut berbincang dengan Bupati.

Di tengah kesibukan menjalankan roda pemerintahan, Andi Asman kembali menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu harus ditampilkan melalui ruang rapat atau forum resmi.

Terkadang, secangkir kopi atau seporsi benno di sudut pasar justru menjadi jembatan paling efektif untuk mendengar suara rakyat.

Momen sederhana di Pasar Bakunge itu menjadi gambaran bahwa seorang pemimpin sejatinya hadir bukan hanya untuk memerintah, tetapi juga untuk mendengar, memahami, dan merasakan apa yang dialami masyarakatnya.

Di atas bangku sederhana, sambil menikmati benno bersama warga, Andi Asman Sulaiman menunjukkan bahwa kedekatan dengan rakyat bukan sekadar slogan, melainkan sebuah komitmen yang terus dijaga dalam setiap langkah pengabdiannya untuk Bone. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *